Menafkahkan Waktu untuk UHAMKA

Sewaktu mendapat kesempatan untuk studi lanjut, saya mikirnya agar bisa menyambung karir di Perguruan Tinggi. Waktu itu saya mengincer Fakultas Ekonomi. Saya pikir banyak Fakultas Ekonomi di Jakarta, mestinya kalau nanti saya punya gelar Doktor Ekonomi tidak akan terlalu susah mencari pangkalan. Sepulang tugas belajar di Australia (Juli 1997), suasana Jakarta mulai terasa dilanda krisis moneter, krismon (IMF Crisis istilah teman-teman Korea). Tentu saja saya belum tau apa tugas belajar saya sukses atau tidak, karena hasil ujian belum ketahuan. Mungkin itu sebabnya saya tidak dapat posisi mengajar di Binus setelah dalam wawancara saya bilang kalo saya belum tau, lulus apa tidak.
Baru menjelang akhir 1997 ada berita dari Office of PostGraduate Studies and Research, University of Queensland bahwa hasil ujian sudah keluar dan para penguji sudah memberikan rekomendasinya. Dua penguji luar, yang ternyata dua-duanya dari Amerika, memberikan beberapa catatan penting mengenai isi Tesis Doktor (di Australia, karya ilmiah baik untuk S2 maupun untuk S3 disebut Tesis). Tetapi sepenuhnya diserahkan kepada penguji internal. Untungnya, penguji internal memberi nilai sangat baik untuk tesis saya; bahkan beliau meminta ijin untuk tidak mengembalikan draft tesis setelah diuji dan bilang akan menunjukkan kepada mahasiswa program doktor di UQ yang bertanya seperti apa tesis doktor itu.
Sayangnya, saya baru bisa komunikasi dengan para pembimbing setelah bulan Februari 1998. Melalui komunikasi internet, berita acara perbaikan saya kirim yang selanjutnya diteruskan ke Office of PostGraduate Studies and Research. Beberapa minggu kemudian, saya dapat e-mail dari Dr. Guy R West, pembimbing saya, yang menyapa dengan Dear Dr. Muchdie. Artinya saya sudah lulus dan berhak menyandang gelar doktor. Melalui kebaikan Akhi Heru Suhartanto (sekarang Prof. Dr. H. Heru Suhartanto, MSc Eng, Guru Besar IlmuKomputer di Fakultas Ilmu Komputer UI) ijazah saya terima di rumah. Enak kan ? Maaf ini hanyasebagai penghiburan karena saya tidak bisa menghadiri wisuda di Brisbane terkait soal nilai tukar. Karena krismon, AUD (dollar Australia) jadi sangat mahal, lebih dua kali lipat dari sebelumnya. Biaya jadi un-affordable; terjangkau.
Setelah Ijazah di tangan, selanjutnya diperlukan penyetaraan agar pendidikan dalam administrasi kepegawaian di BPPT dapat diakui. Prosesnya, waktu itu, masih butuh waktu sekitar 3 bulanan. Ternyata kemudian kurang dari itu. Setelah berkas-berkas dokumen diserahkan, beberapa waktu kemudian saya dapat telpon dari staf di Ditjen Dikti. Saya agak surprise karena sepertinya lebih cepat. Ternyata tidak juga. Sebenarnya, dengan Ijazah Doktor Ekonomi dari University of Queensland Australia saya ditawari untuk bergabung dengan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA) yang akan menyelenggarakan program studi manajemen di tingkat pascasarjana (S2). Dibutuhkan 4 orang bergelar doktor dan 2 orang bergelar magister. Kemudian, dihubungi oleh -dan bertemu dengan- Drs. H. Suradi Suhud, MSi (Pembantu Rektor I) dan Drs. H. Abd Latif Madjid MM (Asisten Direktur Program Pascasarjana, sekarang Prof. Dr. H. Abdul Madjid Latif, MM, MPd) yang selanjutnya malah minta lagi beberapa teman BPPT yang bersedia gabung ke UHAMKA. Kemudian, Dr. Sulaefi, MSc dan Dr. Tatang A Taufik, MSc menyerahkan dokumen-dokumennya. September 1998, Prodi MM-UHAMKA memulai kegiatan akademisnya.
