Sia-sia ? Semoga Tidak

Kemaren, Senin 15 Februari 2010, untuk suatu keperluan saya bermaksud melegalisir fotocopy Ijazah yang saya peroleh dari University of Queensland, Australia.

Yang disyaratkan untuk proses yang sedang saya urus adalah fotocopy Ijazah dan transkrip nilai pendidikan terakhir yang dilegalisir oleh yang berwenang. Oleh karena Ijazah diperoleh dari Luar Negeri, juga pastinya yang dibutuhkan adalah SK Penyetaraan Ijazah oleh Mendiknas. SK ini sudah saya peroleh September 1998 yang lalu, beberapa bulan setelah Ijazah saya peroleh, 5 Juni 1998. (Thank Prof Heru, yang nolongin ngambil Ijazah saya karena saya nggak punya ongkos untuk ambil Ijazah ke Brisbane).

Waktu berangkat, saya mampir ke tempat fotocopy. Maksudnya untuk menyiapkan bahan-bahan yang perlu dilegalisir. Ijazah, saya buat 10 copy. Transkrip nilai, bolak-balik, juga saya buat 10 copy. SK Mendiknas dan Lampirannya, saya buat bolak balik juga, 10 copy juga. Terus, salinan SK Mendiknas yang ada foto saya, saya buat dan lampiri dengan lampiran yang sama dengan SK, juga saya buat 10 copy. Sekalian, Ijazah dan PostGraduate Diploma Certificate, sekalian saya laminating, agar lebih terawat.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 lebih 2 menit. Meluncurlah saya dari LA (Lenteng Agung, tempat fotocopy) menuju Kementerian Pendidikan Nasional RI, tepatnya menuju Gedung Dirjen DIKTI di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta. Jam sebelas kurang dikit saya nyampe dan setelah cari tempat parkir di lantai bawah, saya menuju lobby. Maksudnya mau tanya, kalo mau legalisir Ijazah Luar Negeri di lantai berapa ? Dulu, kira-kira 12 tahun yang lalu Gedung Dirjen DIKTI masih yang lama. Gedung ini ini, dua tahun terakhir saya sering datangi memenuhi undangan Direktur DP2M (Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat). Menurut resepsionis di Lantai 7, di Direktorat Akademis. Sambil mendaftar, saya pura-pura tanya soal Direkturnya. Saya tahu kalo Direktur Akademis adalah Dr. Illah Sailah. Waktu di IPB adik kelas saya, dan ketika di Brisbane malah jadi Ibu semang saya. Soalnya saya ikut numpang makan selama satu semester sama mbak Illah. Waktu itu saya tinggal sama Moh Romli (skrg Prof Dr Moh Romli, Fateta-IPB). Sayang mbak Illah sedang ada acara di DPR.

Setelah dapat nomor, saya menunggu panggilan di ruang tunggu. Ternyata banyak juga yang lagi ngurus. Ada yang sedang memproses penyetaraan Ijazah, ada yang melegalisir SK Mendiknas. Saya dapet urutan No. 27, yang sedang diproses baru No. 16. Masih sepuluh lebih. Ke Toilet dulu deh. Keingetan dah kalo dokumen asli ketinggal di mobil (Saya nggak tau persis apa yang harus dibawa). Ambil dulu aja deh, dari pada bengong nunggu panggilan.

Lama juga, hampir satu jam menunggu. Yang agak cepet kalo nomor yang di depan cuma tinggal ambil legalisasi SK. Waktu giliran, sama bilang kalo saya mau legalisir Ijazah. Menurut si Ibu yang melayani, soalnya nggak tau namanya dan nggak perhatiin tag name-nya, bilang sejak Juli 2009, DIKTI sudah tidak melegalisir Ijazah karena SK Penyetaraan dianggap cukup. Yo wis..Ya udah gak apa-apa, 10 copy Izajah tidak berguna ? Jadi cuma copy SK Penyetaraan yang bisa dilegalisasi. Saya tanya apa beda SK dengan Kutipan SK ? Jawabnya, itu satu paket. Saya bilang saya sudah buat fotocopynya. Ternyata syaratnya jangan bolak balik dan maksimal 6 copy. Ya…. sia-sia berikutnya. Saya sudah buat masing-masing 10 copy dan bolak balik, setelah saya perkecil menjadi ukuran kertas A-4 karena ukurannya nggak praktis, kepanjangan.

Ya udah, kata si Ibu tempat fotocopy ada di luar Gedung ini. Sementara beliau menyiapkan surat tanda terima, pergilah saya mencari tempat fotocopy. Adanya di Gedung E (Gedung DirJen DIKDASMEN). Waktu turun, di lift yang lain keluar Prof Hapsoro, Direktur DP2M. Saling sapa dan ngobrol dikit, terus saya mencari tempat fotocopy dimaksud. Dengan penuh yakin, saya minta dibuatkan 6 copy untuk 3 lembar SK Mendiknas, Kutipan SK dan Lampirannya. .

Karena kosong, cepet dah pelayanannya. Saya gak periksa, lagi. Langsung kembali ke Lantai 7 Gedung DIKTI. Kata si Ibu, saya boleh nyodok, tapi saya tunggu sampe yang sedang dilayani selesai. Saya serahkan berkas dan saya terima surat tanda terimanya. Legalisasi SK Penyetaraan selesai dalam 3 hari kerja. Baik, terima kasih Bu.

Meluncurlah saya menuju lift karena saya ada janji untuk ketemu seseorang di PPs-Uhamka Kampus Matraman. Eh ternyata, disusul sama si Ibu karena fotocopy-annya ada yang kepotong. Kertasnya sih berukuran sama, cuma ngopinya terlalu ke bawah. Tandatangan Dirjen nggak ke copy. Halaaah… Ya udah saya copy lagi. Saya bilang ke si mas yang motokopi, mas ini kepotong, tolong dong yang cermat (Padahal saya juga nggak cermat, nggak mriksa waktu hasilnya saya terima. Saya berasumsi semua orang bekerja dengan sebaik-baiknya. Padahal saya juga mungkin tidak sebaik itu).

Sepertinya pekerjaan ini ringan-ringan aja. Tapi ini kan jadi nggak efisien. Pertama, buat fotocopy tanpa jelas apa yang dibutuhkan. Cuma berjaga-jaga. Yang kedua, nggak periksa hasil fotokopian, sehingga terpaksa ngulang lagi.

Apakah ini sebuah kesia-siaan ? Moment yang baik untuk belajar, karena biaya dan resikonya kecil. Tenaga untuk bolak-balik dan sedikit uang untuk fotocopy…Semoga tetap ada hikmah dibalik ini semua….

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s