Diabetes Tipe-2

Pada kondisi normal, kadar gula darah setelah 12 jam puasa haruslah dalam kisaran 90-110.Bila lebih tinggi dari itu kita mesti berhati-hati dengan makanan kita. Kadar gula darah yang tinggi dan berlangsung lama berbahaya, karena akan merusak tubuh: penglihatan, ginjal, menyebabkan gangren dan gangguan kesehatan jantung.

LEMAK
Lemak memang berguna, tetapi kita hanya butuh sangat sedikit. Kandungan lemak pada ‘buah manis matang tak berlemak’ sangat sedikit, dan itu pun sudah mencukupi kebutuhan lemak tubuh kita.
Tubuh yang penuh lemak akan mengakibatkan semua metabolisme terlambat. Lemak berlebih dalam darah akan melapisi dinding-dinding pembuluh darah yang menuju sel-sel pankreas (pembuat insulin), sehingga memperlambat pengiriman gula menuju ke sel-sel tubuh dan akhirnya membuat gula darah tetap tinggi atau bahkan terakumulasi menjadi bertambah tinggi. Lemak mem-blok reseptor-reseptor sel (sebagai sensor penyerapan) sehingga insulin tidak berhasil membawa masuk gula darah ke dalam sel tubuh. Jika tidak ada kelebihan lemak dalam peredaran darah, kadar gula yang tinggi di dalam darah akan segera tereliminasi ke sel-sel tubuh secara cepat dan alami.

Minyak apapun termasuk extract virgin olive oil atau virgin coconut oil, 100% minyak terdiri atas lemak dan hanya lemak. Masakan gorengan dan yang ditumis banyak sekali mengandung lemak.
Perlu mengurangi hingga porsinya tidak lebih dari 5% daripada makanan segar yang kita konsumsi.

Jadi, bila sudah terkena diabetes, sementara kita mengendalikan kadar gula darah dengan obat agar gula darah yang tinggi itu tidak merusak bagian-bagian tubuh yang lain, lakukanlah pola hidup yang benar. Jadikanlah makanan segar sebagai satu-satunya makanan kita agar lemak-lemak yang melapisi reseptor-reseptor sel akan melarut dan hilang.
Sensor-sensor penyerapan gula pada sel-sel tubuh akan berfungsi kembali begitu lemak-lemak itu hilang. Insulin akan dapat membawa masuk gula ke dalam sel-sel tubuh.

PENELITIAN PADA PENDERITA DIABETES
Pada tahun 1999, dengan penelitian bersama antara sebuah kelompok dari Universitas Duke Medical Center, ‘Clinical Diabetes and Nutrition Section, National Institute of Diabetes, Digestive, and Kidney Diseases’13), mendapatkan hasil yang menarik, yaitu bahwa tikus-tikus menjadi sembuh dari diabetes setelah pola makan mereka diubah menjadi pola makan rendah lemak. Pada awal penelitian, 40% kalori yang didapatkannya adalah lemak, lalu diturunkan sehingga maksimum 10% dari kalori yang didapatkannya berupa lemak.

Pada tahun 2006, George Washington University School of Medicine bekerja sama dengan Physicians Committee for Responsible Medicine Washington DC, ‘Department of Nutritional Sciences, Faculty of Medicine, University of Toronto’ dam ‘Clinical Nutrition and Risk Factor Modification Center, St. Michael’s Hospital, Toronto’ melakukan penelitian pada 99 orang yang menderita diabetes tipe-2 yang dibagi dalam dua kelompok pengaturan pola makan yang berbeda, yaitu:
vegan rendah lemak dan yang menerapkan diet ala ADA (American Diabetes Association), Setelah 22 minggu percobaan, mereka mendapatkan bahwa:
a. Kelompok pertama (49 orang) terdiri atas mereka yang hanya makan makanan vegan (tanpa produk hewani sama sekali) rendah lemak (lemak yang didapatkan dari asupan kalorinya tidak lebih daripada 10%). 43% atau 21 orang dari kelompok ini menurun kebutuhannya atas obat diabetes.
b. Kelompok kedua (50 orang) melakukan diet sesuai dengan anjuran American Diabetes Association, yaitu bahwa makanan sehat terdiri atas aneka macam makanan termasuk : sayuran, biji-bijian utuh, buah, produk susu tanpa lemak, polong-polongan, daging tanpa lemak, telur dan produk telur dan ikan. 26% atau 13 orang dari kelompok ini menurun kebutuhannya atas obat diabetes.

