Mengalir Bagai Air : Catatan Seorang Antimewan

Running water doesn’t flow back,  so does life. Make it happy, enjoy every moment of your life, Happy birthday…., sent by Elly, 2010-2010.”

Suer, saya gak tau mo kemana setelah lulus SMA. Seperti kebanyakan anak-anak, kalau ditanya apa cita-citanya, biasa menjawab ingin jadi dokter atau jadi insinyur.
Jadi dokter ? Sempet juga membayangkan, tapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia rasanya seperti “rimba raya” buat saja. Pernah mencari informasi tentang Fakultas Kedokteran Universitas YARSI di Jakarta Pusat. Tapi saya tidak lanjuti karena mempertimbangkan biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan studi dokter. Belakangan saya tahu, untuk jadi dokter, apalagi dokter spesialis lebih mengerikan lagi. Ya sudah, “forget it”. Keputusan ini enteng aja saya ambil.
Saya pernah membaca di papan pengumuman sekolah bahwa untuk mendaftar kuliah di IPB cukup mengirim uang Rp. 2.500,- melalui wesel pos ke alamat PPMB (Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru. Itu yang kemudian saya lakukan. Tiga minggu kemudian, saya diberitahu Pak Nata (Guru saya di SMP) bahwa ada surat nyasar di sekolahnya yang ditujukan ke saya. Ternyata, berkas itu adalah formulir pendaftaran. Sebelum saya isi formulir itu, saya konsultasikan ke Pak Djafar (Drs. Djafar Komarudin), wali kelas kami di Kelas 3 Paspal SMA Negeri 28 Jakarta. Beliau menyebut jurusan Agronomi dan Teknologi Hasil Pertanian sebagai program studi yang sebaiknya diambil. Tetapi, sesungguhnya Beliau lebih menyarankan untuk melanjutkan studi ke Jurusan Akuntansi karena masa depan Sarjana Akuntansi lebih menjanjikan. Waktu itu, saya sama sekali tidak menyambut saran Beliau; cenderung mengacuhkannya. “Anak PasPal kok, masuk ekonomi” itu arogansi pikiran saya. Kalo gak bisa jadi dokter, jadi insinyur aja deh, insinyur pertanian juga gak apa. Akhirnya, saya isi dan kembalikan formulir pendaftaran tersebut dan beberapa minggu berikutnya saya mendapat panggilan untuk menempuh ujian saringan masuk IPB, yang kemudian saya dinyatakan diterima sebagai anggota keluarga mahasiswa IPB, dengan NRP 11.199 (setelah pindah ke Fakultas, jadi F11.199) ditempatkan di Kelompok-3 dan Ruang Fisika sebagai tempat kegiatan utama perkuliahan.
Saya memahami cultural shock yang mungkin dialami teman-teman yang datang jauh dari pelosok nusantara. Saya, yang tinggal tidak terlalu jauh dari kota Bogor bahkan masih masuk dalam wilayah Kabupaten Bogor, juga mengalami kekagetan hidup terpisah dari orang tua. Di awal-awal, saya tinggal di rumah paman (adik sepupu Ibu) di sekitar Jln. Dadali, Tanah Sareal. Tidak dekat, tapi sangat membantu katimbang tinggal di Depok yang sarana transportasinya masih tergantung kereta api. Apalagi di saat-saat POSMA, yang membuat saya harus jalan kaki bolak-balik ke kampus Barangsiang. Untuk tidak terlalu mengganggu keluarga paman, saya akhirnya mencari tempat tinggal di sekitar Jln. Gn. Gede (di Babakan Gn. Gede), bersama Bambang Bachtiar dan Oyo Sunaryo, yang baru saling kenal karena sama-sama warga Kelompok 3. Juga ikut bergabung Eman Sulaeman, yang sudah RCD dari Fakultas Kehutanan yang temannya Bambang. Proses adaptasi dalam kehidupan sebagai mahasiswa terus berlangsung. Eman menghilang entah kemana, dan beberapa bulan kemudian Oyo cabut diri, pindah ke Sukasari. Saya tinggal di kontrakan tersebut cukup lama, dua tahun lebih, sebelum akhirnya pindah ke Wisma Raya. Teman saling berganti. Yoyok (Sumarto Puspowardojo, Antimewan juga) sempat bergabung sebelum kemudian pindah lagi dan ketemu lagi di Wisma Raya. Hernowo dan Agus Sutedjo (bukan hanya Antimewan, tetapi juga sesama Alumni SMAN 28 Jakarta, yang juga para penyandang gelar RCD) sempat bersama dan melanjutkan tinggal di sana.
Setelah sempat mendapat gelar recidivist, RCD, saya akhirnya melewati masa kritis di tingkat persiapan. Kata Paman saya, “sudah lolos lubang jarum”. Saya sempat mikir kenapa yang tinggal kelas mendapat gelar yang begitu serem. Tidak naik tingkat dianggap melakukan “kejahatan” karena dianggap “merampok” kesempatan bagi generasi berikutnya. Kalo begitu, atas nama semua RCD saya mohon maaf. Tidak ada maksud untuk “merampok”, itu semata-mata hanya ketidakmampuan kami untuk melewati masa-masa yang sulit. Di awal masuk kuliah, saya sempat terpikir untuk memilih Prodi Manajemen Hutan di Fakultas Kehutanan. Mungkin pengaruh waktu Posma (yang rada ”dipaksa” ngaku untuk mengaku memilih) Fahutan dan juga sering mendengar ceritra-ceritra Bambang, yang kakak kandungnya Alumni Fahutan. Tapi, ketika saatnya memutuskan, saya berubah. Emang, keputusan ini tak saya diskusikan secara tuntas dengan kedua orang tua saya, karena menurut mereka sayalah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk saya. Sama ketika saya melaporkan ke Ayah saya waktu saya tidak naik tingkat. Ayah cuma bilang : “ada saatnya orang mengalami kegagalan, tapi ia harus belajar dari kegagalan itu”. Mungkin karena trauma dengan Mata Kuliah Biologi, yang “menganugerahi” saya gelar RCD, atau mata kuliah Kimia,  akhirnya saya memutuskan untuk memilih Mekanisasi Pertanian, jurusan yang mahasiswanya kebanyakan cowok. Keputusan ini mengalir begitu saja.
