Ditolak..

Pernah Anda ditolak ? Bagaimana rasanya ketika Anda ditolak ? Siapa ? Saya ? Ditolak dalam hal apa ? Cinta ?

Saya sudah pernah beberapa kali mengalami penolakan. Di usia seperti ini rasanya emang gak enak kalo ditolak. Mulanya, bahkan, sakit. (Mungkin bagi pemasar, mestinya penolakan adalah hal biasa.) Bahkan rasanya mau marah.

Coba saya ingat-ingat. Di bengkel ada dua kali. Pertama di bengkel motor. Motor saya motor tua, jelek. Honda Star Tahun 1994. Belinya cuma 2,7 juta. Kondisinya parah. Ini motor buat operasional depot air di Beji, sebagai ganti motor Honda Supra Tahun 2000 yang hilang. Saya minta tolong Iyan untuk bawa ke bengkel langganan. Kalo saya bawa sendiri sih gak pernah ditolak. Waktu itu shock-breakernya patah. Oleh Iyan, sudah dibilang kalo motor ini motor saya. Karena gak sempet, saya minta tolong Iyan. Mustinya ini tugas Santo. Tapi karena wilayah kerja Santo agak jauh, saya minta bantuan Iyan. Oleh bengkel dibilang gak sempet, banyak kerjaan. Silahkan bawa ke bengkel lain aja. Saya gak abis ngerti kenapa bilangnya gak sempet. Kan bisa dijadwal. Ini penolakan. Ya sudah… Kapok dah bawa ke bengkel itu. Tapi ini terus terang bisa jadi bahan introspeksi. Kenapa ditolak ?

Pengalaman kedua terkait dengan penolakan di bengkel adalah ketika “door-guard” dalam bentuk list pintu depan kanan, Kijang Inova lepas. Ini asli dari pabriknya. Lemnya emang keras banget. Habis cuci mobil di Simbisa, Jagakarsa, saya tanya ke bengkel apa bisa betulin. Jawabannya agak ragu-ragu. Tapi disarankan cuci aja dulu.Lha ya iya emang saya mau cuci. Hari itu hari Jumat pagi. Keraguan bisa dimafhum karena takut gak keburu. Tapi setelah cuci selesai, kok gak jelas. Saya tanya lagi, bisa gak. Ternyata gak bisa. Supervisornya minta maaf atas hal ini. Ya udah, wong gak bisa kok. Tapi saya tau ini penolakan karena mungkin kerjaannya kecil tapi rada susah. Ya udah..nanti aja di bengkel resmi Toyota. (Setelah beberapa bulan kemudian, ketika tiba waktu servis reguler, pasang “door-guard” tersebut malah gratis. Emang katanya mbongkar lem-nya agak keras).

Penolakan berikut adalah ketika saya nitip isteri saya nyetor uang di Bank. Bank ini termasuk gak gitu rame. Sebelum ini semua karyawannya sangat friendly. Kenal customer satu-satu, termasuk saya dan isteri. Terutama CS dan Tellernya. Kami punya beberapa account. Satu ketika isteri saya punya keperluan ke Bank, tapi saya gak sempet nganter. Saya juga punya kepentingan untuk nyetor, tapi uangnya recehan. Uang kertas ribuan, sejumlah 1,5 juta. Uang sudah diikat untuk setiap 100rb dan sudah disusun dengan rapi dan teratur. Emang, kadang ada yang sudah rada kumal. Tapi, masa mo dibuang. Seperti biasa, isteri saya ke CS dulu, baru ke Teller. Dengan alasan sudah “over-stock” setoran isteri saya ditolak. Rada aneh juga, kok Bank bisa nolak setoran gara-gara uang yang disetor recehan. Emang sih, ngitungnya makan waktu karena gak akan cukup sekali. Saya sendiri pernah nyetor pecahan ribuan sejumlah 3,5 juta. Kalo rata-rata satu ikat (100 rb) dihitung 3 kali, ya emang jadi 100 kali ngitung. Mustinya gak ada alasan untuk nolak karena harus ngitung berkali-kali, dan nilai uangnya cuma “segitu”. Waktu isteri saya ingin cari solusi, ya tetep aja setoran gak bisa diterima. Terus terang isteri saya bilang kecewa ke Tellernya. Dan dengan perasaan kecewa, uang sekantong kresek tersebut dibawa kembali. Sorenya, saya terima telpon dari CS-nya yang menurut dia dia baru diberitahu CS yang tadi berhubungan dengan isteri saya. Sambil minta maaf, CS`tersebut mempersilahkan saya untuk menyetor uang trecehan tersebut. Saya bilang, uang sudah disetor ke Bank lain. Kami juga punya beberapa account di Bank lain. Sampe beberapa bulan kemudian, ketika saya ngecek saldo (dari satu account yang nomornya diganti dan sudah lebih dari 3 bulan gak ada laporan) dan saya bilang bahwa dari 8 kali telpon, dua kali sempat masuk dan kedua-duanya gak bisa disambungkan ke CS dengan alasan sedang “on-line” atau sedang melayani nasabah. Akhirnya saya langsung ke Bank dan komplain soal ini. Kemudian CS rupanya masih ingat dengan setoran uang recehan beberapa bulan yang lalu, dan kembali mempersilahkan saya untuk menyetornya jika masih ada. Saya bilang uang recehan seribuan selalu ada di kami. Banyak orang yang membutuhkan uang recehan, jadi gak terlalu masalah. CS rupanya merasa gak enak karena Teller pernah nolak. Bahkan CS siap menjemput. Saya juga bilang kalo saya siap untuk melanggar kontrak dengan finalti. Untuk menunjukkan kalo saya kecewa dengan pelayanan Bank. Tapi ya sudahlah…

