Selamat Jalan Emak; Selamat Jalan Dik Pupun..

Emak

Hari Kamis pagi, 2 Mei 2013, saya tidak bisa ke Rumah Sakit menemui dokter yang merawat ibu karena harus ke kampus untuk upacara memperingati hari Pendidikan Nasional tahun 2013. Selain itu ada beberapa wawancara dan juga ada rapat bidang akademis. Tapi rasanya saya sedih saja seharian itu, terutama karena ada keputusan yang sudah diambil yaitu untuk memindahkan ibu ke ruang isolasi, mengingat sepertinya dokter sudah menyerah. “Hanya do’a dan mu’kizat dari Allah yang bisa menyembuhkan ibu (kita tahu bahwa Mu’jizat itu haknya Nabi dan Rosul; ibu bukan), karena kondisi ibu sudah makin memburuk, jauh lebih buruk dibanding ketika hari pertama masuk ICU, sekarang sudah hari ke-sebelas” itu salah satu penjelasan dokter kepada ketiga adik saya yang sehari sebelumnya ketemu dokter.
Pagi itu memang saya minta ke adik-adik yang sempat ke RS, untuk menemui dokter pada kesempatan pertama untuk menyampaikan keputusan keluarga, yaitu memindahkan ibu ke ruang isolasi. Alternatif lain yang tidak kami pertimbangkan adalah membawa ibu pulang. Tetapi, untuk tetap tinggal di ICU sepertinya tidak ada manfaatnya.
Jam 11an, adik perempuan saya bbm bahwa dokter sudah acc, sudah setuju ibu dipindah ke ruang isolasi; bahkan ruang isolasi sudah oke, sudah tersedia. Tinggal menunggu ibu selesai menjalani HD -Hemodialisis; cuci darah yang ke-enam.
Jam 15an, ketika saya hampir selesai memimpin rapat bidang akademis, adik yang lain bbm bahwa ibu sudah dipindah ke ruang isolasi. Alhamdulillah, semua proses lancar.
Jam 15.30an, setelah solat ashar saya siap-siap pulang, maksudnya untuk menjemput isteri di rumah untuk ke RS. Tadinya isteri merencakan akan ke RS naik motor; tapi karena cuaca mendung, dia pikir-pikir. Saya tawari untuk dijemput, kira-kira jam 17an.
Jam 17 kurang saya tiba di rumah. Di depan, ada Alisha dan Marsya, cucu kami yang kembar, sedang main. Saya temui dulu mereka karena sudah beberapa hari gak ketemu, sibuk mondar-mandir RS. Neneknya juga masih sibuk di dapur. Ada pisang goreng. Wah, kalo minum teh sambil makan pisgor seperti asyik juga. Nanti juga bisa dibawa ke RS sebagai oleh-oleh mereka yang sejak pagi nunggu ibu.
Jam 17.15, isteri saya terima telp langsung bilang “innalillahi wa inna ilaihi roji’un“. Saya gak denger itu telp dari siapa dan berharap bukan dari salah satu adik yang ada di RS. Tetapi telp langsung disodorkan ke saya. Ada suara tangis di ujung sana. Itu suara adik perempuan saya (saya punya 2 adik perempuan dan 7 adik laki-laki). Saya langsung mnegerti apa yang terjadi. Saya cuma bilang “sudah berhentilah menangis, kita kan sudah mengikhlaskan ibu. kita sudah berupaya selama 12 hari dan ibu mendapat perawaratan yang intensif. Abang segera ke RS”. Berunding dengan isteri dan adik ipar yang sedang di rumah, kita sepakat: saya bersama Aldi, tadinya cari Kukun keponakan yang lain yang bisa nyetir, berangka ke RS. Adik-adik yang lain, dan juga Bang Zais, kakak sepupu isteri di rumah untuk menyiapkan tenda dan kursi-kursi dan menginformasikan kepada seluruh sanak keluarga, sahabat dan kerabat yang lain.