Perkuliahan banyak dilakukan di Kampus Gn. Gede, tetapi praktikum pada sore harinya di Kampus Dramaga, kebun karet yang sepi dimana waktu itu hanya Fahutan yang berdomisili di sana. Oleh karenanya tiap sore, Senin-Jum’at kami biasa bergelayutan di truk yang menjemput dan menggantar kami. Mungkin karena semuanya cowok jadi kompak banget, seperti teman-teman Fahutan yang selalu kompak ketika ada acara-cara di “kota”. Hal sama saya rasakan setelah pindah ke asrama Wisma Raya, sebuah rumah tua di Jln Juanda 41 Bogor, yang sekarang sudah berganti wajah. Sesama penghuni saling kompak. Seperti saudara. Di asrama, seperti ada “kebebasan” menyalurkan ekspresi dan ketegangan kuliah dan praktikum dengan berteriak-teriak di lapangan belakang asrama, sambil bermain voli. Bahkan, ketika di ruang tengah sekalipun ketika nonton televisi bersama-sama. Atau ketika makan martabak sama-sama, kadang sambil teriak : “martabaaaaaaak……….”.
Banyak belajar dari sesama teman, bahkan dari Bibi dan Mamang yang mengurus asrama. Teriakan dan rebutan martabak ketika ada penghuni baru atau ada alumni yang berkunjung memberi pelajaran tersendiri. Gak usah rebutanlah karena dengan rebutan akan sia-sia. Gak ada martabak yang bisa dinikmati karena semua hancur luluh berantakan, meski masih panas sekalipun. Akhirnya malah cuma si Broni yang menikmatinya. Asrama, menjadi tempat belajar, belajar dalam mempersiapkan kehidupan. Bisa sambil main karambol atau berdebat, bahkan sering sambil curhat, bisa sepanjang malam. Hidup mengalir begitu saja. Benar-benar merdeka.
Alhamdulillah, walaupun awalnya sempet tertinggal 2 semester, saya bisa selesai kuliah dan diwisuda bulan April 1979. Hanya tertinggal satu semester dengan teman-teman Antime. Ini tidak lepas dari peran pembimbing utama saya, Pak Sis (Prof. Dr. Ir. Siswadhi Soepardjo, almarhum -semoga Allah memberikan kelapangan kepada beliau di alam kubur) yang selalu memfasilitasi proses belajar siapa saja, termasuk saya, karena Beliau Ketua Departemen. Suatu ketika, saya ikut terlibat dalam pengolahan data proyek penelitian. Di sebuah rapat tim, Pak Sis agak kaget melihat saya datang. Beliau mengira saya datang untuk konsultasi. Beliau sangat memahami kalau saya memang butuh dana tambahan untuk menyelesaikan tugas akhir. Oleh karenanya, di sela-sela pertemuan tim, beliau berpesan bahwa tugas akhir tetap harus menjadi prioritas. Beliau menyediakan sebuah ruangan khusus di Departemen untuk mereka yang sedang menyelesaikan tugas akhir.
Proses administratif dalam mempersiapkan ujian sidang, lumayan menguras waktu. Saya beruntung dengan kebaikan teman se-asrama, warga Wisma Raya dan teman “seperjuangan” lainnya. Soekamto (alm), misalnya, sering dengan rela meminjamkan motornya untuk saya wara-wiri dalam menyelesaikan hal-hal administratif, terutama ketika waktu sangat mendesak. Dan, Alhamdulillah, kemudahan saya peroleh ketika ujian sidang tugas akhir. Teman-teman lain, melewatkan waktu dalam ketegangan rata-rata sekitar dua jam. Saya, hanya butuh waktu kurang dari satu jam, sekitar lima puluh lima menit. Ini semata-mata karena pertolongan yang Maha Menolong. Momentumnya waktu itu, Departemen Mekanisasi Pertanian sedang punya hajat. Selain ujian sidang beberapa mahasiswa, ada juga seminar dan penandatangan MoU (apa ya saya lupa). Pak Sis selaku Ketua Departemen mempunyai waktu yang terbatas dan kalo gak salah minggu depannya Beliau harus ke Luar Negeri. Kemudahan ini mengalir begitu saja. Begitu entengnya. Begitu mulusnya. Saya jawab semua pertanyaan, mengalir begitu saja. Terima kasih, engkau Maha mengentengkan segala urusan.
Setelah lulus dan wisuda, saya ikut terlibat dalam proyek survei listrik pedesaan yang lokasinya di Bogor, yang dipimpin Pak Nirwan (Ir. Nirwan Siregar) dosen mata kuliah Network-Planning, satu mata kuliah favorit saya, selain mata kuliah Engineering Economics-nya Bang Kohar. Menjalani hal ini, saya sih sebenarnya enjoy aja karena sambil menunggu panggilan atas beberapa lamaran yang saya kirim, diantaranya ke beberapa PT Perkebunan Negara. Tapi, saya membaca semacam kekhawatiran Ayah saya. Sudah tiga bulan setelah wisuda kok masih nganggur. Di sekitar bulan Juni- Juli saya dipanggil seleksi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Waktu itu, dua eks penghuni Wisma Raya, Fuadi Rasyid dan Aunur Rofiq sudah bekerja di BPPT. Proses seleksinya, rupanya tidak massal. Setiap bulan ada ujian seleksi, berupa ujian tulis psiko-test dan wawancara dan dilanjutkan job-test. Ujian tulis dan wawancara psiko-test saya jalani tanpa beban. Dari 22 peserta yang test pada waktu itu, hanya Sulaefi (sekarang Dr. Ir. Sulaefi, MSc, warga Antime juga) dan saya yang dinyatakan lolos untuk tahap berikutnya. Ansari, teman seasrama Wisma Raya, alumni THP F12, tidak termasuk yang lulus. Ternyata, ini menjadi hikmah bagi Ansari karena kalo dia juga lulus, mungkin dia tidak akan pernah menjadi pejabat eselon satu di Departemen Perindustrian. Siapa yang tahu perjalanan hidup seseorang. Biarkan dia mengalir seperti kehendakNya. Tugas kita sebagai makhluk hanyalah merencanakan dan mempersiapkan serta menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Begitu yang sering saya dengar. Setelah melalui serangkaian job-test, membuat paper dan mempresentasikannya, proses menjadi pegawai negeri sipil di BPPT selesai dan saya mulai bekerja pada tanggal 15 Agustus 1979, pada Direktorat ORSA (Operation Research and System Analysis).
