Alhamdulillah, Rumah Bapak Selesai…

Rumah Bapak : Tampak Depan

Sejak Ibu (mertua) meninggal 2 Agustus 2009, kami semua prihatin dengan rumah Bapak (mertua) yang udah bangunannya banyak yang rapuh. Maklum sudah lama banget dibangunnya. Juga tata-letak yang terlalu banyak “depan-nya”. Dapur dan kamar mandinya besar dan gak karuan. Kamar tidur masih ada 5, kamar mandi ada 3. Padahal, sekarang Bapak tinggal berdua dengan adik yang terkecil. Dulu sih iya.. setidaknya ada 5 atau enam orang yang tinggal.

Dalam kesempatan kumpul-kumpul ada terlontar ide untuk “memperkecil” rumah Bapak. Mengingat, tanah-tanah Bapak sebenarnya sudah dialokasikan untuk anak-anaknya. Yang jadi soal adalah dana untuk penataan sumbernya dari mana ? Waktu itu Bapak mengatakan bahwa beliau bersedia “mengeluarkan” 130 meter persegi untuk menata rumahnya.

Sebagai gambaran waktu itu nilai transaksi di sekitar baru 1200rb/meter persegi. Ada penawaran di jalan utama, sejajar dgn rumah Bapak, sekitar satu setengah (Rp. 1,5juta/m2), tapi belom terjadi transaksi.

Setelah dihitung-hitung dgn segala macam biaya, Bapak setuju nilai bersihnya Rp.130 juta.  Uangnya, sudah deal. Tersedia. Yang jadi soal kemudian, siapa yang akan menangani proses renovasi besar ini. Kan perlu dirancang agar uang tersedia, cukup. Bahkan pesan Bapak kalau bisa masih ada tersisa untuk biaya surat-surat dan kamar untuk dikontrakkan. Bener juga sih, masak rumahnya bagus, tiap hari pusing karena nggak ada pendapatan.

Isteri saya anak kedua, yang kemudian jadi yang tertua karena Abangnya sudah meninggal. Anak ketiga Bapak, laki-laki, tidak sanggup mengelola uang ini menjadi bangunan. Dengan niat terbaik, saya mensupport isteri saya untuk mewujudkan keinginan Bapak. Sedikit-banyak ada juga pengalaman mengelola konstruksi untuk rumah-rumah sederhana. Dengan prinsip memanfaatkan bahan-bahan yang masih layak, genteng dan kayu, mulailah disusun persiapan. Bahan-bahan deal dengan Lukman di Toko Material KKS. Tenaga didatangkan dari Cirebon.

Seminggu setelah Idul Fitri datang dua orang tenaga dari Cirebon tadi. Anak beranak, Iman dan Pak Naming. Saya diskusikan rencana dan prinsip dalam membangun tadi. Gunakan material yang masih layak. Setelah rancangan disepakati, upah juga disepakati dengan sistem harian, mulailah digali fondasi untuk ruang-ruang yang baru. Sementara pembongkaran dilakukan secara bertahap.

Sungguh mudah sekali proses ini. Saya tidak perlu setiap saat melakukan pengawasan. Material tinggal ambil di toko material. Kami sudah saling percaya satu dengan lainnya. Alhamdulillah, 13 minggu proses ini selesai. Rumah tinggal dengan 2 kamar tidur (untuk Bapak dan Dede, masing-masing), kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu dan beranda. Kurang lebih 100 meter persegi luasnya (saya males ngitung, tapi yang pasti keramiknya habis 100 m2). Di bagian belakang ada gudang dan rumah pompa yang di atasnya ada 2 tanki air. Sementara itu, satu pintu kontrakan berukuran 3 x 9 meter juga sudah siap (cuma 2 hari setelah selesai, langsung tersewa bulanan Rp. 500 rb per bulan).

Untuk semua proses renovasi ini, dibutuhkan dana sekitar 110 juta Rupiah (termasuk biaya menyambung aliran listrik yang prosesnya ternyata butuh waktu sebulanan). Ini sudah saya laporkan secara tertulis dan juga dalam kumpul-kumpul keluarga di rumah Bapak.

Rumah Bapak : Tampak Belakang

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Family & Friends. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s