Air, Air dan Air (1)

Soal air, buat kami soal yang selalu bikin stress, tegang, panik dan bikin frustrasi. Sepertinya jadi trauma. Di tahun 1981, awal-awal membina rumah tangga, rumah yang kami tempati sekarang (sudah dua kali direnovasi) belum berlistrik; jalan di depan rumah masih belum beraspal. Penerangan pake lampu Aladin (ternyata sangat panas, membuat anak kami kepanasan, dan selalu menangis menjelang tidur, parahnya baru kami ngerti belakangan), yang kemudian kami ganti pake lampu tekan, petromak. Juga tetap terasa panas.Tapi mo gimana lagi ?

Karena belum berlistrik, air yang kami gunakan untuk minum, mandi dan cuci berasal dari sumur gali yang menggunakan timba (ember ditarik pake tambang). Karena sumur baru, kalo musim kemarau selalu kering. Rasanya sudah beberapa kali kemarau selalu kering dan Bang Tatang, tukang gali sumur, selalu kami panggil (Bang Tatang, walaupun kerjanya tukang gali sumur, kalo lagi ada layar tancep atau ada dangdung selalu tampil perlente). Menimba air, rasanya satu beban tersendiri. Udah pulang kerja cape, mau mandi mesti nimba dulu. Kadang-kadang airnya keruh karena embernya waktu ditarik mentok ke dinding sumur. Kalo mandi, rasanya sayang pake air karena ngambilnya susah.

Waktu listrik masuk dua tahun kemudian, saya pasang pompa kecil merk DAB yang saya gantung di sumur. Idenya, terus terang, waktu itu nyontek Pak Iding (sekarang Dr. Ir. Iding Chaidir, MSc), teman saya yang tinggal di Condet. Hebatnya (mungkin maksudnya hematnya) pemasangan saya lakukan sendiri, setelah pompanya saya beli di Jalan Kenari, Salemba. Mulanya, gak pake tangki penampungan. Tapi kemudian saya pasang juga tangki berukuran 250 liter yang saya pasang di atas asbes, persis di atas lubang sumur. Satu ketika, tangki itu terisi penuh. Rupanya asbesnya gak kuat menahan beban. Ambruklah si asbes tadi. Terpaksa panggil tukang untuk memperbaikinya.

Dalam penjalanannya (mo jalan kemana seeh), sering banyak masalah. Bukan saja listriknya suka turun.(mati, gak kuat karena bebannya lebih besar dari daya tersedia), pompanya ada aja problemnya. Selain itu, kadang pada musin kemarau airnya turun, sehingga pompanya terpaksa harus diturunkan. Pernah satu ketika, pompa saya angkat ke atas. Lagi saya test di atas meja setrikaan, karena getarannya kencang, pompa jatuh. Waalaah, bencana kedua karena pompanya pecah. Mo marah, marah sama siapa, wong saya sendiri yang ngerjain. Mo kesel kesel sendirian, wong nggak ada yang bantuin. Lama-lama soal pompa, soal air maksute, saya serahkan keahlinya. (Siapa yang suka nyerahin ke ahlinya.. hayooo). Ternyata, yang ngaku ahli juga baru belajar mo jadi tukang pompa karena habis di pehaka. Ya udah, pokoknya saya serahkan sepenuhnya kepada si tukang. Cuma karena saya merasa ngerti sedikit-banyak, sering juga saya gak sabar karena tahu dianya masih belum begitu ngerti.

Ketika rumah direnovasi untuk kedua kalinya, sumur timba tadi ditutup dan untuk pompa dipantek lagi ditempat yang lain. Karena waktu itu jet-pump masih mahal (sebenarnya sih karena anggaran renovasinya yang sudah mepet), saya masih pake pompa yang biasa yang daya sedotnya 9 meter saja (Kolo menurut teori fisika, sekitar 10an meter). Terpaksa lubang yang dipantek digali dulu sekitar 4 – 5 meter, supaya pompanya bisa nyedot air.. Kalo musim kemarau, sering juga masalah karena muka air tanah turun, sehingga pompa nggak dapet air. Benar-benar bikin stresss.

Karena soal air sangat..sangat..membuat snewen, akhirnya saya putuskan untuk mantek lagi, yang pake mesin hidrolik.(Saya lupa itu tahun berapa, tapi renovasi rumah tahun 1997an, beberapa bulan setelah kami kembali dari Brisbane, Australia). Gak tanggung-tanggung, saya minta yang 40 meter. Baru tiga hari, pengeboran sudah dapet 29 meter. Tapi kata si Mas yang biasa ngebor untuk sumur minyak, ada masalah dengan diesel yang mensuplai air ke dalam lubang pantekan. Sudah lapor ke boss-nya, tapi bossnya gak mau keluar dana (kalo masih bisa dipake, pake aja). Bener aja, ternyata, mata bor kejepit sehingga macet. Waktu dipaksa untuk dianggkat, 2 batang pipa dan mata bornya ketinggalan di dasarnya. Pekerjaan tertunda. Si Bossnya malah datengin dukun, supaya pengeboran berikutnya gak ada masalah (Orang dieselnya yang bermasalah, kok dukun yang dipanggil. Yang diuntungkan adalah kucing-kucing yang biasa maen di belakang rumah, karena mereka dapat menikmati bekakak, ayam panggang yang disajikan bersama 7 macem air, sebagai sesajen). Akhirnya pengeboran selesai, pompa baru, jet-pump, juga dipasang. Sepertinya amanlah soal air ini.

