Rumah Emak

Oleh cucu-cucu kecilnya, rumah tempat tinggal emak dalam beberapa tahun terakhir disebut sebagai “rumah berbi”. Rumah itu memang saya antisipasi untuk tempat tinggal emak, khawatir dia tidak nyaman tinggal dengan adik bungsu setelah si adik menikah. Sebenarnya sudah beberapa kali dia bolak-balik ke rumah tersebut. Waktu yang ngontrak agak betah, tinggal selama dua tahun. Sepertinya dia kurang senang. Ini keluar secara tidak sadar dari mulutnya, yg menanyakan berapa lama lagi kontraknya.
Setelah pengontrak terakhir selesai, dengan alasan rumah mau saya renovasi karena sejak jalannya dicor posisinya jadi lebih rendah sehingga perlu dinaikkan. Waktu renovasi hampir selesai, emak saya tawari lagi untuk tinggal di rumah itu. Alhamdulillah dia mau. Saya seneng karena beberapa kali ditawari tinggal sama saya, alasannya rumah saya terlalu sepi. Saya tau alasan yang sebenarnya. Emak masih suka belanja sendiri, masak sendiri dan hobinya yang susah untuk dilarang, masih suka pelihara ayam dan bebek. Ya sudah oleh adik saya diijinkan buat kandang ayam di samping rumah saya tadi.
Ketika biaya rumah sakit perawatan ibu makin membesar, terus terang saya panik. Aset milik ibu, kalo dijual sudah pasti gak cukup untuk menutup biaya; 12 hari di ICU menggunakan mesin nafas buatan, 6 kali HD, belum yang lain-lain seperti obat jantung yang sama (maksud saya sangat mahal). Saya terpikir untuk menjualnya juga. Yang jadi masalah ada perasaan bersalah saya, orangnya masih di RS kok rumahnya mau dijual. Nanti tinggal dimana ? Sebenarnya adik-adik saya sih setujua saja, karena potensi penjualannya lebih cepet. Saya memang ada satu rumah lagi yang mau dijual, tapi karena ukurannya agak besar butuh waktu untuk menjualnya.
Dua hari sebelum ibu meninggal, adik saya ketemu orang yang tanya rumah di sebelahnya; apa dikontrakkan atau dijual. Adik saya bilang tidak tahu. Kalo mau ini ada rumah abang saya, tapi masih ada emak yang tinggal. Waktu ybs menghubungi saya, saya jawab mungkin akan saya jual; tapi saya berharap tidak terjual. Tapi makin hari, dianya nelpon terus. Saya bilang lihat saja dulu. Waktu dia tanya harga, dianya langsung mundur. Ya gak apa-apa. Begini saja saya beri batas waktu sampe 7 Mei 2013. Waktu itu tanggal 1 Mei 2013. Menjelang batas waktu, isterinya yang malah nego dengan saya. Waktu itu, tanggal 3 Mei 2013, ibu sudah tiada. Saya bilang, mungkin gak jadi saya jual karena untuk keperluan ibu sudah tertutup. Harga saya gak turunin lagi. Rupanya, tanggal 6 Mei dia balik lagi lihat rumah lebih teliti. Sorenya, dia sms ke saya kalo tidak melanjutkan transaksi. Saya jawab gak apa-apa. Mudah-mudah ini jalannya. Besok paginya, dia sms lagi. Bilang pak alhmadulillah, saya dapat pinjaman dari kantor. Apa masih bisa dilanjut ? Harga yang bapak tawarkan itu harga bersih, surat-surat saya yang tanggung. Saya bingung kok berubah lagi. Saya jadi mikir, jangan-jangan memang rumah ini harus dijual, ya udahlah. InsyaAllah akan ada jalan bagi usaha selanjutnya. Saya bilang “Silahkan bayar uang tanda jadi”. Sambil bayar uang tanda jadi, disepakati pelunasan akan dilakukan dalam dua termin, dan akan selesai akhir Mei 2013 ini. Oke lah. Mudah-mudahan jadi tambah saudara.
Akhirnya, rumah emak (ini sesungguhnya rumah saya yang tanahnya warisan dari bapak yang luasnya tinggal setengahnya karena saya menggeser-geser tanah adik saya supaya mereka semua nyaman, meski secara finansial saya rugi krn kalau saja tanah warisan saya dibiarkan nilainya kira-kira 35% dari nilai jual rumah ini) terjual. Mudah-mudah ini juga sarana untuk beramal dan menciptakan kesempatan memperoleh rejeki karena rencananya, uang hasil penjualan akan saya belikan tanah, bangun rumah dan jual. “The real cashflow game“.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s