Kehidupan kerja sepertinya tidak banyak berubah dari kehidupan selama di asrama. Di unit ini layaknya seperti sebuah Tim saja karena dalam pelaksanaan kegiatannya berbasis proyek. Anggota Kelompok Pengkajian Sistem Pedesaan didominasi oleh para alumni IPB dan UI. Awalnya, selain saya dan Sulaefi, ada Soleh Iskandar (alm, yang juga Antime), Hariadi Wardi (A10), Anton Gunarto (A10), Iding Chaidir (C12), Yanto Tatang Rahardja (D12) dan terakhir Tri Djoko W (A13). Dari UI ada Hari Kartono, Prayitno R, Herman Darmo dan Djuwita A Yani. Dari UGM kemudian ada Maryadi dan Maridi, yang suatu saat jadi merk kami bertiga 3Mdi karena sering jalan bersama. Satu-satunya Antropolog dari Unpad (Soesmarkanto). Tim ini dipimpin oleh Pak Dradjat ANS, mantan Bupati Wonosobo yang juga Dosen Matematika ITB dan wakilnya, Pak Darwin. Kemudian, dalam perjalanannya, Hariadi, Anton dan Tri Djoko gabung ke Tim Pangan. Hari minta lolos butuh, Pak Dradjat kembali ke ITB dan Pak Darwin mengundurkan diri. Mbak Djuwita juga gak terus karena lebih memilih tempat lain yang bisa lebih dekat ke anak-anaknya. Tim kemudian dipimpin oleh Prayitno, yang kemudian mundur ketika Direktorat ini dipimpin oleh Pak Billy (Prof. Dr. Satryo Budihardjo Joedono, Guru Besar UI, kemudian Menteri Perdagangan dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan). Herman juga mundur bersama Prayit yang gabung dengan Kompas Group. Saya tetap bertahan di Unit ini dan mendapat tugas-tugas yang cukup mengasyikan terutama selama kepemimpinan Pak Wardiman (Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro, yang kemudian menjabat sebagai Mendiknas). Proyek Pilot Plant Ethanol di Tulang Bawang Lampung yang dipimpin Pak Wardiman jadi bahan Tesis Magister saya di Jurusan Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD)-IPB.
IPB menjadi Almamater kedua saya, ketika saya memilih Jurusan PWD untuk studi Program S-2, setelah berkonsultasi dengan Pak Kamarudin (Prof. Dr. Kamarudin Abdullah) yang waktu itu Wakil Direktur Pascasarjana Bidang Akademik. Ini juga keputusan yang mengalir begitu saja. Tanpa persiapan. Dan gak pernah kepikir untuk sekolah sampe jenjang S-2. Mulanya, saya dapat informasi dari Bambang Haryanto (warga Antime juga tapi di Unit lain di BPPT) bahwa ada beberapa bea-siswa untuk kuliah Program S-2 dalam negeri yang belum termanfaatkan. Saya gak tau, apa karena gak pada lulus test atau emang masih keasyikan kerja seperti saya. Saya lalu menghubungi Kepala Pusdiklat dan minta informasi soal bea-siswa dalam negeri. “Pokoknya, kalau Sdr diterima di suatu Program Studi dan menunjukkan surat penerimaan, akan diproses. Tanpa ditest lagi” begitu penegasan KaPusdiklat.
Bersama Yanto Tatang, berangkatlah kami ke IPB setelah sebelumnya kontak Pak Kamarudin. Saya mendapat kemudahan berkomunikasi dengan Beliau, karena karena ketika Beliau gabung ke Departemen Mekanisasi Pertanian, sepulangnya dari Jepang, saya sempat menemani Beliau selama satu semester sebagai asisten mata kuliah Mekanika Fluida. Tak sampai satu jam, sejak saya menghadap Beliau, Surat Penerimaan sebagai Mahasiswa Pascasarjana IPB sudah ditangan. Kalau enggak salah ingat itu hari Selasa akhir Agustus 1983. Senin depannya kegiatan perkuliahan sudah dimulai. Saya lapor ke Pak Sulaeman (Ir. Sulaeman Wiriadidjaja, Direktur ORSA setelah Pak Billy) ditemani Pak Komar. Beliau mengijinkan dan cuma mensyaratkan satu hal; pekerjaan yang saya tangani harus ada yang melanjutkan. Saya lembur beberapa hari untuk menyelesaikan tugas-tugas dan mengalihkan kepada yang ditunjuk serta mengurus administrasi untuk memperoleh bea-siswa. Seminggu kemudian, saya sudah mengikuti kegiatan perkuliahan di Pascasarjana IPB. Satu jalan hidup yang tidak saya rencanakan sebelumnya, bahkan satu bulan sebelumnya pun saya belum terlintas dalam pikiran saya.