Ternyata gak juga. Sesekali ada aja persoalan. Bukan karena airnya kering, tapi lebih sering karena relay otomatis yang dipasang ditangki sering juga ada masalah. Paling sebel, kemaren malem. Jam 20an Nissa ngasih tau kalo air habis. Saya lagi asyik maen speda.. eh bukan lagi pake speedy yang kecepatannya kayak kecepatan sepeda, gak begitu ngeh. Saya pikir, air galon di dispenser. Gak taunya, air di tangki kayaknya habis karena kran gak bisa ngalirin air. Ternyata, ini karena pompanya gak hidup. Memang sebelumnya, dua hari berturut-turut, pompa dihidupkan secara manual ketika ketahuan kalo dua tangki, airnya sudah kosong, tapi pompanya gak otomatis on. Kejadian pertama karena stop kontaknya tidak on (beberapa minggu ini tempat setrika memang dipindah ke dekat stop kontak pompa air, yang seharusnya selalu on; tapi mungkin karena kesenggol jadi off). Yang kedua juga begitu. Masa sih membuat dua kesalahan yang sama dua hari berturut. Lalu isteri saya ngingetin sang asisten yang gosok pakaian agar memperhatikan jangan sampe stop kontak untuk pompa jadi off. Kejadian ketiga, ya malam-malam itu. Repotnya, air di dua tangki itu dipake banyak orang. Setidaknya kami di rumah bertiga. Aris dan temen-temen berlima. Ada mas Eko, ada kamar mandi di Depot dan juga kamar mandi di Kios. Sumber airnya sama. Sengsaralah kita semua. Saya yakin pagi-paginya semua akan kerepotan. Isteri saya paling stress setelah diberi tau ada masalah dengan pompa. Saya sudah coba hidupkan secara manual. Gak ada suara mesin hidup. Tengah malem, gak ada senter lagi. Terus hujan gerimis. Ya udah pasrah aja. Gak usah dipikirin sekarang. Besok aja pagi-pagi baru dikerjain. Tapi ya gak bisa juga. Lewat tengah malam saya baru bisa memejamkan mata. Pompa tetep aja jadi pikiran.

Begitu, adzan subuh terdengar pada pagi harinya, ternyata isteri saya sudah mengungsi ke rumah Bapak (yang jaraknya cuma beberapa meter saja), sekalian bawa ember untuk ngambil air buat persediaan. Saya ambil emergency light dan buka gembok rumah pompa (maksud saya kotak pompa), periksa kalo-kalo ada kabel yang gak kesambung. Beberapa kali stop-kontak di on, tetap aja gak ada tanda-tanda. Mana udah kebelet lagi. Akhirnya gak tahan juga. Untungnya isteri bawa air di ember. Tapi, tau saya habis nongkrong di WC, dia balik lagi untuk ambil air di ember yang tadi. Beress. Tapi, kembali lagi ke pompa (bukan ke Laptop ya Kul). Mo nelpon tukang pompa langganan, masih pagi banget. Lagian semua nomor di HP isteri saya kehapus gara-gara mau hapus sms, gak pake kaca mata, malah phone-booknya yang wasalam. Ya udah, tunggu siangan dikit dah.

Setelah rada terang, isteri saya bangunin Aris dan Santo. Saya minta Aris (atau siapa aja yang bisa) naek ke menara (sebenarnya sih gudang, tapi tingginya hampir 5 meter, dak-nya dicor, buat tempat bertenggernya dua tangki, masing-masing 500 liter dan 250 liter) untuk mengecek relay otomatis. Aris kayaknya punya ketrampilan untuk nukang. Setelah relay dibuka, dikutak-dikatik, kabel-kabel diperiksa, dan ada respon dari pompamnya. Akhirnya ngeeeengggg…, setalah stop-kontak saya on-kan, pompa hidup dan hanya dalam waktu kurang dari 20 menit, dua tangki penuh. Menurut Aris, relaynya sudah lemah. Padahal baru beberapa bulan dipasang. Ya..udah. Yang penting air naik dan hati merasa lega. Tapi saya harus segera ganti relay-nya supaya benar-benar tenang, karena saya tetap was-was, kalo-kalo air gak naik dan di rumah gak ada orang. Aris pulang jam 20an. Yang ada cuma Iyan, dia gak ngerti soal yang beginian. Untungnya, tadi sore saya denger suara pompa bekerja, menandakan otomatisnya masih jalan. Tapi, saya janji dalam hati agar dalam waktu dekat relay diperiksa secara komprehensif agar tidak membuat panik.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Social & Daily Life. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s