Jangan Sakit, Kecuali Punya Duit (Sekarung)

Ini kesimpulan ngobrol di pinggir jalan antara saya, Cecep dan Milung. Cecep adalah sopir adik ipar saya dan Milung adalah juragan tenda, yang menyewakan tenda untuk berbagai acara. Pagi itu, kami ngobrol di pinggir jalan deket rumah saya, karena nyetop Milung (nama sebenarnya Endin Muhidin, temen saya sejak SD; tapi dianya gak melanjutkan ke SMP; tapi beruntung dapet isteri guru dan mertuanya punya tanah luas. Orangnya tinggi, dulu sih kurus, makanya dipanggil Milung karena mirip sama Pak Milung (siapa lagi ?)) yang lewat setelah ngontrol pemasangan tenda di rumah Rektor Uhamka, di Jln. Sempu Beji. Saya bilang ke Milung, saya mestinya diundang. Biasanya lewat sms (ternyata, emang ada sms, cuma masuk ke nomer Esia saya yang sekarang dipake sama isteri), tapi karena isteri saya sibuk bolak balik RS gak sempet kasih tau kalo ada undangan buka puasa bersama di rumah pak Rektor. Ini terjadi kira-kira 10 hari yang lalu.

 

Pembicaraan kami di pinggir jalan sekitar penyakit dan biaya perawatan di rumah sakit. Mertua Milung pernah dirawat di Rumah sakit Kanker Darmais. Saya bisa ngebayangin, gimana bisa tembus ke Darmais. Waktu adik ipar saya (alm) dirujuk ke Darmais oleh dokter di RS Graha Permata Ibu (RS GPI) terpaksa dibawa balik ke RS GPI karena gak diterima di Darmais lantaran gak ada tempat. Bagi kami saat itu, RS benar-benar jadi hutan belantara. Jangan sembarangan masuk kalo gak kenal sama macan, sama kancil bahkan sama babi dan monyet. Apalagi kalo gak bawa senjata. Membawa rujukan malah bisa jadi bumerang (senjata tradisonal suku Aborigin di Australia yang kalo dilempar bisa balik lagi). Kalo alasan gak ada ruangan rawat, sementara pasien memang harus dirawat, selesai sudah. Mo apalagi ?

 

Usaha kami “memasukkan” adik kami ke Darmais kemudian berhasil, cuma karena deket rumah saya (yang baru kami ketahui belakangan) tinggal salah seorang sekretaris Direktur RS Darmais. Dengan bantuannya, akhirnya, adik kami bisa dirawat di sana. Tentu semua biaya tetap kami yang tanggung. Tapi kami sangat dimudahkan segala urusannya, dari mencarikan dokter yang merawat sampai mencarikan ruangan perawatan.. Sayang, kondisi adik kami sudah “berat”, kanker yang sudah lanjut, sudah menyebar sampe ke paru-paru. Cuma bisa bertahan 3 hari di RS Darmais. Itu kira-kira dua tahun yang lalu.

 

Selanjutnya, Milung ceritra tentang Ibu Mertuanya juga kena kanker. Semua urusan mesti uang tunai karena orang sudah tua, bukan pegawai, gak punya askes.  Siapa yang menjamin ? Duit. Paket chemoteraphy misalnya, harus bayar cash. Istilah dia, perlu duit sekarung buat berobat. Hasilnya ? Siapa yang bisa jamin.

 

Saya jadi ingat ceritra seorang teman, masih muda (setidaknya jauh lebih muda dari saya) bukan hanya karena belum menikah. Juga kena CA (istilah para dokter untuk kanker), yang menurut teman-teman yang sempat menjenguknya harus disinar 35 kali. Tiap kali biayanya Rp. 2,5 juta. Konon sudah menjual rumahnya di Yogya. Siapa yang bisa jamin kalo kanker otaknya bisa sembuh. Dokter yang merawat adik kami juga pernah bilang begini : “karena kondisi pasien sudah stadium lanjut, maka upaya yang bisa dilakukan adalah sekedar menghilangkan rasa sakit; mengurangi penderitaan saja. Kalaupun kami punya uang; apalagi harus jual rumah segala, dokter tidak menyarankan untuk melakukan tindakan”. Dirawat di ICU saja dokter tidak merekomendasikan. Memang, ternyata kemudian, ketentuan Yang di Atas Sana  telah sampe. Dua hari setelah diskusi dengan dokter tersebut, adik kami dipanggil yang maha pencipta.