Selama mengikuti program, saya hidup menglajo, didugdag, bolak balik, Depok-Bogor. Sungguh nikmat melawan arus. Maksud saya, perjalanan berlawanan arah dengan kebanyakan orang. Pagi hari, sementara segerombolan orang menuju Jakarta, saya menuju Bogor. Sebaliknya, terjadi pada sore hari. Sering, jam setengah tujuh pagi saya sudah sampe di Kampus Barangsiang dan jam tiga siang sudah di rumah. Karena, si Sulung sudah berumur sekitar tiga tahun dan saya juga terlibat beberapa kegiatan kemasyarakatan, jadual saya atur dengan baik, terutama terkait tugas-tugas kuliah. Selama di perjalanan, baik pulang maupun pergi bisa dimanfaatkan untuk membaca. Sepertinya gak ada tugas-tugas yang terbengkalai. Semua masih “under control”. Dari 12 peserta program, ada dua orang yang sebenarnya peserta program S-3, kami sangat kompak dalam menempuh proses pembelajaran. Selesai kuliah jam 11an, dilanjut dengan diskusi sambil makan siang, atau menyelesaikan tugas-tugas, sampai jam sekitar 13an. Teman seangkatan datang dari berbagai Perguruan Tinggi. Ada dari Menado (Pak Benny, UNM), Malang (Pak Sasongko, UB), Semarang (Pak Sugiyanto, UNDIP), Bandung (Pak Tonton, UNPAD), Jakarta (Pak Hari dan Pak Sitorus, UI) dan Bogor (Pak Rudi, PAE dan Pak Sudaryanto, IPB).
Setelah kegiatan perkuliahan selesai, saya lanjutkan dengan proyek tesis, yang Alhamdulillah cukup lancar karena menggunakan data dari Proyek yang ada di BPPT. Tentu atas ijin Pak Wardiman dan Pak Satari (Prof. Dr. Ir. A.M. Satari, mantan Rektor IPB dan Deputi Kepala BPPT). Di bawah bimbingan Pak Lutfi (Prof. Dr. Ir. Lutfi Ibrahim Nasoetion yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pertanahan Nasional), wak Isang (Prof. Dr. Ir. Isang Gonarsyah, senior waktu di Wisma Raya) dan Pak Bambang (Ir. Bambang S Utomo, MA), pertengahan Desember 1985 materi Tesis telah “sukses” saya sampaikan dalam Seminar Mahasiswa Pascasarjana. Sukses artinya, jadual Seminar tidak molor seperti kebanyakan mahasiswa pasca karena berbagai alasan. Indikasi lain adalah ketika Pak Lutfi “tidak menyerang balik” penanya membela saya dalam menjawab pertanyaan peserta seminar. Begitu juga waktu ujian sidang Tesis, sebulan kemudian. Semua sesuai dengan jadual. Semua lancar, semua mengalir dengan tenang. Seorang staf administrasi di Program Pascasarjana komentar, nadanya seperti do’a syukur, “Alhamdulillah pak Muchdie, jadual Ujian Sidang Bapak tidak diundur” karena sering kali karena berbagai alasan ujian sidang tidak dapat dilaksanakan, karena pengujinya tidak bisa lengkap. Seminggu setelah ujian sidang, saya bertemu dengan Pak Lufti untuk minta tandatangan. Beliau komentar : “jadi Anda yang pertama lulus ?  Masih banyak senior Anda yang belum lulus”. Alhamdulillah, engkau berikan segala kemudahan buat saya ya Allah.
Seminggu setelah seminar tesis kami mendapat hadiah, anugerah dan amanah dengan lahirnya anak kami yang kedua. Seorang bayi perempuan, yang kemudian menjadi si Bungsu. Persiapan ujian sidang dan penyambutan kelahiran bayi berjalan begitu alamiah . Mungkin ini karena anak yang kedua. Sudah ada pengalaman sebelumnya. Semua berjalan begitu saja. Mengalir dengan tenang, Lengkaplah sudah kebahagiaan kami. Terima kasih ya Allah.
Balik ke kantor, ke BPPT saya membuat laporan tertulis sesuai persyaratan yang diminta ketika menandatangani bea-siswa. Ke Pak Wardiman, yang waktu itu menjabat sebagai Deputi Administrasi, laporan saya bawa langsung. Beliau bertanya soal kemampuan Bahasa Inggris saya. Saya jawab blepotan, maksud saya parah. Beliau langsung perintahkan ikut placement-test, agar bisa kursus Bahasa Inggris. Waktu itu Kementerian Negara Riset dan Teknologi sudah dua tahun melaksanakan Overaseas Fellowship Programme, dengan dana dari World-Bank. Pengelolanya BPPT, dipimpin oleh Pak Wardiman. Saya sendiri rasanya gak siap untuk ikut program tersebut , tetapi temen-temen saya sudah ikut semua. Kantor juga sepi. Pak Komar (Drs. Komarudin, MA), Direktur kami juga ikut. Sambil menunggu proses seleksi, saya belajar Bahasa Inggris yang diadakan Pusdiklat dan karena di Unit kami ada seorang Guru Bahasa Inggris, Pak Kirso (Drs. Sukirso, yang mutasi dari Pusdiklat), tiap pagi kami belajar dengan beliau.
Setelah lulus seleksi sebagai peserta OFP-III, saya kemudian ikut kursus Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh School of International Training (SIT). Tiga bulan kursus, TOEFL saya cuma nyampe 497 kurang tiga point dari batas yang ditetapkan waktu itu. Kursus masih berlanjut karena batas FOELnya dinaikkan jadi 525. Test kedua, angka saya juga gak memenuhi persyaratan, cuma dapet 520. Saya terpaksa beristirahat, karena kata dokter saya kena “hepar inpectious”. Saya tau ada beberapa teman yang berkali-kali ambil test, tetep aja angkanya gak nyampe 500. Ini sedikit menghibur. Baru pada test ketiga, setahun kemudian, saya bisa tembus 550. Tetapi tetap gak pede. Ini, kemudian, ternyata sebagai signal bahwa ini bukan jalan hidup yang terbaik. Ada jalan lain yang lebih “mulus”.
