Skor APACHE-II Ibu..

Ini bukan nama suku Indian di Amerika Utara, tapi ini suatu metode analisis keadaan pasien di ruang perwatan intensif (intensif care unit, ICU). Ini singkatan dari Acute Physiology and Chronic Health Evaluation II yang mengkalisikasikan derajat parahnya suatu penyakit. Biasanya diukur setelah 24 jam pasien masuk ICU, diukur dengan skor bilangan bulat, dari 12 parameter, dengan nilai dari 0-71. Makin tinggi skor makin parah kondisi pasien dan semakin besar risiko kematiannya.
Saya merasa dipercaya ketika dokter yang merawat ibu saya memberi tahu skor ini sewaktu menjelaskan kondisi ibu yang sedang dirawat di ICU. Kata dokter, dia belum pernah memberi tahu skor APACHE-II kepada keluarga pasien karena pertimbangan-pertimbangan etika dan psikologi. Mungkin dokter sangat yakin kepada saya berdua dengan adik saya si bungsu. Dokter memberitahu skor ibu saya dan menjelaskan secara umum. Tetapi beliau menyarankan agar mempelajari lebih detil melalui media elektronik. Saya kemudian menelusurinya setelah bertanya kepada “mbah google”.
Sebagai mantan seorang peneliti, saya mulai agak paham apa yang sesungguhnya terjadi pada ibu. Mulanya ibu menderita infeksi yang sangat luar biasa berat. Ini memperngaruhi kerja jantungnya yang memang punya sejarah “bermasalah”. Kerja jantung yang lemah, yang sudah masuk kategori “gagal nafas” berakibat pada menumpuknya cairan sehingga memenuhi rongga yang dada, paru-paru terendam yang berakibat pada makin parahnya infeksi. Beberapa hari dibantu mesin ventilator kerja jantung ibu cuma 33%, selanjutnya infeksi yang tinggi juga berakibat pada ginjal yang tidak bekerja, tidak ada cairan urine yang keluar, liver juga kena; SGPT dan SGOT yang naik sepuluh kali batas normal. Cuci darah, dan juga transfusi kemudian dilakukan. Setelah 10 hari di ICU sudah 5 kali cuci darah dan 2 kali transfusi.
di hari kesebelas, kondisi ibu tidak membaik secara signifikan. Tangannya terlihat membengkak dan lebam pada bagian yang ditusuk jarum infus, mungkin cairan yang tidak bisa keluar atau penumpukan bahan-bahan.
Terus terang, meski kami bertekad semampu mungkin mengobati ibu, sumberdana kami makin hari-makin menipis. Obat-obat sudah mulai dikurangi, tapi harganya tetep aja masih “minta ampun”. Beberapa studi memang mengkorelasikan antara skor APACHE-II dengan LoS (length of stay, lama tinggal) seorang pasien di ICU. Ini artinya semakin tinggi skornya semakin lama tinggal di ruang ICU. Artinya pan makin besar dana yang dibutuhkan; rata-rata sekitar 20 juta rupiah per hari. Lebih serem lagi mengakitkannya dengan probabilitas kematian.
Ya Allah, mudahkanlah jalan kami, berilah keringan derita ibu kami; berilah jalan terbaik baginya sesuai dengan jalanMu. Kami yakin Engkau tidak menguji kami di luar batas kemampuan kami. Perkenankanlah do’a kami ya Allah yang maha mengabulkan segala do’a.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Skor APACHE-II Ibu..

  1. Widjatmiko berkata:

    Aamiin YRA. Semoga ibunda kang Eid diberikan yg terbaik, dan diringankan penyakitnya. Mudah2an kang Eid beserta keluarga besar diberi kekuatan. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s