 

Hal serupa juga pernah disarankan oleh dokter yang merawat Ayah saya, di usianya yang 73 tahun terkena kanker usus (CA Colon, begitu istilahnya). Penyebarannya cepat sekali, bahkan ketika kami semua tidak sadar bahwa stadiumnya sudah lanjut. Atas jasa baik seorang kenalan Bapak, yang anaknya dokter di RSCM, penyakit Bapak diperiksa secara menyeluruh; bahkan sempat dirawat inap selama 10 hari agar pemeriksaan bisa lebih mudah (Masalahnya, biayanya juga tidak murah; apalagi Bapak yang bukan PNS yang tidak punya asuransi. Mana ada perusahaan asuransi yang mau menanggung mereka yang usianya lebih dari 55 tahun). Kanker usus yang diderita Bapak ternyata sudah tahap lanjut. Dunia kedokteran hanya punya satu solusi yaitu potong usus yang kena CA. Masalahnya, tidak ada jaminan sama sekali terhadap keberhasilannya. Selain itu, usia Bapak sudah di atas 70 tahun, daya tahan tubuhnya riskan kalo dioperasi. Bagi kami, yang juga jadi masalah adalah biayanya tidak sedikit, karena setelah operasi harus dilanjutkan dengan chemo atau penyinaran juga. Yang biayanya sangat berat dan tindakan sangat menyakitkan bagi pasien. Kalo gitu buat apa ??

 

Kalo melihat tarif perawatan, kita juga harus cermat. Jangan hanya terpaku pada tarif ruang perawatan. Secara umum, tergantung dimana dan kelas RS-nya, Biaya perawatan di Kelas 3, biasanya sekitar Rp. 100an rb; Kelas 2 sekitar Rp. 200an rb; Kelas 1 sekitar Rp. 400an rb; VIP sekitar Rp. 600an – 700an rb. Kalo cuma lihat tarif ruangan,  sepertinya masih terjangkau.Apalagi ketika kita tidak punya pilihan. Barangkali dana kita cuma untuk ruang perawatan Kelas 2, tapi karena semua penuh, yang ada cuma  Kelas 1 dan VIP, kita gak punya pilihan  Kasus Ibu Mertua saya baru-baru ini, biaya untuk obat ternyata sangat dominan. Kita sering lupa kalo masih ada biaya periksa lab dan bahkan biaya penggunaan fasilitas. Dari total biaya sekitar Rp. 22 jt untuk perawatan 2 hari di ICU dan 4 hari di Kelas 1, biaya ruangan cuma Rp. 3,2 juta. Tapi biaya obat-obatan Rp. 10 jt lebih. Tentu saja ini juga sangat tergantung pada jenis penyakitnya, di ruang Kelas berapa dirawat, dan di RS mana.

 

Bagaimanapun, kemudian kita  jadi betul-betul sadar, bahwa sehat itu muahal. Laham atak kana ngalaM.Sering baru kita sadari ketika kita atau keluarga kita ada yang sakit. Bener juga kata Milung, jangan sakit dah kalo gak punya duit sekarung !!!!!

 

Masalahnya ada dua. Pertama, bagaimana menghindari supaya tidak sakit ??? Yang kedua, bagaimana caranya supaya bisa punya duit sekarung ????  Milung cuma geleng-geleng kepala. Ada saran???

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Jangan Sakit, Kecuali Punya Duit (Sekarung)

  1. Ping balik: Selamat Jalan Ira …. « Lintasan Kehidupan

  2. abidah muhlisoh berkata:

    Pak membaca cerita bapak saya jadi keder sendiri untuk berobatin bapak yang kena kanker juga saat ini bapak minum herbal tapi kami ingin bapak diobatin secara medis juga biar tahu perkembangannya.ada gk ya yang pengobatannya membantu wong cilik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s