SARAN:
Ikuti pola makan segar. Makan lebih banyak buah segar, tak berlemak. Minumlah jus sayur organik segar berwarna hijau. Batasi buah berlemak (durian, apukad, pekan, kelapa tua, santan dst). Sesedikit mungkin makan biji-bijian, kacang dan tepung (grains, seperti : nasi, roti, cake, mi, pasta dsb.). Hindari semua produk hewani. Konsumsi lemak serendah mungkin. Kurangi lemak dari ‘gorengan dan tumisan.

Catatan
GULA PUTIH
Gula putih yang ada di pasaran, juga jenis-jenis seperti stevia, madu, agave, gula perasan tebu dst , indeks glikemiknya tinggi, indeks glikemik beratnya tinggi, tidak mengandung serat, tidak mengandung nutrisi dan tidak mengandung kalori, meningkatkan resiko kanker.
Cake, roti, permen, nasi (walaupun itu terbuat dari beras merah) atau tepung, memberi bonus lemak yang akan menutupi fungsi kelenjar insulin dalam pankreas.
Gula jenis ini akan meningkatkan kadar gula darah, meningkatkan berat badan, meningkatkan pertumbuhan jamur, diabetes. Gula buah tidak menyebabkan semua itu.

KARBOHIDRAT
Sesungguhnya semua karbohidrat dan bahkan juga karbohidrat kompleks akan diubah menjadi gula sederhana supaya bisa dapat diserap tubuh. Oleh sebab itu, perlu mengurangi karbohidrat.

GULA BUAH
Gula buah cepat terserap ke dalam peredaran darah dan banyak orang menyangka penyerapan yang cepat adalah buruk. Begitu gula masuk ke dalam peredaran darah, insulin dari pankreas akan menuju peredaran darah dan kemudian membawa gula dari darah masuk ke sel-sel tubuh. Pada tubuh yang normal dan sehat, gula dari buah akan dicerna, diserap, diasimilasikan dan bahkan akan dihilangkan secara cepat dan mudah.
Gula buah cepat membuat kita merasa terpuaskan dan kenyang/‘wareg’. Hampir tidak mungkin kita menghabiskan 10 pisang atau satu buah nenas matang sekaligus.
Buah manis tak berlemak yang matang dan segar mengandung serat, air, vitamin A, C, E dan berbagai vitamin lain serta juga fitokimia (phytochemicals) dan berbagai antioksidan yang sangat diperlukan oleh tubuh. Buah manis memang mengandung gula sederhana, karena bentuknya sederhana maka tubuh tidak perlu memprosesnya lagi, pencernaan tidak perlu bekerja berat.
Pada orang normal, dilakukan cek darah setelah mengkonsumsi 800 kalori pisang, tidak terlihat peningkatan gula darah yang buruk. Banyak pelaku rawfoodist justru terhindar dari diabetes.

Benarkah bahwa banyak jenis buah memiliki indeks glikemik tinggi?
Benar! Itu artinya, gula buah cepat sekali masuk ke dalam peredaran darah dan meningkatkan kadar gula darah dalam waktu cepat.

Catatan:
Indeks glikemik antara 1 – 55 dikatakan ‘rendah’,
56 – 69 artinya ‘medium’ dan
di atas 70 dikatakan ‘tinggi’.
Nanas, indeks glikemiknya adalah 59.

Yang penting dipertimbangkan adalah berapa lama kadar gula darah itu tetap tinggi dan berapa banyak kadar gula yang masuk ke dalam darah dibandingkan dengan jumlah porsi makanan yang dikonsumsi.
Karenanya, kita perlu menghitung indeks glikemik per beratnya (glycemic load index).

Catatan:
Indeks glikemik berat antara 1 – 10 adalah rendah,
11 – 19 adalah medium dan
di atas 20 adalah tinggi.

Ambil contoh semangka, indeks glikemiknya adalah 72, termasuk tinggi.
Tetapi jika kita hitung nilai indeks glikemiknya dibandingkan dengan berat karbohidratnya (gram karbohidrat tanpa seratnya), kita akan dapatkan bahwa indeks glikemik beratnya hanyalah 4, karena semangka terdiri atas air.