Secara rutin setiap semester, saya terlibat dalam kegiatan perkuliahan yang berlangsung cukup lancar. Angkatan pertama memang cuma belasan mahasiswa, kelas masih kurus. Itu biasa. Angkatan kedua, mulai banyak. Beberapa kelas di buka. Makin lama makin lancar nampaknya. Tahun 2003 walaupun saya mulai sibuk dengan kegiatan-kegiatan utama saya di BPPT, tetapi kegiatan mengajar di MM-UHAMKA tetap saya jalani. Bahkan, saya juga dapat kelas di Prodi Manajemen tingkat Strata-1. Kegiatan mengajar rupanya asyik juga. Selain di UHAMKA, saya sempat mengajar di beberapa Program Pascasarjana, misalnya di PPs-USAHID, PPs-URINDO, PPs-ISTN, PPs-IMNI, PPs-UNB, Bogor dan bahkan sempat mengajar di MMA-IPB. Semula saya mau fokus meneliti dan mengajar saja. Sayang, saya dapat tugas struktural untuk memimpin unit kerja setingkat eselon dua, dan walaupun secara administrative saya terlibat dalam kegiatan penelitian, saya tidak bisa mengakui begitu saja hasil karya teman-teman sebagai karya saya. Saya hanyalah seorang adminstratur. Akhirnya, saya merasa sebagai pekerja serabutan karena harus menangani tugas-tugas manajerial; mengelola ide dan gagasan para peneliti yang mirip-mirip seniman. Akhirnya, saya tidak bisa (punya cukup waktu untuk) membaca, apalagi menulis. Jafung (Jabatan fungsional) peneliti saya diberhentikan sementara (diBSkan) karena menjabat struktural. Tentu saja saya pilih jalur struktural karena tunjangannya jauh lebih besar, selain menjabat kedua-duanya adalah hal yang musykil di BPPT.
Ketika organisasi unit kerja sudah cukup mapan; anggaran kegiatan sudah lumayan, saya pikir sudah waktunya untuk memberi kesempatan teman-teman, kader-kader terbaik BPPT; kader terbaik bangsa untuk menduduki jabatan struktural. Saya berniat untuk kembali ke jabatan fungsional. Dalam satu kesempatan, hal ini saya kemukakan kepada pimpinan. Hampir setahun kemudian, saya diberitahu bahwa permohonan saya disetujui, dalam rapat BAPERJAKAT. Alhamdulillah. Saya bisa kembali ke habitat. Sayangnya, pagi saya diberi informasi, sorenya saya dapat telpon dari Rektor UHAMKA yang meminta saya datang sore atau malam itu ke Kampus Limau. Tentu saja saya gak bisa kalau sore atau malam itu harus ke kampus. Bagaimana kalau besok ? Kepada siapa saya harus menghadap ?
Hari Kamis jam 11 siang saya sempatkan ke kampus Limau. Saya diminta menghadap Asisten Direktur Program Pascasarjana dan Wakil Rektor Bidang Akademis. Setelah saling sapa dan menanyakan kabar masing-masing, intinya saya diminta untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Program Studi Manajemen (S2). Saya tidak serta merta menerima tugas ini karena saya punya rencana untuk melakukan pekerjaan besar; menulis hasil-hasil penelitian menjadi karya tulis ilmiah melalui program post-doc atau sejenisnya. Alasan lain karena saya tidak punya pengalaman memimpin unit kerja akademis, selain status saya sebagai PNS. Masa kan saya mendua. Memang, tugas saya di BPPT sudah disetujui untuk berakhir, tetapi saya kan masih tetap sebagai PNS. Ternyata, ketika SK Rektor yang menetapkan saya sebagai Ketua Program Studi Manajemen diberikan, tugas saya sebagai Kepala Pusat (di BPPT resmi disebut sebagai Direktur) belum dicabut. Barulah pada bulan Agustus 2009, resmi terjadi serah terima jabatan sebagai Kepala Pusat dan saya kembali menjadi pejabat fungsional. Sementara itu, tugas sebagai Ketua Program Studi Manajemen sudah mulai dan terus saya laksanakan.
