LEBARAN DI RS (2)

Di saat lagi seneng-senengnya jadi MC (momong cucu), kembali kami harus bolak-balik RS. Ibu mertua saya, terkena strook ringan. Hari Minggu, 21 September 2008, ketika saya dan isteri sedang dalam perjalanan ke Cibungbulang melayat Muchlis yang meninggal karena kecelakaan, Ida (adik ipar saya) nelpon memberitahu dan minta saran karena tangan dan kaki Ibu yang kiri sudah tidak bisa digerakkan. Karena kami baru menuju rumah duka, urusan Ibu diserahkan kepada adik-adik. Setelah berkonsultasi dan dilakukan terapi, disarankan untuk memeriksakan Ibu ke dokter syaraf.

 

Ibu memang sudah lama (lebih dari 20 tahun) mengidap diabet, sakit gula. Kadar gula darahnya selalu tinggi, sekitar 300an. Sudah berobat kemana-mana, termasuk juga ke pengobatan alternatif. Sayangnya, beliau itu gak (mau) paham tentang diabet. Waktu kondisinya masih bagus, pernah kami konsultasikan ke dokter penyakit dalam dan juga ahli gizi. Tapi karena tidak mau (karena mungkin gak ngerti, atau gak mau ngerti) menuruti aturan diet dan, juga sepertinya gak terima penyakitnya,  kondisinya malah bukan makin membaik. Kemudian, pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Gak boleh denger ada pengobatan alternatif, mesti “memaksa” untuk mendatanginya. Saya pernah bilang, kemana saja Ibu mau berobat akan saya antar (mungkin sudah campur-campur antara berbakti dan “ngambul”).

 

Beberapa bulan terahir kondisinya memang makin berat. Keluhan utamanya adalah penglihatan yang semakin kabur. Yang paling berat bagi yang merawatnya adalah siklus tidurnya yang kacau. Pagi jam 8 atau jam 9 sudah tidur. Malam hari, jam 22 sampai jam  02 pagi melek dan selalu manggil-manggil Bapak dan Dede (adik ipar saya yang bungsu yang masih ikut Ibu dan bapak). Alasannya karena beliau merasa gak melihat (padahal beberapa test membuktikan bahwa sebenarnya Ibu masih bisa melihat dan membedakan obyek pandang; cuma mungkin agak kabur, ya wajar saja, wong sudah tua). 

 

Hari Senin pagi, Nissa dan beberapa paman dan tantenya, membawa Ibu ke RS Grha Permata Ibu (GPI), RS yang paling dekat dengan tempat tinggal kami. Karena gak pake ngecek dulu, ternyata dokter syaraf prakteknya malam hari. Jadwalnya pk. 19.00-selesai. (Pada bulan Ramadhan ini diundur menjadi jam 21.00-selesai). Terpaksa pulang lagi dan balik pada malam harinya. Setelah menunggu cukup lama, lebih dari dua jam, karena sejak jam 17an ibu dengan sangat “rewel”nya minta untuk segera diantar ke RS. Jadi setelah berbuka puasa, kami berangkat ke RS yang jaraknya gak sampe 5 menit dari rumah.

 

Kami berkonsultasi dengan Dokter Diah S, ahli syaraf yang sehari-harinya bertugas di RSAD Gatot Subroto Jakarta, tapi tinggal di Bukit Cengkeh Depok. Bu Dokter yang baru beberapa bulan pindah dari Semarang ke Jakarta menyarankan untuk Rawat Inap dalam rangka melakukan pemeriksaan. Mengingat kondisi bulan puasa dan sudah dekat lebaran, serta jarak rumah yang dekat dan kondisi Ibu masih memungkinkan, kami nawar agar Rawat Jalan saja. Dokterpun mengijinkan.Pemeriksaan lab dan radiologi dilakukan. Citi-Scan gak bisa dilakukan di RS GPI dan dirujuk ke RS Puri Cinere. Dr Diah minta agak Ibu diperiksa lagi Rabu, 24 September 2008 dengan membawa hasil lab, radiologi dan scan-nya.