Setiba di RS, adik-adik saya sudah cukup tenang. Ada dua adik lelaki, ada dua bibi, adik perempuan ibu, ada Mala dan Iskandar, keponakan dan juga mamanya. Gak berapa lama adik saya yang lain juga datang, masih berpakaian kantor. Urusan administrasi kita proses. Saya dan si bontot ke kasir. Layanan dari kasir sangat simpatik, karena bagaimanapun kami selalu berusaha menutup semua keperluan dan biaya RS, meski kadang agak tersendat-sendat. Urusan selesai, melihat ibu sebentar dan mendo’akan ketika para perawat selesai mengurus ibu. Kepada adik-adik dan juga adik ibu saya sampaikan bahwa jenazah akan disemayamkan di rumah saya. Mereka semua setuju. Lalu dua adik perempuan saya, bersama adik sepupu ibu yang sangat dekat dengan ibu saya minta pulang saja duluan, untuk mempersiapkan hal-hal lain yang diperlukan. Saya menyusul segera setelah mengatur siapa yang ikut ambulan, siapa yang bawa motor dan siapa yang ikut saya.
Jam 19.15 kami meluncur menuju rumah. Di pertigaan Nusantara, saya dapat info dari adik yang di mobil ambulan bahwa mobil jenazah sudah meluncur. Semoga saya tidak ketinggalan karena terhadang kemacetan. Mobol ambulan kan bisa menerobos kemacetan dengan sirene-nya. Alhamdulillan kami sampai duluan di rumah, sehingga bisa menyiapkan banyak hal. Sudah banyak sanak-famili di rumah. Saya tahu mereka semua bersedih, tapi alhmadulillah tidak ada raungan tangis. Ayah saya selalu berpesan “bersedih itu manusiawi, tapi jangan menangis sambil meraung, apalagi sambil merobek-robek pakaian atau berguling-guling”. Tamu, terus berdatanagn, jenazah ibu saya tempatkan di ruang tamu di rumah kami. Sampai jam 01 tengah malam tetamu masih berdatangan; baik tetangga, famili, kerabat dan teman sejawat. Jam 02.00 mulai sepi. Beberapa adik yang sejak beberapa hari sudah lelah, ada yang pulang, ada yang tidur di rumah. Saya mulai mencoba untuk memejamkan mata, sementara masih ada beberapa orang yang membaca al’Quran di ruang tamu. Di luar, di halaman dan di jalan depan rumah sejumlah anak muda berjaga-jaga. Jam 03an saya bangkit dari tempat saya selonjoran, selain ada serangan nyamuk juga tidak bisa dibohongi bahwa saya sebenarnya gak bisa tidur. Lalu saya duduk sambil membaca Qur’an dekat jenazah ibu membujur. Karena mata juga makin berat, sementara saya lupa (ini benar-benar lupa, biasanya kalo saya bilang lupa makan saya tidak ingat sudah beapa kali makan) kalau saya belum sempat makan malam. Obat saya, obat gula dan obat penurun tensi, juga belum sempat saya minum. Lalu saya bunyikan rekaman Alqu’an dengan surat yang panjang, sambil saya dengarkan. Sampai pukul 04.35 mata saya gak bisa terpejam. Ya gimana juga sambil duduk di samping jenazah ibu. Seperti yang lain, yang ada di rumah juga begitu. Anehnya, ketika suara adzan subuh berkumandang saya gak denger sama sekali. Dan jam 05.10 saya baru terbangun, setelah yang lain semua pulang ke rumah masing-masing.

