Doa untuk Kesembuhan Mas Kamto

Jumat minggu lalu, 5 Februari 2010, saya mendapat undangan untuk ketemuan dengan Mas kamto, bersama Bang Rustam dan kang Hendi. Mas Kamto dan Bang Rustam adalah teman sesama penghuni Wisma Raya, asrama mahasiswa IPB di Jln Juanda 48 Bogor yang saat ini sudah tak ada lagi. Sementara Kang Hendi adalah teman seAngkatan di IPB, sama juga dengan Mas Kamto dan Bang Rustam, Antime-Angkatan 1974.

Undangan Mas Kamto berawal dari diskusi di milis Antime terkait dengan peluang bisnis kayu Sengon dan kayu Jabon. Adalah Bang Rustam yg melontarkan pertanyaan soal peluang ini. Banyak respon yang kemudian muncul. Saya sendiri mulanya hanya merespon yang ringan-ringan terkait dengan kenangan semasa menjadi penghuni Wisma Raya. Bang Rustam ternyata sangat serius tetang peluang bisnis ini. Sementara Mas Kamto, yang punya pengalaman dalam pengembangan agri-bisnis merespon rencana bisnis kayu Jabon ini dengan sangat real dan rinci. Kang Hendi, yang baru saja keluar dari RS, begitu antusiasnya untuk mengetahui lebih lanjut peluang bisnis ini dan minta mas Kamto untuk menjadwal ketemuan di Cibubur. Merasa ikut terlibat dalam diskusi saya, setelah nggeser-geser jadual week-end, memutuskan untuk ikut dalam pertemuan itu.

Pertemuan direncanakan di Rumah Makan CWIEMIE Malang di Cibubur Sabtu, 6 Februari 2010 jam 12 siang. Sehari sebelum rencana mas Kamto untuk ke lokasi di Ciemas, Sukabumi Selatan (?). Pagi-pagi, sekitar jam 8an, saya kirim pesan singkat ke Mas Kamto, bahwa saya konfirm untuk hadir. Sementara Bang Rustam dan Kang Hendi memang sudah menyatakan akan hadir. Jam 11an, saya coba telp ke HP mas Kamto, tapi ngak diangkat. Saya pikir, mungkin di jalan sedang mengemudi. Saya juga sering gak angkat telp kalo lagi nyopir. Ya udah, saya berangkat saja.

Dari rumah, saya menelusuri jalan menuju Jl. Arif Rahman Hakim, belok ke kiri masuk ke Margonda. Di perempatan (pertigaan deng) Margonda-Juanda, saya belok kanan masuk ke Jalan Juanda, masuk ke Gas Alam, belok kiri masuk Jalan Putri Tunggal. Tertahan di pertigaan Radar Auri sekitar 15 menitan dan tiba di lokasi jam 12 lebih. Parkirnya penuh banget. Alhamdulillah pas ada yang keluar.

Setelah parkir, saya langsung menuju ke lantai 2. Clingak-clinguk, saya ditanya sama para pelayan. Saya bilang cari temen dan sudah janji. Ternyata gak ada. Lalu, saya ambil tempat duduk menghadap ke pintu masuk, supaya bisa langsung tau kalo teman-teman datang. Pesen makan, saya emang lagi membatasi jenis-jenis makanan tertentu. Ya udah, pesen minum aja.

Seperempat jam kemudian, datang seorang pria berambut mulai berwarna perak, tidak terlalu tinggi. Saya menduga ini Kang Hendi. Ternyata dia juga mengenali saya. Kemudian dia juga duduk dan pesan minum karena pastinya gak akan pesan makan berhubung baru keluar dari rumah sakit dan masih akan periksa kesehatan. Mas Hendi ternyata sudah pensiun dari Astra bulan yang lalu.

Sebelum ngobrol lebih lanjut, saya pikir ada baiknya telpon mas Kamto lagi. Kang Hendi yang telpon dan tidak ada yang angkat. Sambil nunggu, kami ngobrol tentang keluarga, tentang aktivitas masing-masing. Jam satu sudah lewat. Kami coba menghubungi mas Kamto kembali. Ternyata tetap ngak diangkat. Mau hubungi Bang Rustam, gak ada yang punya nomor. Tadinya mau tanya Yuyu, pengelola milis Antime. Ngobrol tetap berlanjut.

Menjelang setengah dua, ada sms masuk ke HP Kang Hendi dari Yuyu yang memberi tahu bahwa ada berita dari Bang Rustam yang mengabari bahwa mas Kamto masuk ICU di RS-MMC Kunginan Jakarta Selatan. (Setelah saya pulang, saya baca sms serupa dari Yuyusoalnya HP saya ketinggalan di rumah, yang saya bawa nomor yang lain yang belom terdaftar di Yuyu). Kami berdua sangat kaget mendengar berita ini. Bang Rustam, dalam perjalanan ke Cibubur telpon ke nomor mas Kamto, yang kemudian diangkat sama anak mas Kamto dan memberi nomor telp ibunya. Bang Rustam, lalu langsung menuju MMC-Kuningan dan mengabari berita ini ke Yuyu untuk diteruskan ke teman-teman yang lain.

Kang Hendi kemudian telpon Bang Rustam untuk informasi lebih lanjut. Betul mas Kamto kena struk, yang mengakibatkan tangan dan kaki gak bisa digerakkan. Katanya ada pembuluh yang pecah dan direncanakan akan dioperasi. Setiba di rumah, saya juga telpon Bang Rustam dan kemudian diberi nomor Bu Yunce, isteri mas Kamto.

Minggu sore, saya coba kontak isteri mas Kamto. Alhamdulillah, opreasi sudah dilakukan dan berhasil dengan baik. Banyak teman-teman yang memantau perkembangan ini di milis Antime dan banyak juga yang sudah menjenguk di MMC. Sayang, mas kamto masih di ICU yang belom bisa dijenguk. Sampai Kamis sore, mas Kamto masih di ICU dan menurut informasi memang sengaja “ditidurkan” untuk mengendalikan tensi darah. Menurut informasi, hari ini, Jumat atau besok Sabtu, akan ada tindakan untuk melepas berbagai peralatan dan “menyadarkan” kembali mas Kamto agar bisa dipindah ke ruang perawatan. Semoga tindakan ini berhasil dengan baik.

Seminggu ini doa untuk mas Kamto terus mengalir. Kami semua mendoakan kesembuhanmu mas. Untuk Isteri, anak dan keluarga semoga tabah menghadi ujian ini. Kami semua, teman-teman Antime-IPB 1974 dengan tulus dan ikhlas mendoakan untuk kesembuhan mas Kamto..

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s