Desember 2009, saya merasa tidak nyaman untuk terus mendua. Saatnya menetapkan hati dan membulatkan tekad. Waktunya untuk melimpah fungsi secara penuh. Saya pelajari, bagaimana caranya untuk mutasi ke Dikti dan dpk (PNS dipekerjakan sebagai dosen) di UHAMKA. Syarat kritikalnya cuma dua. Ada ijin dari instansi tempat bekerja berupa surat lolos butuh dan ada pernyataan dari Universitas yang akan ketempatan. Surat pernyataan Rektor UHAMKA yang menyatakan bahwa pada prinsipnya saya bisa diterima di UHAMKA sudah saya pegang. Tinggal satu lagi, yaitu surat lolos butuh dari BPPT. Ini benar-benar dilemma. Menurut Biro SDMO, Kepala BPPT akan beri lolos butuh jika ada permintaan dari Depdiknas, sementara Koordinator Kopertis akan memproses jika sudah ada lolos butuh dari BPPT. Untungnya, ada celah, persyaratan dari Kopertis, bahwa surat lolos butuh serendah-rendahnya dari eselon-2. Berarti belum perlu lolos butuh dari Kepala BPPT. Untuk lebih meyakinkan, saya minta dua surat lolos butuh; dari eselon-2 setingkat Kepala Pusat dan juga dari eselon-1; dari Deputi Kepala BPPT.
Ternyata, masih ada satu hal lagi yang menghadang. Di SK pangkat akademis, status saya sebagai dosen tetap. Bagaimana mungkin ? Ya begitulah, ketika adan mendirikan program studi manajemen (S2) memang diproses sebagai dosen tetap. Sejujurnya hal seperti ini harusnya dihindari. Jelas-jelas saya ini PNS, tetapi ketika diminta untuk menandatangani pernyataan bahwa saya adalah bukan PNS, demi Muhammadiyah saya tandatangani juga. Butuh waktu sekitar 3 bulan untuk merubah status dari dosen tetap menjadi tidak tetap.
Juni 2010, rekomendasri Koodinator Kopertis Wilayah-3 sudah keluar dan proses selanjutnya di Sekretariat Jenderal melalui Biro Kepegawaian serta memerlukan rekomendasi Dirjen Dikti (yang butuh waktu 3 bulan), November 2010 sudah ditandatangani. Ternyata betul, surat lolos butuh dari kepala BPPT dibutuhkan dan surat permintaannya sudah dibuatkan sehingga saya tinggal membawanya ke BPPT. Butuh waktu sekitar 3 minggu untuk memprosesnya. Sekarang tinggal lagi rekomendasi dari Badan Kepegawaian Negara. Prosesnya sekitar 3 mingguan sebenarnya, tetapi ternyata ada salah komunikasi. Saya mencarinya di Biro SDMO BPPT dan juga di Biro Kepegawaian Kemendiknas. Ternyata, surat-surat tersebut langsung dikirim ke Kopertis Wilayah-3. Surat dari BKN penting terkait dengan pemberhentian gaji di BPPT dan usulan gaji di Kopertis. Walaupun SK Sekjen Kemendikbud tmt-nya mulai 1 April 2011, gaji di BPPT baru bisa diberhentikan November dan perlu satu bulan sehingga tmt (terhitung mulai tanggal) 1 Desember 2011 secara resmi gaji PNS saya pindah ke Kopertis.
