O-E-M

Punya merk; punya bendera. Baru bisa jualan.  Kalo dalam sistem operasi atau produksi kita menghasilkan barang dan /atau jasa. Maka, kita harus punya merk; punya brand yang membuat barang kita laku dijual. Dalam marketing, branding sangat penting. Tapi untuk self-employee, seringkali gak punya merk sendiri.

 

Seringkali dalam praktek, yang kemudian dengan alasan membantu yang kecil; yang belum terkenal; yang belum punya merk; yang belum punya bendera, perusahaan besar membeli barang/jasa dari perusahaan kecil tanpa merk dan kemudian dikasi merk perusahaan besar tersebut. Istilah bagi perusahaan besar adalah “outsourcing” dan membeli barang tanpa merk yang kemudian dikasihlah merk tersebut. Jaminannya tentu  mutu. Bahwa barang yang dibeli tanpa merk tadi memenuhi standar mutu perusahaan yang membelinya; yang kemudian memberinya merk.

 

Contohnya, pabrik sepatu Bata (minjem untuk contoh aja, ini sama sekali bukan fakta dan saya gak tau apa praktek ini terjadi di Bata) membeli o-e-m (saya lupa kepanjangannya; original ..e-nya apa ya, saya lupa- manufacturer) sepatu-sepatu dari para perajin sepatu. Karena tanpa merk, tentu Bata bisa membelinya dengan harga lebih murah. Atau, dengan alasan pembinaan, Bata membina para perajin dengan tetap memasang standar mutu tertentu, lalu menampungnya; menjamin pemasarannya. Sepatu-sepatu ini kemudian diberi merk Bata. Seolah-olah dibuat oleh pabrik sepatu Bata. Padahal dibuat oleh para perajin sepatu yang dibina Bata, tapi kemudian diberi merk Bata.  Cara ini akan langgeng selama menguntungkan kedua belah pihak (emang pihak terbelah-belah ?). Bata akan memperoleh untung karena bisa memproduksi (dan kemudian menjual) barang (padahal cuma menjamin mutu dan memberinya merk) dengan harga lebih murah. Perajin sepatu memperoleh untung karena produknya ada yang membeli. Tentu saja secara produksi bahwa biaya produksi masih lebih rendah dari harga beli Bata.

 

Dalam hal jasa konsultasi; jasa penelitian (ini yang sebenarnya sedang saya perhatikan) praktek seperti ini juga sering terjadi. Pemilik proyek, mencari tenaga akhli untuk mengerjakan proyeknya. Bisa saja datanya dibeli atau hasil analisisnya yang kemudian dibayar o-e-m. Nama penelitinya gak muncul dalam laporan karena memang bukan bendera dia yang akan dimunculkan. Dalam banyak kasus, justru nama penelitinya harus disembunyikan. Terutama untuk proyek yang “swa-kelola”.  Saat ini, bagi penelitinya mungkin gak terlalu masalah karena nama dianggap gak terlalu pentintg. Uangnya jauh lebih penting. Tapi pada level tertentu, justru penelitinya ingin pasang nama; untuk publikasinya sendiri..Nah disinilah o-e-m jadi gak laku. Tapi seringkali memang harus dibicaranya soal hak atas kekayaan intelektual (HKI).

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s