Sudah diterima di Rutger University di New Jersey (bahkan sudah kontak beberapa teman yang sudah di sana), juga di Kansas State University tapi akhirnya diproses ulang dan nyangkut di TAMU (Texas A&M University). Saya sih pengennya di Cornell University, tapi ngak bisa memenuhi persyaratannya. Bukan hanya persyaratan akademik dan bahasa, tapi juga tuition-feenya, sesuai syarat OFP. Di TAMU sudah ada beberapa teman BPPT, termasuk OFP-Undergraduate students. Proses penyesuaian tidak terlalu sulit, walaupun ini perjalanan saya pertama ke luar negeri. Di sini, dunia benar-benar “terbalik”, dengan selisih waktu 13 jam. Jam 8 malam di College Station, saat yang sama jam 7 pagi di Jakarta. Begitu juga dengan di jalan, di Jakarta kita jalan di sisi kiri, di sono di sisi kanan. Di Jakarta, stir mobil ada di kanan, di Texas ada di kiri.
Waktu saya datang di College Station, Nur (Dr. Ir. Nur Mahmudi Ismail MSc, pernah menjabat sebagai Menteri Kehutanan dan Walikota Depok, eks penghuni Wisma Raya, adik kelas di Fatemeta) dan teman-teman sangat membantu, terutama untuk mencari appartement dan banyak hal lainnya. Sayang, di semester kedua saya ada masalah. Profesor yang saya incer untuk jadi pembimbing ternyata siap-siap pindah ke Universitas lain karena sudah beberapa semester mata kuliahnya (terkait Kemiskinan dan Pembangunan Pedesaan) selalu dibatalkan karena jumlah mahasiswanya kurang dari sepuluh. Saya diberi penasehat akademik yang kompetensinya berkaitan dengan mitigasi bencana. Sesuatu yang jauh diluar jangkauan dan minat saya. Akhirnya, saya usul untuk pindah. Kendalanya, terutama tuition-fee ya ng gak boleh lebih dari US $ 5.000 per semester. Penn State University yang sudah nawarin, tuitionfeenya sekitar US $ 13.000,- per semester. Setelah berkonsultasi dengan Jakarta, saya putuskan untuk pulang dengan segala resikonya. Bukan resiko finansial karena, misalnya, saya malah dapat selisih uang tiket yang lumayan, tetapi beban moral yang cukup berat karena kehidupan tidak mengalir seperti yang diinginkan.
Balik ke tanah air, seperti tidak terjadi apa-apa. Teman-teman sekerja tidak mempersoalkan kepulangan (baca : kegagalan) saya. Pimpinan juga tidak mempermasalahkan. Selama dua tahun, bersama sahabat dekat sesama Antime juga, Ir. Soleh Iskandar MSc, kami terlibat dalam pekerjaan kerjasama antara BPPT dengan Pemda Provinsi Kalimantan Selatan. Setelah hasil pekerjaan selesai dan disampaikan secara resmi dalam sebuah seminar, saya “tergoda” lagi untuk melanjutkan studi. Ada tawaran dari AIDAB (yang kemudian berganti nama jadi Aus-AID), pemerintah Australia. Kalo tahun 1980an bisa nyelonong saja ikut test, rupanya harus melalui institusi/lembaga dimana kita bekerja. Prioritasnya untuk wanita dan non-PNS.
Melalui serangkaian wawancara dan test bahasa, IELTS, saya dinyatakan lulus tanpa kursus. Application forms langsung dikirim ke Universitas yang saya inginkan. Rupanya, saya diterima di University of Queensland di Brisbane. Saat penerimaan ada catatan bahwa saya disarankan mengikuti kursus bahasa di sana. Sebelum berangkat, saya malah ditawari untuk ikut kursus di Jakarta, karena masih tersedia tempat di IALF, Indonesia-Australia Language Foundation. Saya pikir tidak ada salahnya, walaupun saya belum tahu kalau saya sudah admitted bersyarat. Tiga bulan kursus, selain nambah teman juga IELTS score saya naik cukup signifikan, sehingga syarat harus mengambil kursus bahasa di Brisbane gugur. Tanggal 31 Desember 1992, saya terbang menuju Brisbane, lewat Denpasar-Sydney. Hari pertama tahun 1993 saya menginjakan kaki di kota Brisbane. Wiwin (teman saya dari BPPT) dan teman-teman Indonesia, termasuk Hardinsyah (Prof.Dr. Ir. Hardinsyah, waktu itu Ketua PPIA-Q, Dekan Pertama FEMA-IPB), Illah (Dr. Ir Illah Sailah, Dosen IPB yang sekarang menjabat sebagai Direktur Akademik di Dirjen DIKTI) dan banyak lagi yang lain membantu saya menyesuaikan diri untuk 6 bulan pertama. Setelah enam bulan, keluarga saya boyong ke Brisbane. Saya pikir ini kesempatan baik buat anak-anak. Waktu itu si Sulung baru tamat SD. Adiknya baru naik ke Kelas 2. Rupanya di Brisbane, penentuan kelas lebih pada berdasarkan umur. Si Bungsu ditawari duduk di Kelas 3, tapi karena belom bisa bahasa saya minta di Kelas 2 aja. Buat anak-anak, sekolah ternyata sangat menyenangkan. Bahasa tidak menjadi kendala. Sampe Kelas 4, sebagian kegiatan belajar dilakukan sambil bermain. Yang bikin saya ketar-ketir di Kelas 7 ada student project, dimana di akhir tahun harus presentasikan dihadapan orang tua murid. Anak sulung kami belum genap 6 bulan di Kelas 7, alhamdulillah dengan bahasa yang agak terbata-bata bisa mempresentasikan project-nya.
Saya sendiri ? Kegiatan akademis, alhamdulillah lancar karena status saya mahasiswa Magister leading to PhD dan  jika dalam 2 semester nilai saya memenuhi syarat. Sebel juga gelar Master saya dari IPB dipandang sebelah mata. Waktu AIDAB student advisor komentar hasil akademik saya, saya bilang bahwa ini bukan karena saya pinter. Mata kuliah yang harus saya ambil, sudah saya pelajari waktu saya ambil S-2 di IPB. Kepada Ida Nurlela (warga Antime yang mangkal di Departement of Agriculture) yang waktu itu juga ambil beberapa matakuliah yang sama, juga saya bilang bahwa mata kuliah ini sudah pernah saya ambil. Tinggal ngingrisin kok. UQ aja yang gak mau mengakui gelar Magister saya dari IPB.
