MUDIK

Makna Lebaran dan artinya bagi masyarakat Indonesia sepertinya gak perlu dijelaskan. Walaupun maknanya yang lebih mendalam, belum sepenuhnya dihayati oleh masyarakat Islam sendiri. Besok, H-3 atau H-4 suasana mudik lebaran mulai pada puncaknya seperti dilaporkan oleh berbagai stasiun televisi .Maksudnya arus terbesar (orang-orang) mudik diprediksi akan terjadi besok malam. Hari inipun suasana padat di terminal dan statsiun kereta api mulai hiruk-pikuk.

Mudik, kembali ke-udik. Tapi banyak orang yang gak suka istilah ini. Lebih suka pulang kampung (sama aja kan) untuk berkumpul dengan sanak keluarga; karib kerabat untuk merayakan hari yang fitri. Hari pensucian kembali setelah sebulan penuh (bener neeh) berpuasa. Tradisi ini kayaknya sudah diterima oleh masyarakat. Walaupun perlu biaya, energi dan waktu, masyarakat kita tetap mudik. Bahkan pemerintahpun berupaya sekuatnya untuk memfasilitasi tradisi ini.

Sebagai (kakek saya yang) orang Betawi tentu kami gak pernah ngerasain repotnya mudik. Kepada temen-teman saya di kantor, saya sering bercanda begini. “Pulang kampung setahun sekali aja segitu repotnya.. Saya nih tiap hari pulang kampung gak repot”. Ya jelas aja. Emang bener, waktu saya kecil ke Jakarta disebutnya ke ilir atau milir. Emang gak dikenal istilah kalo baliknya mudik. Terminologi ini kemudian jadi arah angin. Ke ilir artinya ke utara dan mudik artinya ke selatan.  Ya kalo dipikir-pikir ya artinya emang begitu daah. Milir artinya ke kota, mudik artinya ke kampung.

Ngomong-ngomong soal mudik, dalam arti pulang untuk berkumpul dengan keluarga untuk merayakan Lebaran, saya sebenarnya pernah melakukannya sekali. Bedanya, waktu itu keluarga saya, isteri dan anak lelaki saya tinggal di Brisbane-Australia, sedang saya dan Nissa -anak kedua kami- sedang ada di Jakarta. Saya dalam rangka melakukan riset untuk menyelesaikan Tesis Doktor saya dan Nissa dalam rangka liburan akhir tahun (sebenarnya ada alasan lain kenapa Nissa ikut saya ke Jakarta, sementara mama dan kakaknya tinggal di Brisbane). Dua minggu sebelum lebaran kami kembali ke Brisbane. Itu yang saya maksud dengan mudik. Suasana mudik sudah terasa waktu itu. Ketika ada yang tanya mau kemana, saya bilang mau mudik. Mudik ke Brisbane, Australia. Tentu sambil bercanda.

Soal mudik dalam konteks pulang kampung dan kumpul dengan keluarga, saya kira bukan cuma tradisi Indonesia. Masyarakat yang sudah maju juga punya tradisi seperti ini. Cuma mereka lebih sering dalam rangka liburan, untuk rekreasi. Bukan merayakan tradisi ritual keagamaan. Di Australia pada saat menjelang Natal, masyarakat sibuk juga. Ada yang pulang kampung ke home-town. Ada yang pergi (meninggalkan) kampung.  Transportasi lebih pada dan biayanya juga jadi lebih mahal. Memang gak seperti suasana di Indonesia.Tapi ada esensi yang mirip. Masalahnya, di Indonesia orangnya buannyaak dan sarana-prasarana transportasinya masih terbatas.

Anyway, selamat mudik. Semoga selamat sampe tujuan. Selamat Berlebaran. Selamat Memperoleh Kemenangan (Hanya Bagi yang Menang Puasanya). “Taqobalallohu minna wa minkum“.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s