Harga Turun, Siapa Untung ?

Gonjang ganjing krisis keuangan global (sebenarnya yang mengalami krisis ya negaranya Paman Sam di Amrik sono) yang kemudian membuat pertumbuhan ekonomi diperkirakan dan emang sudah anjlok. Harga  minyak mentah terus turun; melorot. Mulai dari US$ 120 per barel yang dalam beberapa bulan aja melorot sampe kurang  dari US$40 per barrel.

 

Akibatnya, karena turunnya harga minyak mentah dunia sampe sebegitu rendah, muncul tuntutan agar harga BBM domestik diturunkan (karena harga BBM dalam negeri merujuk pada harga minyak di pasar dunia; harga Singapura). Ini wajar aja karena memang harga BBM ditetapkan pemerintah. Faktanya, memang masuk akal untuk menurunkan harga BBM dalam negeri. Yang pertama harganya diturunkan adalah Premium, baru kemudian Premium turun lagi dan juga Solar, sementara Minah (Minyak Tanah) masih tetap gak diturunkan; ada aja alasannya. (hallooo Panja DPR yang mengusut Kenaikan Harga BBM, apa kabarnya ?????Masih mau terus… Sudah gak relevan man..)

 

Karena harga BBM turun, logika masyarakat mengatakan bahwa, barang-barang lain yang diangkut juga akan turun, mengikuti aturan berlipat-ganda (multiplier effects). Nyatanya harga-harga sangat lengket (sticky-price), apalagi harga barang/jasa yang ditentukan pemerintah (disebut harga alokasi).

 

Oke lah, pada putaran pertama ketika harga Premium turun, siapa yang untung ? Mestinya, konsumen pengguna BBM yang paling untung, termasuk para supir angkot. Tapi, susahnya ngitung berapa keuntungan konsomen karena itungannya berdasarkan surplus konsumen, yaitu selisih antara keberanian membeli (willingness to pay) dengan harga yang berlaku. Bisa jadi para pendemo penurunan harga BBM nggak dapet apa-apa karena keberaniannya untuk membeli selalu lebih rendah dari harga pasar. Jadi yang dapet untung adalah konsumen yang tingkat keberanian membeli lebih tinggi dari harga yang berlaku. Berapapun harga turun, mereka yang nggak berani membeli pada tingkat berapapun nggak akan dapet untung; nggak dapet surplus konsumen. Lain halnya kalo pengguna adalah sektor intermediate yang menggunakan BBM dalam proses menghasilkan barang/jasa. Mestinya, biaya produksi akan berkurang karena harga inputnya (BBM) berkurang.

 

Beda dengan konsumen, keuntungan atau kerugian produsen lebih gampang dipahami karena surplus produsen dihitung berdasarkan selisih antara harga jual dengan biaya rata-rata. Kalo harga turun kayaknya, logikanya, keuntungan produsen akan berkurang. Tetapi ini masih tergantung pada demand-elasticity. Kalo demand-nya sangat elastis, artinya harga turun sedikit, tapi permintaan melonjak tajam, keuntungan total dari produsen bisa jadi meningkat. Sebaliknya, kalo demand-nya in-elastis, nggak elastis karena penurunan harga tidak menyebabkan naiknya permintaan, keuntungan produsen akan berkurang.

 

Jadi, sebenarnya emang nggak gampang memperkirakan siapa yang untung, siapa yang buntung. Siapa tahu masih bisa bersembunyi atau menyembunyikan (orang udah gak bunyi kok). Makanya Organda, masih aja bertahan dan cenderung terus bernego agar tarif angkutan nggak diturunin. Harga suku cadang, kemudian, dijadikan tameng. Padahal suku cadang mestinya sedikit banyak harganya harus turun karena multiplier effects penurunan harga BBM.

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Politics & Government. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s