Bisnis Babe Kayak Bisnis di Saham

Baru tau saya kalo bisnis babe (barang bekas dan rongsokan) mirip-mirip bisnis di paper aset, seperti saham dan option. Harga babe di berbagai jenis; plastik (botol, dikenal dengan bodong, ember, rongsok, dsb), kertas dan kardus, besi dan kaleng, logam (alumunium, kuningan, tembaga, dsb) dan botol (termasuk beling, tapi gak laku sekarang), cenderung mengikuti mekanisme pasar. Naik turun sesuai dengan kondisi permintaan dan penawaran.

 

Seiring dengan kondisi krisis keuangan global, dimana permintaan terhadap sektor riil juga berkurang, harga-harga cederung turun. Jadi para Lapakers mesti hati-hati dan terus memantau perkembangan harga. Kalo bisa jangan nahan barang terlalu lama. Kira-kira cukup jumlah dan masih punya margin langsung lepas; kirim ke agen. Otherwise, harga anjlok rugi gak “ketahan”. Padahal ada biaya sortasi dan transportasi.

 

Misalnya harga kuningan. Dari harga Rp. 60 rb-an, sekarang turun jadi sekitar Rp.30 rb-an. Satu ketika, harga ada di kisaran Rp. 35 rb- Rp.37 rb. Cek ke Agen ada yang bisa nampung Rp. 36,500/kg, terus ada yang minta angkat barang dengan harga Rp. 35 rb/kg, masih ada kelebihan Rp. 1500/kg.  Dengan jumlah barang hampir 1 kwintal, lumayan juga kan. Tapi harus cepat dikirim karena harga bisa turun lagi. Bener aja, besoknya, untungnya setelah barang dikirim, ada yang jual Kuningan. Karena jumlahnya cuma sedikit (3 kg), Lapak berani bayar Rp. 33 rb/kg. Ternyata, harganya sudah anjlok ke Rp. 30 rb/kg. nah lhooo.

 

Begitu juga dengan kardus. Ketika harga di Agen sempet naik ke Rp. 1.050/kg, lapak masih berani beli antara Rp. 800- Rp. 900/kg terutama jika jumlahnya agak banyak. Kalo dari pemulung, Lapak bayar cuma Rp. 600an/kg. Cilakanya, harga terus merosot tanpa ada yang bisa memprediksi. Mula-mula turun jadi Rp. 850/kg. Nah sudah mulai bingung karena dilematis. Masih punya sekitar 1,5 ton. Tahan atau lepas. Dilepas pasti rugi. Ditahan masih gak jelas apa harga masih turun atau bisa ngangkat.  Saya bilang ke Adis, lepas. Tapi dianya masih bertahan. Besoknya harga melorot ke Rp. 750/kg. Terus melorot lagi ke Rp. 650 dan bahkan ke Rp.550,- Makin panik. Keputusan kita waktu itu, lepas kardus dengan pembelian di bawah Rp. 650/kg. Yang di atas itu tahan dulu. Masalahnya kuat apa enggak nahan barang lama-lama.

 

Alternatif lain, jangan maen di kardus dulu. Susahnya, suplly barang bekas gak bisa diprediksi. Jadi apa yang ada di pasar. Mana yang muncul, itu yang dibeli. Barang yang dicari gak selalu ada. Yang ada bukan yang dicari. Harga susah diprediksi.

 

Waalaah..kayak investasi di saham. Mata dan kuping harus dipasang biar terang, supaya gak kejebak….Soalnya banyak Lapak yang tikarnya harus digulung…

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Bisnis dan Investasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s