LEBARAN : SALING BERBAGI

Salah satu makna lebaran yang paling dalam adalah saling berbagi. Begitu dinyatakan oleh satu media-elektronik, tentu dengan menyitir argumen-argumen religi. Wujudnya bisa macem-macem.

 

Sebelum tahun (berapa ya…, mungkin) 1990an, di keluarga kami (yang juga hampir sekampung) berbagi diwujudkan dalam bentuk berbagi makanan yang dianter dengan membawa rantang. Isinya nasi dan semur daging sapi/kerbau. Waktu kecil, saya sering disuruh Ibu untuk nganter ke tetangga (yang kebanyakan masih saudara). Pulangnya rantang tadi diisi lagi dengan kue-kue atau makanan lain. Kadang sayur; kadang ikan. Pokoknya, semangatnya adalah saling berbagi. Apa aja yang ada yang dimilki keluarga itu untuk Lebaran.. Buat anak-anak yang nganter rantang, biasanya dipersen (dibagi) uang. Makanya, Ibu-ibu gak terlalu kesulitan ngatur anak-anaknya dalam hal anter-menganter ini, karena anak-anaknya secara berebutan. Soalnya dapet duit.

 

Tahun 60an, ketika daging sapi/kerbau  masih merupakan “makanan mewah”. Makan daging sapi/kerbau bisa dibilang setahun sekali. Saya inget waktu kecil, karena suka ikut Bapak, masyarakat urunan beli sapi/kerbau dan disembelih sehari atau dua hari menjelang lebaran. Kegiatan ini dikenal dengan “andilan”, dimana mereka yang ikut andil (memberi kontribusi) dalam membeli dan menyembelih akan mendapat daging atau bagian lain dari sapi/kerbau yang disembelih. Jumlahnya proporsional dengan kontribusinya. Biasanya dalam bentuk paket; bisa satu paket, bisa dua paket, bisa juga setengah paket. Besaran paket sangat tergantung pada harga dan biaya pengadaan sapi/kerbau dan jumlah orang yang andil (jumlah paket). Misalnya harga sapi Rp. 7 juta dan jumlah paket 20 paket, maka setiap paket nilainya Rp. 350 ribu. Kalo ambil dua paket ya jadi Rp. 700 ribu atau kalo setengah paket cuma Rp. 175 ribu. Untuk yang satu atau dua paket gak masalah. Sebenarnya, yang setengah paket, juga gak masalah. Tapi biasanya panitia akan mencarikan pasangan bagi mereka yang mengambil setengah paket. Sehingga urusan membagi paket itu diserahkan kepada mereka. Bukan lagi tanggungjawab panitia.

 

Ketika kegiatan warga sudah makin beragam, kegiatan andilan sudah jauh berkurang. Sampe tahun 90an sudah jarang yang menyelenggarakan kegiatan andilan. Di RT kami  kegiatan andilan sudah lama tidak diselenggarakan. Soalnya, tukang sembelihnya sudah pada tua. Sedangkan generasi mudanya, gak ada yang bisa (mungkin gak mau) meneruskan tradisi ini. Ngapain repot-repot, mending ke pasar, Beli aja. Beres. Sekarang apalagi, di pasar modern tersedia daging impor dengan harga yang lebih murah. Lagian daging sapi/kerbau sudah tidak lagi menjadi bahan makanan yang luar biasa. Gak lagi setahun sekali. Kapan aja bisa makan, yang penting ada duitnya buat mbeli.

 

Makanya, kemudian, wujud saling berbagi sudah makin berubah, sejalan dengan proses industrialisasi. Yang dibagi bergeser ke makanan kaleng hasil industri; tukarannya (disebut berekatnya) juga hasil industri, walaupun makanan tradisional juga masih ada. Berekat, bisa makanan juga (tapi berbeda jenisnya), misalnya bawa kue kaleng, diberkatin indo-mie. Lebih sering makanan modern (hasil industri) ditukar dengan makanan tradisonal. Bisa dodol, bisa yang lain. Kalo dulu momen berbagi ya pada harinya (hari H) dan berlanjut sampe setelahnya, sekarang mungkin satu atau dua hari sebelum hari H (H-2 atau H-1) kegiatan saling berbagi sudah mulai. Ketika isteri saya manggil Nissa (anak kami yang paling kecil, skrg sudah semester 7 di FEUI) untuk nganter, biasanya saya (dengan gaya) mengumumkan, bilang bahwa BAIK SODARA-SODARA, ACARA TUKAR MENUKAR SEGERA DIMULAI.

 

Apapun dan bagaimanapun, semangatnya tetap saling berbagi di Idul Fitri. “SELAMAT BERLEBARAN”. “Taqobalallohu minna wa minkum”.

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s