 

Selasa, saya harus ke kantor dan isteri saya juga masih masuk kerja. Rabu pagi, Ibu kami bawa dulu ke RS GPI, ambil darah untuk periksa gula puasa. Tanpa turun dari mobil,  kami minta petugas ambil darah Ibu (Isteri saya punya keponakan yang jadi perawat di RS GPI dan semua urusan dia yang melakukannya). Kami kemudian menuju RS Puri Cinere (dimana sebelumnya kami sudah kontak tetangga yang juga masih ada kaitan famili, yang jadi perawat di RS Puri Cinere) dan urusan scan dengan lancar dilakukan. Kami sempat dijelaskan oleh dokter bahwa Ibu memang terkena strook ringan. Ada penyempitan, tapi bukan karena benturan.Lebih karena usia. Tidak ada pendarahan. Lalu kami segera pulang dan  jam 10 pagi kami sudah sampe rumah lagi.

 

Karena masih banyak hal yang harus dikerjakan, kami tinggal Ibu di rumah dengan dijaga adik-adik. Setelah diberi makan, Ibu tidur. Jam 12an, setelah adzan dhuhur, Ibu masih saja tidur. Beberapa kali dipanggil, dibangunkan untuk minum obat, tetap saja gak bangun. Jam 14an isteri saya ditilpon Bapak; rumah kami dan rumah Bapak cuma berjarak beberapa meter. Isteri saya kemudian berkordinasi dengan Ira (keponakan yang perawat di RS GPI) dan memutuskan untuk segera membawa Ibu ke RS. Rame-rame kami berangkat. Kemudian, Saudara-saudara Ibu sekandung juga menyusul ke RS. Setelah berkonsultasi dengan dr Diah yang masih bertugas di RS Harapan Bunda, Pasar Rebo, diputuskan untuk opname di RS GPI. Kondisi Ibu masih belum sadar, tapi secara fisik masih memberi respon-respon. Jam 22an dr Diah visit (sore itu hujan sangat deras, angin kencang dan beberapa ruas jalan di Jakarta Selatan dilaporkan macet total)dan melihat kondisi seperti itu, sangat kaget dan kemudian menyarankan agar Ibu dirawat di ICU. Yang jadi masalah, ruang ICU sangat terbatas dan biayanya juga sangat mahal karena Ibu tidak punya fasilitas askes.

 

Dibantu pihak RS GPI, beberapa RS yang dihubungi semua fasilitas ICU-nya ternyata penuh (Rata-rata satu RS Cuma punya 2 ruang ICU). Ini bikin panik. Jam 23an kami diberi tahu bahwa RS Mitra Keluarga Depok di Jln Margonda (yang baru sebulan lalu di buka), lokasinya persis di samping Markas Polres Depok, seberang ITC-Depok masih bisa menerima pasien. Tapi wanti-wanti mereka memberi tahu bahwa untuk masuk ICU uang titipan (uang jaminan)nya Rp. 6,5 juta dan biaya hariannya diperkirakan Rp. 5 juta/hari. Dua kali kami konfirmasi bahwa kami siap. Apapun kami usahakan agar yang terbaik buat Ibu.

 

(Sementara kontak dengan adik ipar yang ada di BatangHari, Jambi dan di Dauwan, Kadipaten terus berlanjut. Nunung yang di Dauwan akan segera berangkat ke Depok. Sementara Aal yang di Jambi rencana berangkan besok sore segera setlah servis mobil yang akan dipake pulang).

 

Jam 00 lebih kami bawa Ibu ke RS MK (yang jaraknya pada malam hari itu, mungkin gak sampe 10 menit). Masuk ke UGD dan kami berkonsultasi dengan dr. Robby, masih muda, ganteng dan ramah. Menurut beliau kondisi Ibu masih baik karena masih memberi respon yang cukup baik. Ibu gak perlu masuk ICU, cukup di IMCU (Intermediate Care Unit, yang statusnya dibawah ICU, biayanya juga sedikit lebih murah, Rp. 6 juta uang titipan dan biaya kamar Rp. 600 rb/hari).

 

Hari kedua, kondisi Ibu makin membaik. Kesadaran sudah pulih. Melalui terapi, kaki dan tangan kiri sudah mulai bisa digerakkan. Kami bergantian menunggu di ruang tunggu, kalau-kalau ada panggilan dari ruang IMCU. Hari Sabtu, mestinya Ibu sudah bisa pindah ke ruang perawatan. Tapi karena masih ada treatmen terkait dengan inpeksi paru-paru, baru pada hari Minggu Ibu dipindah ke ruang perawatan. Sepertinya gak mungkin kalau hari Selasa, sehari sebelum Idul Fitri, ibu bisa pulang. Susahnya, dia mulai sadar dan selalu minta pulang.

