Mudik Macet, Salaman Macet

Kalo kita pantau acara/laporan mudik sejaka H-7 sampe H+4, dimana-mana ditemui jalan yang macet. Macet artinya jumlah yang mo lewat lebih besar dari kapasitas tampung jalannya. Itu emang gak aneh, soale yang mau lewat jalan itu banyak; melebih dari daya tampungnya. Begitu juga dengan arus baliknya, karena PNS senin ini sudah harus masuk kantor. Kalo gak, ancamannya menakutkan. Ada yang diturunkan pangkat. Diancam diberhentikan. Ngeri deeh.

 

Ternyata, bukan cuma mudik dan arus baliknya yang macet. Mo salaman di acara Hal-bi Halal juga macet. Sebelum salam-salam kan ada acara hello hello, minta maaf. Yang dengerin pada ngerumun. Gak baris. Bayangkan dari kerumunan yang sporadis (baris dari segala arah) menuju satu baris. Semuanya ingin duluan. Jadilah macet, tapi gak apa-apa kalo maunya emang macet seperti itu.

 

Kalo polanya yang banyak nyamperin yang sedikit, ya seperti itu jadinya. Kalo paradigmanya dirubah, dimana yang sedikit nyamperin yang banyak mungkin gak macet. Tapi yang banyaknya diatur barisnya. Sayangnya, perubahan paradigma ini susah karena yang sedikit itu yang mestinya dihormati. Yang sedikit itu yang maha memiliki, sehingga yang minta harus dateng ke yang punya. Padahal, tidak akan berkurang kemuliaan yang sedikit kalo mereka yang keliling; dalam konteks minta maaf.

 

Semua Meminta; Gak ada yang Memberi

 

Kalo kita perhatikan, semua orang minta maaf. Jarang yang kita dengar memberi maaf; kecuali sambil bercanda. Disini bukan soal memberi dan meminta, seperti yang pernah saya tulis. Minta maaf, lebih dalam konteks pengakuan bersalah, Saya bersalah, maka maafkan saya.  Itu tindakan yang mulia. Sehingga kalo ada yang bilang, ya anda saya maafkan mungkin bisa berarti, saya gak salah, anda yang salah. Maka itu anda saya maafkan.

 

Sebenarnya antara meminta dan memberi (maaf) sering sama beratnya. Kalo ada yang dengan tulus meminta, jangan sungkan-sungkan untuk memaaftkan. Begitu juga memaafkan. Ini seringkali menjadi pekerjaan yang berat. Apalagi kalo substansinya spesifik. Kalo yang umum-umum kayaknya gak masalah.

 

Saya kira, memnta maaf mestinya sudah sangat spesifik. Tapi kalo Lebaran, biasanya orang minta maaf secara umum saja Pokoknya borongan aja. Mungkin susah juga mau merinci, maaf atas perbuatan yang mana ?. Yang umum kayaknya lebih ringan, dibanding yang spesifik. Dan momen pada saat lebaran ini dimanfaatkan. Walaupun sering kali, setelah itu ya masih sama aja dengan yang sebelumnya.

 

Ya udah, saya minta maaf juga deh. Kalo ada yang minta, ya udah ambil sendiri.

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s