Menulislah, Insya Allah Anda (Tetap) Sehat

Masih ingat atau pernah baca posting saya beberapa bulan yang lalu berjudul : SESIAPA YANG INGIN SEHAT, MAKA HENDAKLAH IA (SERING) MENULIS.  Tulisan itu saya kutip dari blog-nya Pak Yusuf Iskandar yang mengutipnya dari tulisan di satu media cetak, yang berkisah tetang seseorang yang diserang kanker otak, yang kemudian sembuh karena secara konsisten dan rajin menulis. Saya sih setuju-setuju saja karena dalam menulis, otak kita selalu diasah untuk mendeskripsikan sesuatu agar mudah dipahami oleh yang membacanya. Meski kadang-kadang tulisan kita sukar dimengerti.

 

Akhir 1980an, saya termotivasi untuk menulis karena atasan saya, sepulangnya dari tugas belajar di Belanda, selalu menulis di Media Cetak. Apa aja ditulisnya. Di awal-awal, beliau sering minta komentar ke saya, juga ke teman-teman yang lain, atas tulisannya. Beberapa tulisannya dimuat karena saya perbaiki. Bahkan ada satu tulisan yang dimuat di Kompas setelah saya edit. Padahal beliau sudah pernah mengirim ke Kompas lebih dari sepuluh kali.

 

Satu ketika, diam-diam, saya bikin tulisan saya sendiri. Saya kirim ke Harian Suara Karya, setelah sebelumnya satu tulisan beliau bersama saya diterbitkan oleh Harian yang sama. Beberapa hari kemudian, tulisan itu muncul. Beliau yang kasih tau ke saya. Wah hebat, katanya. Sejak saat itu beliau selalu menempel di papan pengumuman, tulisan siapa yang muncul di koran. Seterusnya, saya sering nulis di koran, terutama karena honornya lumayan juga. Kalo bisa muncul seminggu sekali aja, sudah sama dengan Gaji PGPS. Pernah dalam seminggu lebih dari 3 tulisan saya dimuat. Tentu bukan di Kompas. Di Harian Kompas, baru 2 kali tulisan saya dimuat. Susah tembusnya.

 

Kesempatan lomba karya tulis yang mensyaratkan tulisan pernah dimuat di Media Cetak sering juga dimanfaatkan. Bos saya itu sering sekali ikut. Tentu sering juga mendapat Juara. Hadiahnya, biasanya, sangat lumayan.. Satu ketika saya bilang ke beliau kalo saya mau ikut juga lomba karya tulis yang diselenggarakan PEMDA DKI. Beliau sudah sering jadi juara. Sambil bercanda saya bilang, maaf ya pak kalo tahun ini juaranya bukan bapak. Seperti beliau, saya juga mengirim beberapa tulisan yang pernah dimuat dan dibuat dalam rangka lomba tersebut. Seperti biasa, saya diberi tahu oleh beliau bahwa kali ini saya yang menang. Saya pura-pura aja. Masak seeh saya yang juara. Ternyata, memang benar. Saya dapat Juara Pertama; beliau Juara Kedua; Juara Ketigan : seorang wartawan senior dan Juara Harapan-1, temen saya juga. Setelah itu saya bilang ke beliau kalo saya mundur dari dunia tul-menul (tulis-menulis) di koran. Ternyata, kemudian, memang susah tembusnya. Sepulang dari Australia, cuma satu tulisan saya yang sempat tembus di Bisnis Indonesia. Lama gak menulis lagi. Akhirnya, sejak beberapa bulan terakhir saya mulai go blog. (Go bloging, menulis di blog, yang tulisannya seenaknya saya, pasti terbit. Masalahnya, mungkin gak ada yang baca).  Gak apa apa yang penting saya menulis, karena SESIAPA YANG INGIN SEHAT MAKA HENDAKLAH IA (SERING) MENULIS.

 

Selamat go blog.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s