 

Hari Minggu siang, Ibu dipindahkan ke ruang perawatan. Hitung-hitungan kami, maksimal di kelas 2. Sayang, semua fasilitas di kelas 2, penuh. Kami coba lihat di kelas 3, tapi terlalu ramai. Satu ruang untuk 6 pasien. Akhirnya setelah berunding (saya dan isteri) kami putuskan untuk di kelas 1 saja. Mulanya ditawarkan di ruang 319 (di lantai-3), tapi masih menunggu pasien yang ada, pulang. Terpaksa ditunggu sampe jam 12 (karena waktu check-outnya memang jam 12.00). Jam 13an belum juga ada berita. Padahal udah cape banget nungguin. Ahirnya ditawarkan di ruang 210, masih di lantai 2. Terus kami masih harus menunggu proses selanjutnya. Gak sabar kami masuk ke ruang IMCU, ketemu perawat untuk menanyakan kepindahan. Dijelaskan bahwa prosesnya akan dijemput oleh perawat ruang Bogenvile, tetapi ternyata menurut keterangan perawat masih menunggu proses yang lain, sehingga baru jam 16an Ibu dipindah.

 

Selama di ruang perawatan, kondisi kesadaran Ibu makin membaik. Sayangnya beliau gak mau ngerti proses pengobatan. Tiap detik selalu minta pulang. Bener saya kira pernyataan bahwa ketika usia sudah lanjut, tingkahlaku kembali ke anak-anak. Jadi kekanakkanakan. Selama 3 hari di ruang perawatan, yang diminta adalah pulang. Padahal anak-anaknya sudah menjelaskan dengan sabar, kenapa harus dirawat. Akhirnya, kemaren itu puncaknya. Beliau mogok. Gak mau makan dan gak mau minum. Gak mau terapi. Dokter dibilang tukang bohong. Perawat juga dibilang tukang bohong. Anak dan cucu yang menjaganya juga dimarahin. Ngambek. Gula darah bukannya turun, malah naik. Lebih parah ketimbang ketika di IMCU. Mulai dari 280an, terus naik sampe 400an. Padahal sudah disuntik insulin 2 kali sehari. Bahkan ada yang sempat 3 kali sehari.

 

Akhirnya, kami konsultasikan ke dokter, situasinya seperti itu. Menurut dokter, mungkin karena dorongan dari dalam untuk sembuh tidak ada. Dorongan untuk pulang lebih kuat. Dokter ahirnya angkat tangan. Boleh pulang, tapi pulang paksa. Keluarga harus menandatangani surat pernyataan pulang paksa. Jam 12 malam tadi Anwar, adik kami yang bertugas menjaga telpon bahwa dokter mengijinkan. Apa mau diurus malam ini atau besok pagi aja. Telpon saya berikan ke isteri; menurut isteri besok saja pagi-pagi kita urus.

 

Sebelum berangkat ke RS, pagi-pagi adik-adik isteri sudah dikumpulkan untuk bersama menyepakati tindakan yang akan dilakukan.Bawa pulang Ibu dengan segala resikonya. Mudah-mudahan ini bisa jadi obat. Soalnya percuma saja bertahan di RS kalo dari dalam dirinya gak ada motivasi untuk sembuh. Pagi ini kami semua berangkat ke RS, termasuk Bapak juga ikut. Saya sendiri, sebagai sopir, cukup mendrop dan mengurus administrasi ke Kasir. Jam 10an, kami meninggalkan  RS menuju rumah. Memang memperihatinkan karena pulang dalam kondisi yang masih parah. Sekali lagi, pulangnya Ibu mudah-mudahan jadi obat (sudahlah ini gak lagi pake logika).

 

Saya sendiri, terus terang, agak kurang puas. Karena sepertinya usaha kami sia-sia. Bukan karena penyakit Ibu belum sembuh, tapi lebih karena beliaunya gak punya niat untuk sembuh. Dan saya akan merasa lebih kecewa jika kondisinya ketika di rumah makin memburuk.  Apapun, semoga ini yang terbaik buat Ibu.

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s