Bunga Uhamka

Rencananya, pemakaman dilaksanakan setelah solat Jum’at di pemakaman keluarga. Kepada pengurus makam kami punya spesial request, yaitu agar makam ibu berdampingan dengan makam bapak. Sementara pelayat berdatangan, tetangga, sahabat, keluarga dan teman sekerja. Teman-teman kerja adik-adik saya banyak sekali. Teman-teman kerja saya di BPPT juga datang melayat. Lebih-lebih teman-teman sekerja di UHAMKA. Di halaman depan rumah ada tiga karangan bunga bertengger. Satu dari Rektor dan Sivitas Akademika UHAMKA; satu dari Program Pascasarjana ISTN dan satu lagi yang paling dulu sampe dari Ella Yulaelawati, teman sewaktu sekolah di Brisbane dan sekarang sebagai salah seorang Direktur di Kemdikbud, yang waktu suami dan ibunya meninggal saya tahunya setelah beberapa hari kemudian. Jam 10.30 acara memandikan selesai disusul dengan acara mengkafani. Sebelum wajah ibu ditutup, kami diberi kesempatan untuk menatapnya untuk terakhir kali. Subhanallah, wajah ibu sangat tenang dengan senyumnya; seolah tanpa derita sama sekali. Semoga itu pertanda khusnul khotimah. Jam 11.30 jenazah ibu dibawa ke Mesjid karena begitu selesai solat Jum”ah rencananya akan langsung diselenggarakan solat jenazah.
Tadi saya pesan ke adik sepupu, ibunya adalah adik ibu, Syaifudin bin Zuhri (saya kira alm. bapaknya mengidolakan menteri agama, Syaifudin Zuhri) biasa dipanggil Pupun agar dia nanti yang memberi sambutan atas nama keluarga. Dia pantas mewakili saya, karena selain sebagai ketua RW dia termasuk salah seorang kader Muhammadiyah, lulusan Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. Pupun juga tidak mau diganti oleh siapapun ketika mengusung jenazah dari Mesjid ke mobil ambulan. Biasanya kita saling berbagai dalam mengusung jenazah. Sharing pahala. Berbagi dalam berbuat baik. Pupun ingin dapat kebaikan yang sempurna; yang lebih banyak rupanya. Dia juga ikut di mobil ambulan agar bisa mengusung langsung jenazah ibu ke makam. Di acara pemakaman, dia juga turun ke lubang lahat; ke lubang kubur untuk menerima jenazah ibu. Saya dengan kondisi yang agak “goyang” tidak berani turun ke liang. Adik saya yang no. 2 yang ikut menemani ibu melakukan ibadah umroh di bagian kepala dan adik yang nomor 5 di bagian tengah, pupun di bagian kaki. Saya tidak melihatnya berganti posisi dengan adik saya no. 6, dan tidak melihatnya lagi setelah upacara selesai. Menurut informasi, Pupun sempat membersihkan makam nenek Salmah, nenek kami, yang kemudian ternyata dia dimakamkan persis di sebelah nenek.
Sepulang dari makam, saya sempat makan siang dan membereskan beberapa hal, sebelum terlelap; mungkin sekitar 30 menit atau lebih. Kira-kira 16.30 adik ipar saya memberi tahu kalo Pupun meninggal. Saya antara percaya dan tidak. Kata Ida, adik ipar yang memberi tahu, suaminya sudah meluncur ke RS Graha Permata Ibu yang jaraknya hanya sekitar 5 menit dari rumah. Saya telp Nasrudin, suami Ida, yang berada di ruang periksa UGD dan membenarkan bahwa Pupun memang sudah meninggal karena serangan jantung. Lemas seluruh tubuh saya. Kematian ibu sudah kami ikhlaskan dan kami sudah siapkan mental sejak dokter menyatakan bahwa tidak ada perbaikan yang signifikan dari upaya pengobatan ibu di ruang ICU di hari ke-10. Kematian dik Pupun sungguh mengagetkan. Bayangkan, orang-orang menyaksikan bagaimana dia memberi pidato sambutan atas nama keluarga, dia mengusung mayat dan masuk ke liang lahat saat pemakaman.
Pelajaran tentang kematian; tidak mesti yang tua (ibu umurnya mungkin sekitar 80an, tetapi di KTP umur ibu 73 tahun) tidak mesti yang muda (di Pupun berumur 50 tahun); tidak mesti yang sakit berhari-hari di ICU, tidak mesti yang kelihatan segar bugar. Dia akan datang bila saatnya tiba. Semoga mereka mendapat kemulyaan di sisiMu ya Allah. Semoga mereka khusmul khotimal. Kami memang terkaget-kaget, tapi kami yakin jalanMu adalah yang terbaik, bagi semua. Selamat jalan emak; selamat jalan dik Pupun.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Selamat Jalan Emak; Selamat Jalan Dik Pupun..

  1. heberon surya putra berkata:

    innalillahi wainnailaihirojiun… semoga Allah SWT, melapangkan kuburnya, menerima semua amal ibadahnya, dan keluarga yg ditinggalkan diberi kesabaran….turut berduka pak….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s