Isolated Room and Minimal Theraphy..

Terus terang, sebagai anak lelaki tertua di keluarga, saya tidak boleh menunjukkan kesedihan saya di depan adik-adik. Kemaren sore, setelah 11 hari ibu dirawat di ICU, keluarga dipanggil. Dua adik perempuan dan seorang adik lelaki saya yang memang sedang ada di RS bertemu dengan salah satu dokter yang merawat ibu. Pagi harinya saya sudah ketemu dengan dokter lain yang memang bertugas di ICU hari itu.
Dokter yang sore itu menjelaskan ke adik saya, meminta maaf tidak bisa memberi informasi yang menggembirakan bagi keluarga. Perkembangan status kesehatan ibu tidak lebih baik, untuk tidak mengatakan lebih buruk, dari kondisi awal ketika ibu masuk. Saya sudah tahu skor APACHE-II dari dokter lain sebelumnya. Keputusan diserahkan kepada keluarga, karena memang obat sudah tidak efektif lagi karena tidak mampu diditribusikan ke jaringan tubuh dengan tingkat infeksi yang sangat berat. Fungsi ginjal, kendati tak lagi diukur kadar creatinine-nya, juga sudah gagal karena tidak ada cairan urine yang keluar sejak berhari-hari. Cuci darah – HD (hemodialisis)- sudah dilakukan 5 kali dan transfusi sudah dua kali. Justru tangan ibu terlihat membengkak.
Alternatif yang kami takutkan, yaitu silahkan ibu dirawat di rumah kami hindari betul. Rasanya tidak kuat menerima kenyataan seperti ini; membiarkan ibu menderita tanpa upaya. Ada alternatif lain, yaitu ibu dipindah ke ruang perawatan dengan minimal theraphy; pengobatan dasar saja. Tapi ada pertanyaan, apakah HD tetap dilanjutkan ?
Semalam, saya dan adik-adik sudah sepakat untuk memindahkan ibu ke ruang isolasi dengan minimal theraphy yang saya tambahkan jika tetap diperlukan dengan HD, HD akan dilakukan. Terus terang ada rasa bersalah atas ketidak mampuan kami melakukan yang terbaik untuk ibu.
Dengan nada kesedihan, barusan saya terima BBM adik saya yang menyatakan bahwa kepindahan ibu ke ruang isolasi sudah di acc dan pemindahannya menunggu selesainya proses HD (cuci darah) ke-enam hari ini.
Ya Allah ampuni kami, keterbatasan kemampuan kami. Ya Allah berikan hal terbaik untuk ibu kami. Mudah-mudahan ibu memahami keputusan yang kami ambil, (termasuk untuk menjual rumah saya yang dalam dua tahun ini dihuni ibu, sendirian). Kalo masih ada asset yang bisa lebih cepat terjual, saya masih akan menunda penjualan asset yang ini. Maafkan kami ibu, hanya sampai segini saja kemampuan kami.
(Saya akhiri saja tulisan ini karena air mata saya tak tertahan untuk tidak mengalir..)

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Isolated Room and Minimal Theraphy..

  1. Johnny berkata:

    Hello! Do you use Twitter? I’d like to follow you if that would be okay. I’m
    definitely enjoying your blog and look forward to new posts.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s