Bos, Komandan dan Profesor

Panggilan bos bagi saya sangat jarang terdengar karena kultur di lingkungan dosen dan peneliti tidak saling ngebos. Suatu ketika ketika loper koran atau tukang kartu nama panggil saya (sebenarnya dia panggil setiap orang) bos, saya bilang ke dia agar tiap hari ketemu saya, sehingga saya bisa jadi bos setiap hari.

Di kalangan bisnis Babe (Barang Bekas/Rongsokan) , ternyata semua orang dipanggil bos. Ini saya tau setelah beberapa hari ini saya bergaul dengan kalangan ini. Di sini tiap orang memang dipanggil dan memanggil bos, kayaknya jadi panggilan akrab.

Saya belum mengamati dengan cermat, berlaku dikalangan mana panggilan komandan (secara informal) digunakan. Maksute di luar kalangan militer. Suatu ketika saya klaim asuransi untuk perbaikan mobil. Orang bengkel telpon saya, dengan nada yang sangat akrab, dia bilang mau lapor dan (maksudnya komandan) bahwa yang ambil mobil sudah siap untuk berangkat. Wah..jadi komandan nih. Pada saat yang lain, petugas keamanan di kampus matraman juga panggil saya komandan. Aneh, padahal dia tau kalo saya ini dosen; bukan kepala keamanan. Di kalangan tukang parkir, saya pernah juga dipangil dan, komandan.

Ada lagi. Yang ini mungkin lebih deket, walaupun saya belon nyampe ke level itu. Saya tadinya agak bertanya-tanya kok kayaknya gak bersalah dia panggil saya Prof.; Profesor maksudnya. Gara-gara dia, ada beberapa tetangga lain yang ikut-ikutan panggil Prof. Dia itu, saya enggak tau nama lengkapnya, tapi yang pasti dia itu tetangga lain RT di lingkungan kami. Bekerja, juga entah bagian apa, mungkin staf administratif, di Politeknik Negeri Jakarta, yang lokasinya di lingkungan UI-Depok. Rupanya, ketika saya memberi kuliah di PNJ dia sempat tau. Mungkin aja dia ceritra ke teman kerjanya kalo saya adalah tetangganya. Pikir dia, karena semua mahasiswa saya adalah dosen PNJ, pantesnya saya sudah Prof. Setahun terakhir makin banyak yang panggil Prof., terutama para mahasiswa saya di Prodi MM-Uhamka karena mungkin, kepala sudah mulai botak. Dan saat ini saya banyak di Rektorat membantu Pak Rektor dalam hal Akademik, Litbang dan Penjaminan Mutu. Eh, temen yang lain juga ikut-ikutan. Dikira saya sudah jadi Profesor Riset. Padahal masih jauh. Mungkin juga nggak akan pernah karena saat ini untuk jadi Prof, apalagi dari jalur akademis makin ketat. Jalur ilmu saya tidak linier dan saya sendiri bukan dosen tetap.

Lebih parah lagi, ketika saya up-load gambar saya bersama Pak Rektor dan para Wakil Rektor di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka pada acara Wisuda Magister, Sarjana dan Diploma 21 Desember yang lalu, selain para mahasiswa saya yg mengucapkan selamat (entah ucapan selamat untuk apa, toh mereka juga tau karena ikut diwisuda), temen-temen yang lain berinterpretasi kalo itu acara Pengukuhan Guru Besar. (Padahal Kukuh juga tau kalo saya sering dipanggil Prof, tetapi belum menjabat sebagai Guru Besar). Sampai ada seorang teman yang penasaran, saya gak tau motifnya apa mempertanyakan hal tersebut lewat FB. Saya sebenarnya males untuk menjawabnya. Tapi untuk hak informasi publik, saya jawab bahwa saya belum punya pangkat akademik Guru Besar.

Semua itu, ya gak apa-apa. Kan enak, kadang jadi Bos, kadang jadi Komandan dan kadang jadi Profesor. Yang penting tidak merugikan orang lain dan tidak menyalahi hukum pidana. Toh gak akan disalahgunakan. Paling tidak oleh saya.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Social & Daily Life. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bos, Komandan dan Profesor

  1. Ping balik: Gambar waktu Wisuda Uhamka 2010 « Lintasan Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s