Diambil dari Posting Group di FB:
Diringkas dari informasi

Bacaan selanjutnya:
1) Wild S, Roglic G, Green A, Sicree R, King H,). “Global prevalence of diabetes: estimates for 2000 and projections for 2030”. Diabetes Care 27 (5): 104753. May 2004.
2) http://www.cdc.gov/media/releases/2011/p0126_diabetes.html, Center of Disease Control and Prevention, Press Release, 26 January 2011.
3) There Is a Cure for Diabetes: The Tree of Life 21-Day+ Program [Paperback]
Gabriel Cousens, The 30-Day Diabetes Miracle: Lifestyle Center o… by Franklin House, Creating Healthy Children by Karen Ranzi, Simply Raw: Reversing Diabetes in 30 Days DVD ~ Woody Harrelson,
4)http://www.suprememastertv.com/ina/bbs/board.php?bo_table=featured_ina&wr_id=355&page&sca&sfl&stx&sst&sod&spt
5) N.D. Barnard et.al. “The Effects of a Low-Fat, Plant-Based Dietary Intervention on Body Weight, Metabolisme, and Insulin Sensitivity”, American Journal of Medicine 118: 991-7, 2005.
6) K.F. Petersen et.al., “Impaired Mitcodhondrial Activity in the Insulin-Resistant Offspring of Patients with Type-2 Diabetes”, New England Journal of Medicine 350: 664-71, 2004.
7) K. Sadeharju et.al., “Enterovirus Infections as a Risk Factor for Type-1 Diabetes Virus Analyses in a Dietary Intervention Trial”, Clinical and Experimental Immunologi 132: 271-7, 2003.
8) Scott FW., “Cow milk and insulin-dependent diabetes mellitus: is there a relationship?” American Journal Clinic and Nutrition. 51:489-91, 1991.
9) Karjalainen J, Martin JM, Knip M, et al. A bovine albumin peptide as a possible trigger of insulin-dependent diabetes mellitus. Nwq England Journal of Medicine 327:302-7. 1992.
11) Kuzuya T., “Prevelance of Diabetes Mellitus in Japan Compiled from Literature”, Diabetes Research and Clinical Practice 24: S15-21, 1994.
12) Risérus U, Willett WC, Hu FB, “Dietary fats and prevention of type 2 diabetes”, Progress in Lipid Research 48 (1): 44–51, Janauary 2009.
13) Michael F. Seldin et. Al., “Glycogen Synthase and Diet-induced Hyperglycemia”,’Department of Medicine, Microbiology and Duke University Medical Center, North Carolina’, ‘The Clinical Diabetes and Nutrition Section, National Intitute of Diabetes, Digestive, and Kidney Disease, Phoenix, Arizona’, 1999.
14) David JA Jenkins et.al., “Type-2 Diabetes and The Vegetarian Diet”, American Journal of Clinical Nutrition vol 78 no 3: 6108-6168, Houston, 2003.
15) Gabriel M. Turner-McFrievy et.al., “Decrease in Dietary Glycemic Index Are Related to Weight Loss among Individuals following Therapeutic Diet for Type 2 Diabetes”, The Journal of Nutrition, American Society for Nutrition, Bethesda, 2012.
16) Kate Marsh Ph.D. and Jennie Brand-Miller Ph.D., “Vegetarian Diets and Diabetes”, American Journal of Lifestyle Medicine vol 5 no 2: 135-143, 2011.
17) Jukka Karjalainen et.al., “A Bovine Albumin Peptide as a Possible Trigger of Insulin-Dependent Diabetes Mellitus”, The New England Journal of Medicine vol 327: 302-307, 1992.
18) Nutrition Guide for Life, “Causes of Diabetes”, NutritionGuideForLife.com, 2011.
http://www.nutritionguideforlife.com/causes-of-diabetes.html
19) http://www.simplehealthcures.com/2010/10/22/vaccines-are-one-cause-of-insulin-dependent-children/
20) Robert M. Kradjian, M.D., Breast Surgery Chief Division of General Surgery,“The Milk Letter: A Message to My Patients”, Seton Medical Center, Daly City, USA.
http://www.notmilk.com/kradjian.html
21) ).http://www.gabrielcousens.com/PROGRAMS/REVERSINGDIABETESPROGRAM/tabid/1923/language/en-US/Default.aspx

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s