Setelah 6 (enam) bulan menjalankan tugas sebagai Kepala Program Studi, saya diminta untuk mengisi lowongan jabatan sebagai Asisten Direktur Bidang Akademis pada Program Pascasarjana. Saya penuhi panggilan Wakil Rektor-1 untuk memperoleh penjelasan tentang alasan dan prosedur pengajuan ke Majelis Dikti-Litbang (Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan) PP Muhammadiyah. Penjelasan yang masuk akal dan cukup jelas. Tidak alasan untuk menolak, walaupun saya tidak begitu suka. Dan karena saya yakin tidak akan terpilih, saya tandatangani berkas-berkas yang diperlukan. Juga, saya siapkan bahan-bahan untuk uji “fit and proper” di PWM DKI Jakarta. Merasa sangat santai mengikuti uji kelayakan dan kepatutan sebelum direkomendasikan ke Majelis Dikti-Litbang, sehingga proses bias saya ikuti dengan lancar. Bahkan, saya bersyukur bisa bersilaturahim dengan personalia PWM DKI Jakarta. Saya jawab bahwa saya sangat ikhlas jika tidak terpilih untuk direkomendasikan ketika hal itu ditanyakan oleh Ketua PWM. “Alhamdulillah”, tetapi kemudian beliau melanjutkan bahwa saya akan lebih tepat untuk posisi sebagai Wakil Rektor. Saya pikir, ini sekedar menghibur, walaupun bagi saya itu bukanlah hal yang perlu.
Enam bulan kemudian, ketika posisi Wakil Rektor harus diisi, saya termasuk yang disurati oleh Rektor UHAMKA. Ternyata, kata-kata Ketua PWM DKI tidak sekedar menghibur. Tapi saya tidak terlalu tertarik. Ketika kemudian saya konsultasikan dengan para senior di Pascasarjana, semua mendorong saya untuk mengisi fomulir pendaftaran dan bahan-bahan untuk uji “fit & proper”. Suatu hari di bulan Januari 2010, saya hadir di Kantor PWM DKI untuk kedua kalinya. Kali ini terkait posisi Wakil Rektor Bidang Akademis, Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Penjaminan Mutu dan Pencitraan. Walaupun tema yang saya usung untuk mengantarkan UHAMKA menuju Universitas Kelas Dunia (World Class University), pengujian lebih banyak pada Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Alhamdulillah, saya bisa melewatkan waktu dan proses uji keyakanan dan kepatutan sebagai Wakil Rektor dengan rileks dan nyaman. Saya berjanji dalam hati maksimum tiga kali hadir di sini untuk uji “fit and proper”. Selanjutnya, dalam proses ini, saya tidak pernah (dan tidak berniat) sekalipun bertemu Pak Rektor untuk berkonsultasi; apalagi untuk melakukan lobby. Saya pikir, tugas saya selesai sampai memenuhi semua persyaratan yang ditentukan; termasuk uji “fit & proper”.
Saya tidak menghitung secara persis berapa lama jeda waktu sejak uji kepatutan sampai suatu hari ketika saya terima telpon dari Biro Umum UHAMKA yang meminta untuk hadir dalam acara penyerahan SK Majelis Dikti-Litbang PP Muhammadiyah. Tanggal 15 Juni 2010, secara resmi SK Majelis Dikti-Litbang, yang menyatakan tmt 15 Mei 2010 sampai dengan 15 Mei 2014 menetapkan saya sebagai Wakil Rektor UHAMKA Bidang Pengembangan Akademis, Penelitian Pengabdian Masyarakat dan Penjaminan Mutu saya terima. Dan hampir setahun kemudian, tmt 1 April 2011, saya resmi melimpah dari BPPT ke Dirjen DIKTI, ditempatkan di Kopertis Wilayah-3 dan, kemudian, dipekerjakan di UHAMKA. Sejak hari itu saya niatkan seluruh waktu (kerja), saya nafkahkan untuk UHAMKA. Semoga Allah selalu memberikan bimbinganNya.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s