Selamat Jalan, Shobat ; Selamat Jalan Saudaraku

Minggu pagi, 23 September 2008, sehabis solat subuh, kami dikejutkan oleh pengumuman di Mesjid Al-Mujahidin, Kukusan. Sdr saya Rustam Efendi, Ketua PRM Kukusan mengumumkan berita duka cita. Sepupunya, teman sepermainan kami waktu kecil, Sdr Muchlis Djunaedi diberitakan telah meninggal dunia pada hari Sabtu, 22 September 2008 (karena kecelakaan lalu lintas). Rumah duka di Gunung Handeuleum (saya gak tau apa ini nama desa atau nama kampung), Kecamatan Cibungbulang. Tapi banyak orang menganggapnya sama dengan Kecamatan LeuwiLiang. Rencananya akan dikebumikan pukul 08.00 pagi, karena jenazah sudah di rumah duka sejak kemaren sore. Maka diumumkan rombongan dari Kukusan akan berangkat pk. 05.30 dari halaman Mesjid Al-Mujahidin. Maksudnya kumpulnya disana lalu berangkat sama-sama. Tanpa banyak mikir, saya kirim pesan singkat ke Rustam bahwa saya akan gabung dengan rombongan. Tapi alamatnya saya gak tahu dan gimana cara mencapainya juga masih belum ada bayangan. Tahun 1986, saya pernah ke sana, tapi pasti suasanya sudah sangat jauh berbeda (Itulah makna dan guna pembangunan…Saudara..Saudara sekalian)

 

Tanpa kesulitan yang berarti, cuma klewat sedikit aja, kami tiba di rumah duka sekitar jam 07an. (Rute yang kami tempuh, Beji-Sawangan-Pengasinan-Arco-Raya Bogor-Semplak-Dramaga-Ciomas-Cibungbulang.) Sudah banyak sahabat dan keluarga dari Depok (termasuk dari Bojong Pd Cina, Beji Timur dan Kukusan) yang sudah sampe duluan. Rustam malah ketinggalan karena nunggu satu mobil lagi, H. Zaenal Abidin. Juga kerabat dari pihak isterinya. Saudara-saudara almarhum juga sudah ada sejak tadi malam. Lama saya gak ketemu Abd. Mutholib, adik almarhum. Dia sebenarnya yang termasuk aktivis pemuda di Depok waktu mudanya. Tapi kemudian “menghilang” karena mencari kehidupan yang lebih layak. Sayang kuliahnya di IKIP Muhammadiyah (sekarang Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA) Jakarta gak selesai.

 

Diantara kerabat yang datang melayat, saya melihat sosok yang rasanya sering kita lihat. Saya langsung ingat. Dia adalah Prof. Dr. KH Didin Hafidudin, yang ternyata masih kerabat isteri almarhum. Beliau doktor lulusan IPB dan berkiprah di dunia pendidikan dan perekonomian syariah. Beliau yang kemudian menjadi Imam dalam sholat Jenazah di Mesjid setempat. Beberapa teman sempat bertanya-tanya, siapa sih yang tadi jadi imam karena sepertinya sering melihatnya, tapi gak inget dimana. Saya sendiri sempat bersalaman dengan beliau. Seperti yang sudah sangat kenal beliau sempat juga menyapa saya. “Gimana kabar, apa sehat-sehat?”. “Alhamdulillah”, jawab saya.

 

Jam 9an pemakaman selesai. Setelah pamit dengan “shohibul musibah” kami pulang ke Depok. Kembali dengan rute yang sedikit dimodifikasi, yaitu masuk Kampus IPB Dramaga (menghindari macet karena ada pasar kaget di dekat kampus) kemudian lewat pintu belakang, lewat CIFFOR dan kembali ke Semplak. Jam 10.45 kami tiba kembali di rumah. Cuaca sangat panas. Terasa ada sesuatu yang hilang. “Innalillahi wa inna illaihi rojiun”, SELAMAT JALAN SAUDARAKU, semoga Alllah memberi jalan yang lapang. Amien.

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Selamat Jalan, Shobat ; Selamat Jalan Saudaraku

  1. simantjunk berkata:

    Amien ya Allah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s