Cincin, Ide dan Teknologi

Jum’at 23 Januari saya menghadiri acara silaturahim Kepala BPPT dengan 2 Perekayasa Utama Kehormatan, Prof Emil Salim dan Dr. Ir. Ciputra. Dalam acara ini kedua begawan ini diberikan Cincin Perekayasa Utama Kehormatan. Dalam sambutannya Ka BPPT menyampaikan bahwa acara silaturhami ini dimaksud untuk menggali lebih dalam pemikiran-pemikiran kedua tokoh ini dalam rangka pengabdian BPPT kepada bangsa ini.

Prof Emil Salim (dianugerahi jabatan Perekayasa Utama Kehormatan, tahun 2007) yang sudah mengabdi lebih dari cukup di pemerintahan, di kampus, dan sekarang sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden mengatakan bahwa inti dari kemajuan adalah ide. (Kata RTK, uang adalah ide). Ide, seringkali, muncul dari educated people ;dari orang-orang terdidik. Di BPPT sebagai “gudang” tenaga terdidik mustinya juga jadi gudang ide untuk mengangkat derajat bangsa ini. (Mengelola ide adalah tugas penting dalam manajemen lembaga litbang. Saya pernah baca sebuah buku, R & D Management, yang menyatakan bahwa hal yang unik dari managemen lembaga litbang adalah mengelola ide. Mengelola ide juga berarti mengelola orang-orang yang punya ide. Ini yang sering kemudian jadi gak mudah. Ide sering kali tidak sistematis, sementara pengelolaan kegiatan pembangunan dilakukan dengan sistem dan prosedur yang baku. Antara pengelolaan ide dengan pelaksanaan DIPA bertolak belakang.)  Kalo BPPT tidak menghasilkan ide-ide cemerlang untuk menyelesaikan masalah bangsa ini, Prof Emil Salim gak mau pake cincin kehormatan yang diterimanya. Ini tantangan besar bagi pimpinan dan warga BPPT. Pimpinan BPPT ditantang untuk mampu mengelola ide peneliti dan perekayasa BPPT yang sering kali bertingkah seperti seniman dengan jam kerja seenaknya. Bagi warga BPPT ditantang untuk mengembangkan ide-ide kreatifnya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi institusinya.

Dr. Ir. Ciputra (dianugerahi jabatan Perekayasa Utama Kehormatan, tahun 2008 yang lalu) menekankan bahwa ide saja tidak cukup. Di pemerintahan, ide baru muncul menjadi sekadar Visi dan Misi. Yang lebih penting adalah soal bagaimana ide ini diterjemahkan ke dalam aktivitas menghasilkan barang dan jasa yang bernilai tambah. Barang jasa yang dibtuhkan masyarakat. Bagi enterpreneur, soalnya bukan “apa dan mengapa”, tetapi lebih jauh soal “bagaimana, oleh dan untuk siapa serta kapan”.  Saya kira memang begitulah karena teknologi memang soal “bagaimana, oleh dan untuk siapa serta kapan”.  Ada keterkaitan erat antara perekayasa (engineer) dan entrepreneur. Jadi jelas sekali kalo tugas BPPT juga berkait dengan soal “bagaimana” masalah bangsa ini dituntaskan.

Tantangan yang besar bagi pimpinan BPPT untuk menjawab tuntutan masyarakat saat ini — terutama dengan tantangan dan keraguan Wapres soal lembaga ini. Mustinya hal ini juga jadi agenda dalam Rakor BPPT Februari mendatang.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s