Ketika syarat AIDAB saya perlihatkan kepada Rod Jensen (Prof. Rodney C Jensen, Profesor Ekonomi Wilayah yang Dekan Fakultas Geografi dan Perencanaan), saya diminta menulis Study Objectives dua-tiga halaman. Besoknya langsung saya serahkan melalui Sekretarisnya, dan dua jam kemudian saya ditelpon untuk perbaikan. Dua hari kemudian saya diberitahu kalau sudah diproses. Dalam seminggu, resmilah saya sebagai mahasiswa Program Doktor pada Department of Economics dengan Dr. Guy R. West dan Prof. Rodney C Jensen sebagai suvervisor. Karena delapan mata kuliah yang saya ambil sebelumnya memenuhi syarat untuk memperoleh Post-Graduate Diploma in Regional Development, kemudian saya tulis surat ke Dean for Research and Post-Graduate Studies agar Ijazahnya bisa saya terima. Sekitar tiga minggu kemudian, saya dapati di kotak surat Ijazah dimaksud. Selanjutnya, saya diundang untuk ikut wisuda, bersama-sama dengan para peraih gelar Doktor dan Master. Rupanya gelar Postgarduate Diploma merupakan gelar yang tidak kalah keren dan bergensi bagi mahasiswa Australia.
Kuliah di program Doktor di Quensland Uni, rupanya, gak terstruktur seperti di USA. Semua tergantung kita dan arahan supervisor. Untuk 6 bulan pertama, saya diberi list of publication dari kedua Beliau. Dari pada capek-capek menelusuri di Perpustakaan, saya langsung aja ke kantor beliau. Lebih dari 60 persen bahan pustaka ada di sana. Sisanya saya telusuri di empat perpustakaan, Perpustakaan Ekonomi, Perpustakaan Architecture and Planning, Perpustkaan Pertanian dan Central Library. Setahun berkutat dengan bahan bacaan untuk nulis Bab 3. Literature Review. Si Sulung yang waktu itu sudah di Kelas 9 Indooroppilly State High School komentar “gee.., the whole year you just doing chapter three, Daddy”. Rupanya dia juga concern dengan kemajuan studi saya. Tenang aja, pada waktunya insyaAllah semua akan selesai. Dan di pertengahan tahun kedua, masa probation saya dicabut. Struktur PhD Thesis sudah ada bentuknya, tinggal isi Bab demi Bab dari 11 Bab yang direncanakan. Dan di akhir tahun kedua, saya diijinkan (maksute diberi dana) untuk ke Jakarta menggumpulkan data yang dibutuhkan. Si Bungsu saya ajak pulang sambil liburan karena saya dapet tiket murah (hadiah dari Garuda karena kami memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah PPI-Australia, bersama Muhamad Handry Imansyah, Dosen FE Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin) dan si Sulung nemenin Mamanya di Brisbane, yang lagi giat-giatnya nyari penghasilan tambahan.
Tahun ketiga saya fokus pada modelling, exercise dan analisis data. Walaupun pekerjaan ini cukup intensif, tapi saya menjalaninya dengan santai. Ke kampus, biasanya hanya ke Perpustakaan hanya untuk ambil bahan, karena sudah saya cari sejak menjelang subuh. Ini semata-mata karena internetnya ngacir dan akses sepuasnya; hanya dengan biaya sebesar satu kali connect telpon lokal, A$ 0,25; dua puluh lima sen sampe sambungan putus. Ke kampus, paling ngobrol sama temen-temen yang sedang menikmati makan siang. Saya juga bawa bekal, supaya bisa nemenin makan. Habis makan siang, ngopi-ngopi sambil ngobrol. Biasanya suka kelewat sampe jam tigaan, sudah saatnya untuk pulang, jemput anak di sekolah atau antar isteri kerja. Lebih parah kalo habis solat Jumat di International House, kadang sampe “diusir” baru bubar. Malamnya, ngobrol lagi sama temen-temen yang mangkal ikut makan malam di rumah saya; karena isteri saya yang masak untuk para Bulok, Bujang Lokal. Lumayan, kami bisa ikut nebeng makan, dan mereka juga hura-hura makan sepuasnya. Bisa-bisa sampe jam 9an baru bubar. Kadang kalau Jumat malam bisa sampe jam 10an. Saking kelihatannya santai, seorang junior sampe bilang “kalo ngeliat bang Muchdie, saya mau juga tuh ambil PhD, tapi kalo ngeliat yang laen, ikut sakit kepala saya. PhD diartikan Permanent Head Damage”. Dia nggak tahu, kalo saya juga jungkir-balik. Emang sih kelihatannya santai aja. Bahkan saya masih sempet ngurusin jualan daging halal di Musholah. Sabtu-Minggu keliling shopping-town. Kadang, mancing di Brisbane River. Saya bilang, saya disini kan nemenin anak-anak saya sekolah. Gratis lagi. Saya tau kemudian bahwa biaya sekolah anak di High School sama mahalnya dengan biaya kuliah di Perguruan Tinggi bagi yang visanya pelajar.

Kalau Ramadhan tiba, kita semua menyambutnya dengan gembira. Gak ada beduk, gak ada tarawih di Mesjid. Suara adzan saja gak pernah denger. Lima kali Idul Fitri dan lima kali Idul Adha, lima kali Lebaran-lima kali puasa, kami nikmati di Brisbane. Bahkan saya sempat pulang kampung, waktu saya ambil data di Jakarta dan menjelang lebaran kembali ke Brisbane. Ceritra ini sering saya ulang-ulang kepada temen yang suka ngledekin saya karena gak pernah pulang kampung.
