Kamar Kakak-Adik jadi Satu…

Tahun 1997 ketika dua kamar itu dibangun, mereka masih remaja. Kakak kelas 2 SMA dan adiknya kelas 6 SD. Jarak mereka memang cukup jauh, sekitar empat setengah tahun.

Sejak adik berumur sekitar 5 tahun mereka memang sudah tidur terpisah. Kakak waktu itu gabung sama om Bo’im, si adik di kamarnya sendiri, walau kadang di tengah malam diam-diam pindah ke kamar mama.

Waktu di Brisbane, si kakak tidur di kamar belakang, di bawah. Adiknya ada di kamarnya sendiri, sangat kecil mungkin 2 meter kali 2,50 meter. Yang juga kemudiaan diikhlaskan jika ada tamu yang menginap. Waktu itu umurnya baru 67 atau 8 tahun.

Ketika kembali, kakak selalu komentar bahwa rumahnya kecil, kamarnya juga. Sebenarnya tidak juga, karena waktu itu masih ada tiga kamar tidur. Ketika rumah direnovasi, walaupun tidak terlalu besar mereka masing-masing dapat satu kamar tidur. Sementara ada satu kamar lain yang digunakan untuk ruang baca, belajar dan sholat. Lama-lama seperti gudang.

Ketika kakak meninggalkan rumah di tahun 2006, pindah ngekos bersama isterinya, kamarnya masih tetap sering dipake ketika nginap. Biasanya malam minggu, karena Sabtu libur kerja dan minggu malam kembali ngekos; ke tempat kost. Tentu kamar adiknya masih tetap dipakenya, sampai kakak secara “formal” meninggalkan kamarnya, pindah ke rumah mereka; gak jauh dari rumah dimana kamar ini berada.

Adiknya, kemudian pindah ke kamar kakak, mungkin karena fasilitasnya sedikit lebih nyaman dari kamarnya. Dan terus ditempatinya, sampai dia menikah. Sementara kamar yang satunya, menjadi tempat menyimpan dan ruang baca mama. Yang membuat mamanya sedih adalah ketika sang adikpun meninggalkan kamar tersebut. Pindah ke rumah mereka, jaraknya tidak terlalu dekat. Mamanya akhirnya memindahkan segala perlengkapannya ke kamar tersebut. Ada meja belajar dan tentu saja tempat tidur, yang sekali-sekali juga ditidurinya. Rasanya sangat jarang si adik menginap di kamarnya, kecuali kalo hari libur dan suaminya ke luar kota atau lembur.

Ada yang sebenarnya menganjal dihati mama-nya, ketika usia kandungan adik sekitar 30an minggu. Saya sudah menawari untuk tinggal di rumah sepulang dari rumkit sampai usia si bayi sudah puput; luka di pusatnya sudah mengering. Di awal-awal kehamilan jawabannya gak jelas. Sebagai orang tua, kesannya kami seperti memaksa. Sebenarnya kami khawatir tidak bisa menemani si bayi. Apalagi sampai saat ini belum juga dapat asisten, yang nanti akan menjadi bayinya.

Minggu lalu, agak lega rasanya ketika dinyatakan bahwa adik bersedia untuk tinggal di rumah seusai melahirkan di RS. Syaratnya, kasurnya minta diganti karena terlalu keras. Gak nunggu-nunggu minggu berikut, hari Sabtu bertiga langsung ke (maunya ke Home Solution) tempat yang jual perlengkapan rumah. Lihat-lihat…pandang-pandang…tanya-tanya (lebih sering dipersilahkan, sebenarnya), akhirnya deal lengkap dengan tempat tidurnya sekalian. Butuh waktu seminggu untuk delivery karena harus dibuat dulu, katanya. Ok gak apa. Toh kamarnyapun terpikir untuk dirombak. Kamar (bekas) kakak dan kamar (bekas) adik akhirnya diputuskan untuk digabung. Agar lebih leluasa. Lagian, dalam waktu normal rumah ini hanya punya dua penghuni. Kadang si Marva ikut gabung di malam libur.

Emang proses penggabungan belum tuntas; belum finished karena plesteran yang baru diaci gak bisa langsung di cat. Apapun, hari ini dua kamar itu sudah menjadi satu. “Kenapa kamar ini dibongkar?” “Kenapa satu pintunya dicopot?” Tanya Marva berulang-ulang..Dijelaskan sama kakek: “dulu waktu kamu belum ada, kamar ini dipake papa-mu dan juga mama-mu, terus ketika papa dan mama meninggalkan kamar ini, diisi tantemu. Sekarang semua gak lagi di sini, jadi kamarnya dijadikan satu untuk kakek dan nenek”. “Kamar yang depan kek ?” Boleh untuk kamu atau untuk tante dan si kecil kalo mereka nginep“..

 

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s