Ketika (dan sesudah) Nissa Pindah Rumah.

Bungsu kami, yang menikah 18 Juni 2011 lalu memang sudah menyiapkan rumah tempat tinggal mereka. Karena mereka tidak bersedia membangun rumah di lahan yang sudah kami siapkan, kami alihkan sejumlah dana untuk tambahan uang mukanya. Alhamdulillah, ini sepertinya adalah bentuk keikhlasan melepaskan si bungsu ke luar dari rumah.

Nyatanya, enggak juga. Begitu keputusan diambil sepertinya ada yang melayang. Lebih-lebih mamanya. Tetapi, karena semua sudah matang, perasaan dipendam saja dalam hati. Biarkan waktu yang menyelesaikan. Berharap proses pindah bisa diulur-ulur. Saya tau, Nissa maunya begitu menikah langsung tinggal di rumah mereka. Begiotu keinginannya. Mamanya ingin, sebulan dua bulan atau paling itdak nanti sesudah lebaran.

Kami cukup senang karena rumah Nissa dan Denny belum selesai menjelang Ramadhan, sehingga mereka tidak perlu menosongkan kamarnya di bulan ramadhan. Rupanya proses terus berjalan dan rumah mereka sudah siap untuk dihuni.  Perabotan, mesin cuci, kompor, kulkas dan TV sudah dipesan untuk delivery dua hari sebelum ramadhan. Artinya itu sudah ditunda dua minggu. Sekarang rumah mereka sudah siap. Harapan mamanya (yang memang tidak secara jelas-jelas meminta untuk pindahnya nanti saja) tidak menjadi kenyataan. Mereka tetap pindahke rumah mereka, 2 minggu puasa berjalan.

Entah seperti apa rasanya, mamanya gak bisa merasakan. Ketika, tiba waktunya Sabtu 13 Agustus 2011, mamanya berangkat seperti biasa, dengan janji akan pulang lebih cepat. Saya sendiri harus tetap berangkat ke kampus karena ada janji yang harus saya penuhi. Kakaknya baru balas BBM saya hampir jam 09.

Semua proses pindahan lancar. Mereka sewa truk untuk mengangkut 2 lemari, satu tempat tidur, satu meja hias dan beberapa lemari kecil.  Ketika jam 11an saya telpon, mereka sudah dalam perjalanan. Karena pertemuan saya percepat, sayapun bisa meninggalkan kampus lebih cepat. Ketika saya sampe di lokasi; semua barang sudah tiba. Truk yang angkutpun sudah kembali. Masih menunggu barang-barang elektronik yang janji dikirim; mesin cuci, kulkas, AC, TV dan kompor. Kecuali AC, semua langsung diinstall. Masih nunggu satu lagi; sofa sudah dalam perjalanan. Sementara, teknisi AC akan datang besok; tukang gorden juga janji besok.

Cuaca sore itu cukup panas. Setelah sholat ashar saya ambil notebook untuk nerusin pekerjaan sambil menunggu waktu berbuka puasa. Jam 17 lebih sedikit, sofa diantar. Pekerjaan saya tutup. Kemudian, atas inisiatif mamanya kami ke depan untuk cari tambahan peganan berbuka. Yang mau dicari sih sebenarnya sendok untuk minum es kelapa. Tapi yang dibeli bisa berubah, macem-macem.

Sesudah buka puasa, sempat ngobrol-ngobrol dengan keluarga Denny. Sesudah isya, kami (saya dan mamanya) pulang. Kakaknya suami isteri dan keponakannya masih tetap sampai agak sedikit malam. Setibanya di rumah, segala sesuatunya seperti biasa saja. Bedanya, agak sedikit berantakan karena ada bagian-bagian tertentu yang diangkut.

Ketika solat taraweh berdua (kami lebih sering taraweh berdua di rumah karena selalu telat sampe rumah, apalagi banyak acara buka puasa bersama di kampus), sedu sedan sering terdengar diantara satu solat dengan solat lainnya. Sebenarnya sejak selesai solat isya, solat sunah, solat iftitah, dan solat taraweh (yang saya buat dua rakaat-dua rakaat) dan solat witir. Sengaja waktu berdo’anya saya buat agak lama. Tetapi suara itu makin keras dan makin keras. Ketika selesai, saya biarkan dia meneruskan do’anya (tangisnya mungkin lebih tepat). Ketika selesai, sengaja saya tidak membahas apapun. Setelah solat kamipun tidur. Tentu sesudah mengunci pintu-pintu, dengan sedikit beban pikiran karena mobil saya terpaksa di luar karena tempat parkirnya dipake oleh si putih, si Picanto yang baru datang beberapa hari dan disimpan di rumah karena belum punya no pol.

Sudahlah, ikhlaskan kepindahannya (walaupun saya tau sampe besok pagi bahkan sepulang dari mesjid, senguh itu masih terdengar). Resapi benar makna puisinya Khalil Gibran agar hati sedikit terhibur :

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu/Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri/

Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu/Meskipun mereka ada bersamamu, tetapi mereka bukan milikmu/ Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tetapi bukan pikiranmu/Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri/Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka/Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok yang tak pernah dapat engkau kunjungi, meskipun dalam mimpi/Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu/Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu/

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan/Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh/Jadikanlah tarikan sang pemanah itu sebagai kegembiraan/Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan ”.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s