Penolakan yang sebenarnya prosesnya sudah lama adalah ditolaknya kami (bukan cuma saya, tapi yang paling gak habis mengerti ya saya) sebagai dosen pada suatu Universitas swasta di Jakarta. Maksudnya ditolak untuk mendapat SK Rektor karena kami masih PNS. Padahal, untuk diketahui, saya terlibat dalam proses belajar-mengajar di Universitas tersebut, sama sekali bukan ide saya. Begini ceritranya. Waktu saya sedang mengurus akreditasi Ijazah S-3 yang saya peroleh dari University of Queensland, Australia, tiba-tiba saya dihubungi oleh Wakil Rektor Bidang Akademis dari Universitas tersebut yang meminta saya bergabung karena mereka sedang mengusulkan ijin untuk membuka Program Studi Magister Manajemen. Sebagai warga Muhammadiyah, walaupun beda wilayah, dan bahkan saya waktu itu sebagai Ketua salah satu Majlis di PDM-Kota Depok dan pada periode ini sebagai wakil Ketua, ok..ok saja. Toh gak ada ruginya. Selama itu saya juga sudah terlibat proses belajar-mengajar pada beberapa Universitas/Institut. Jadilah nama saya dipake sebagai dosen tulang punggung program ini.(Untuk diketahui, setelah 10 tahun berjalan, yang namanya dosen pendiri sudah pada “kabur” semua, karena gak jelas statusnya. Ada yang sejak awal dapat SK Rektor, tapi gak pernah terima honor atas dasar SK tersebut). Setelah beberapa tahun berjalan dan akreditasinya pas-pasan, ada upaya untuk me-reakreditasi. Yang jadi soal ini program gak punya dosen tetap, karena emang gak mau ngangkat tenaga dosen tetap (Mungkin ada resiko fix-cost, tapi kok ya begini dangkal pemikirannya) sampe-sampe Sekretaris Program ceritra ke saya gak habis mengerti soal ini (Soalnya beliau yang pontang-panting ngurus soal akreditasi). Lalu, saya gimana ? Kecewa ? Gak juga karena sudah kebal. Beberapa tahun yang lalu Fakultas sudah pernah ngurus soal ini dan mentok di Rektorat. Di luar Universitas, saya diakui sebagai dosen tetap karena terkait dengan ijin operasional dan akreditasi. Di dalem, boro-boro. Sampe-sampe dekan dan kajur gak enak hati sama saya karena urusannya mentok. Yooo wis…Cuman saya agak bingun introspeksinya dalam kasus ini.

Penolakan yang rada gress adalah kira-kira sebulan yang lalu. Sebuah konsultan pendidikan minta kepada saya untuk terlibat dalam program pelatihan analisis input-output antar daerah (interregional input-output analysis) karena dia tahu sangat jarang orang yang akhli soal ini dan dia cuma punya akses ke saya. Tahun lalu saya juga pernah dua kali dilibatkan sebagai instruktur dalam pelatihan tersebut.

Dia minta ke saya untuk melampirkan fotocopy ijazah sebagai syarat untuk pengajuan proposal. Saya sih ok ok saja. Wong cuma fotocopy kan gampang aja. Konsultannya sendiri datang ke rumah untuk ambil fotocopy sambil ngobrol soal rencana-rencana pelatihan dan konsultasi yang lain. Sya bilang, materi pelatihan juga sudah ada, bahkan bukunya sudah saya tulis. Cuma belum sempat dicetak dalam jumlah banyak. Tapi hard-copynya ada. Soft-copynya kebawa ke komputer yang sudah “busuk”, maksud saya komputer yang sudah mati dan entah dimana kuburannya; sedangkan “back-up file”nya kok ngak bisa dibuka. Ya udah saya berikan materi tersebut untuk diperbanyak dan saya siap untuk menjadi instruktur di pelatihan tersebut, yang rencananya akan diselenggaran di Denpasar, awal Desember.

Di satu minggu siang, saya diberitahu kalo ada tamu yang nyari saya. Ternyata mas Ridwan dari konsultan dimaksud. Tanpa janji tanpa nelpon, tiba-tiba datang.Pasti ada maunya. Dengan polosnya dia ceritra bahwa pelatihan dimaksud jadi dilaksanakan, tapi ada tapinya. Menurut mas Ridwan, yang punya gawe gak mau kalo saya sebagai instrukturnya karena katanya penjelasannya susah dimengerti. Agak shock juga mendengernya. Sambil instrospeksi, saya coba memahami. Yang punya proyek sudah agak senior, mungkin seusia dengan saya, yang pada umunya “computer illiterate”. Apalagi yang namanya menggunakan “spread-sheet”. Susahnya, ngajari IO karena memang penuh dengan perhitungan, dan kita akan bisa ngitung kalo tau rumusnya. Saya mengerti kesulitan yang mereka hadapi. Atau mereka anggapnya terlalu serious. Ya udah kalo maunya begitu sih. Sebenarnya, saya punya beberapa soft-ware, untuk analisis IO, tapi percuma saja kalo ngak ngerti filosofinya. Ya udah, kalo dirasa sakit emang sakit juga sih. Soalnya di beberapa kampus saya ngajar orang-orang tua atau setengah tua gak ada masalah, walaupun saya bukan dosen favorit. Saya gak tau apa proyek mas Ridwan terlaksana atau tidak karena saya tau agak susah nyari orang yang ngerti analisis IO, apalagi IRIO (Interregional Input-Output). Kecuali kalo emang proses pembelajaran dianggap gak penting…

So. apa pelajaran penting yang bisa diambil dari sini ?

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Social & Daily Life. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s