Karena rumah yang kami sewa cukup besar, sekali sholat taraweh selama bulan puasa biasanya diselenggarakan di rumah kami, lainnya bergilir dari satu rumah ke rumah lain, biasanya di rumah permanent resident. Menjelang akhir-akhir penyelesaian studi, di hari lebaran temen-temen pada kumpul di rumah saya. Isteri saya memasak ketupat (bukan dengan daun kelapa, tapi pake plastik), opor ayam dan soto betawi. Ini seperti isyarat kalo sebentar lagi kami akan kembali ke tanah air. Pulang kampung beneran. Going home for good.
Penyelesaian tesis, saya dibantu Mrs. Margareth Holm, Director of Studies di International House dalam hal editing. Rod dan West setuju aja dengan pilihan saya, karena memang disediakan dana editing oleh Aus-Aid. Selama seminggu, tiap hari saya bolak balik ke International House, tempat yang sangat familiar karena tiap Jumat kami berkumpul di sana untuk Sholat Jum’at. Polesan Margareth membuat Tesis saya jadi “wow”, kecuali satu Bab yang Margareth sendiri kurang pede. Walaupun waktu yang diluangkan melebihi alokasi anggaran yang disediakan, Margareth sama sekali tidak berkeberatan. Dia melarang saya nombokin kekurangannya. Dia cuma bilang, “nanti kalau sudah dijilid, bawa ke saya. Saya hanya ingin mengelusnya”. Yakin saya, kalau si nenek cuma bercanda.
Hari Kamis, dua hari sebelum jadual pulang, Tesis sudah saya serahkan ke kantor Research and Post Graduate Studies. Artinya, selesailah tugas belajar saya di University of Queensland. Semua persiapan pulang sudah beres karena tiga bulan sebelumnya isteri saya sudah berhenti kerja. Kontrak rumah berakhir hari Senin, dua hari setelah kami pulang. Air, listrik dan gas sudah selesaikan pembayarannya. Beres. Saya sering temui kondisi teman-teman yang sudah harus pulang. Malamnya masih ngetik menyelesaikan Tesis. Mencetaknya, malah dititip ke teman yang masih tinggal. Saya salut atas kesetiakawanan seperti ini. Saya juga pernah ketitipan Tesis Doktor seorang teman yang sudah harus pulang. Mencetak dan menjilidnya sampai selesai.
Alhamdulillah, saya tidak perlu berbuat serupa. Hari Jum’at siang, H-1, saya diundang kedua supervisor saya, Rod Jensen dan Guy West, untuk makan siang. Mereka yang traktir. Beda sama di kita, yang lulus yang traktir. Malamnya, temen-temen pada ngumpul di rumah. Persis seperti calon jemaah yang akan berangkat Haji ke Baitullah. Dan, jam 4 pagi, habis subuh, kami sudah siap. Rencana berangkat ke airport jam 5an. Tapi Pak Djadjang (Drs. Djadjang Sudradjat MM, Area Manager Garuda Indonesia di Brisbane) nelpon kalo gak usah berangkat  dulu ke air-port. Waktu saya tanya, jawabnya : “pusing gua”. Ternyata ada traffic problem di Air-port Brisbane. Singkat kata, penerbangan Garuda ke Jakarta dibatalkan, diganti Senin 30 Juni 1997 persis hari terakhir berlakunya Visa kami. Djadjang nawarin, hari Sabtu dan Minggu di rumahnya karena semua perlengkapan dapur sudah digulung. Ya sudah, berarti dua hari ini diberi waktu untuk jalan-jalan. Mobil saya, walaupun sudah laku, penyerahannya hari Senin, jadi kami berempat masih bisa muas-muasin keliling Brisbane, dari satu shopping-town ke shopping town lainnya. Hari Minggu itu, seharian kami di rumah keluarga Djadjang dan saya ingat hari itu ada pertandingan tinju, Tyson menggigit kuping lawannya. Alhamdulillah,hari Senin kami terbang ke Jakarta lewat Denpasar. Barang bawaan yang beratnya hampir 300 kg gratis, sebagai kompensasi penundaan pesawat. Asyiik. Itu juga bentuk kemudahan yang kami terima. Terimakasih kepada Pak Djadjang dan keluarga serta teman-teman masyarakat (khususnya mahasiswa) Indonesia di Brisbane, terutama Bapak dan Ibu Iman Partoredjo yang menyempatkan mengantar kami ke Brisbane Air-port.
Empat setengah tahun di Brisbane, hidup mengalir begitu nikmatnya. Saya merasa, hidup di negara “sekuler” dalam suasana yang sangat Islami. Juga, rasanya lebih “pancasilais” dari dibanding di Indonesia. Subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar.
Kembali ke rumah, ke kediaman kami di belakang Kampus UI di Depok. Si Sulung dan mamanya nampak agak sedikit shock. Rumah yang ditinggalkan empat tahun yang lalu, dibilangnya sempit. Emang sih, cuma ada tiga kamar. Tapi, rasanya masih cukuplah. Selama empat tahun ditinggal, rumah dirawat dengan baik oleh keluarga adik saya, yang memang sempat ikut tinggal bersama kami sebelum menikah. Prioritas saya adalah mengurus surat pindah sekolah anak-anak, terutama untuk si Sulung. Juga, menghidupkan status CDTN (Cuti Di luar Tanggungan Negara) isteri saya di Pemda DKI. Urusan pindah sekolah, alhamdulillah, cukup lancar. Si Sulung dapat tempat di SMA Negeri Satu Depok, yang lokasinya paling deket dari rumah. Si Bungsu kembali sekolah bersama-sama temannya waktu ditinggal dan harus bersiap-siap menghadapi EBTANAS. Yang agak njelimet dan makan waktu adalah mengembalikan PNS isteri saya. Rupanya gak ada yang punya pengalaman dalam urusan seperti ini. Di tahun ke tiga, saya cari cara agar bisa ketemu Kepala Bagian Kepegawaian Pemda DKI. Sudah tiga kali ganti pejabat di Dinas Pendidikan, urusan gak selesai. Syukurlah, akhirnya status PNS isteri saya bisa hidup kembali. Rupanya, urusan seperti ini juga ada “rimba rayanya”.
Hidup mulai normal. Saya, kembali ke pekerjaan sebagai tenaga peneliti. Ijazah Doktor Ekonomi sudah disetarakan, bahkan saya ditawari ngajar di Program Studi Magister Manajemen di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Ini kemudian, menjadi musabab saya bisa mangkal di UHAMKA, setelah tugas-tugas struktural saya di BPPT selesai. Ketika ada lowongan jabatan eselon dua, yang baru pernah saya temui prosesnya melalui pemilu oleh para staf, saya diusulkan oleh Pak Komar (Drs. Komarudin, MA, Deputi Kepala BPPT Bidang Analisis Sistem) sebagai salah seorang kandidat. Yang punya hak mengusulkan adalah Deputi, mantan Direktur dan staf. Ada tiga kandidat, Oce (Dr. Ir. Hasan Mustafa Djajdiningrat), Rofiq dan saya. Yang terpilih adalah Rofiq (Ir. Aunur Rofiq Hadi, MSc -Antimewan juga) sebagai Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi untuk Pengembangan Wilayah. Dan ketika struktur eselon tiga dihidupkan kembali, saya ditugasi sebagai Kepala Bidang Pengkajian Pengembangan Ekonomi Wilayah. Tugas ini saya emban selama tiga tahunan. Tahun 2003, ketika saya masih cuti naik haji, saya dilantik sebagai Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi. Pasti ini atas rekomendasi Rofiq kepada Deputi baru. Berarti, di Deputi PKT waktu itu ada 3 eselon dua alumni IPB, dua diantaranya Antime. Tiga tahun kemudian, ketika Rofiq dapet promosi menjadi Deputi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Pelaksana Harian Direktur Pusat KTPW ditugaskan kepada saya untuk dirangkap. Sebulan kemudian, ketika pak Firman (Ir. Firmansyah Rahim, Deputi PKT) dipromosi ke Kementerian Kebudayaan dan Priwisata, Pelaksana Harian Deputi Kepala BPPT Bidang PKT dilimpahkan ke saya (juga). Praktis, sampai dengan akhir November 2006, saya merangkap tiga jabatan. Sungguh, saya tidak pernah melakukan lobi apapun terkait dengan jabatan-jabatan ini. Saya bilang, saya lebih suka jabatan fungsional karena bebannya cuma saya.
Setelah organisasi berjalan normal, saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya hanya akan menjabat paling lama tiga tahun lagi. Masih banyak kader bangsa yang perlu dipromosikan. Dan ketika alokasi anggaran Kedeputian PKT mencapai puncak tertinggi, tahun 2009, itulah waktu yang tepat bagi saya untuk mempromosikan teman-teman. Saya tidak mengundurkan diri, tapi memberi peluang teman-teman untuk maju, menduduki posisi eselon dua. Bulan Juli saya diberitahu bahwa akan ada penggantian dan saya tegaskan bahwa saya siap memberi jalan bagi teman-teman, sesuai dengan aturan yang berlaku. Lega rasanya, setahun sebelum Batas Usia Pensiun saya selesai menjalankan tugas-tugas struktural di BPPT. Tanggal 7 Agustus 2009, delapan hari sebelum masa kerja saya mencapai 30 tahun, sertijab berlangsung mulus. Saya puas karena penerus saya benar-benar orang yang mengikuti jejak saya, sejak dari Jabatan Kasubdit, sekolah di Program S-2 PWD-IPB, meneruskan tugas saya sebagai Direktur di Pusat Difusi Teknologi dan kemudian melanjutkan tugas saya di Pusat Pengkajian Kebijakan Peningkatan Daya Saing. Insya Allah LHKPN saya aman, karena sudah diterima oleh KPK.
Kedua anak kami juga, insyaAllah, sudah kami hantarkan ke kehidupan mereka masing-masing. Si Sulung sudah memberi cucu laki-laki, berusia 3 tahun di bulan Oktober lalu. Nampaknya, dia masih enjoy sebagai Konsultan Pajak di E & Y. Sementara si Bungsu sedang siap-siap menuju ke kehidupannya. Agaknya, dia juga menikmati jalan hidupnya sebagai PNS di Sekretariat Jenderal DPR-RI.
Emang ada rasa sedikit sengau yang mengganjal di hidung ketika ini ditulis. Tak apa, karena menurut Khalil Gibran, “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu/Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri/Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu/Meskipun mereka ada bersamamu, tetapi mereka bukan milikmu/ Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tetapi bukan pikiranmu/Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri/Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka/Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok yang tak pernah dapat engkau kunjungi, meskipun dalam mimpi/Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu/Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu/Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan/Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh/Jadikanlah tarikan sang pemanah itu sebagai kegembiraan/Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan ”.
Jadi, biarkan mereka memilih yang terbaik buat mereka. Semoga kehidupan mereka juga mengalir seperti air di sungai yang tenang, yang gemercik suaranya memberi rasa damai. Orang tua yang manapun, siapapun akan bahagia mengetahui anak-anaknya bahagia.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Social & Daily Life. Tandai permalink.

3 Balasan ke Mengalir Bagai Air : Catatan Seorang Antimewan

  1. edratna berkata:

    Lama tak kesini….

    Tulisannya membuatku mengenang IPB….antime berarti angkatan 74, se angkatan dengan adikku no.2 (kakaknya TriDjoko). Pak Sis sudah meninggal ya, beliau terbaik pada angkatan 68…entah kenapa orang terbaik cepat dipanggil oleh Nya.

  2. andi berkata:

    terimakasih doa untuk almarhum ayahanda siswadhi soepardjo. Sukses selalu untuk bapak sekeluarga.
    Andi basuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s