Ramadhan di Brisbane, Australia.

 

“Pak, kalo di rumah bertingkat, puasanya gimana”? Itu pertanyaan anak kecil yang baru belajar puasa. Rita, sepupu isteri saya yang waktu itu masih berusia sekitar 6 tahunan, ngeliat bangunan bertingkat di komplek Perumnas Depok Utara yang memang baru selesai dibangun pas memasuki bulan puasa. Pertanyaan itu kemudian bisa diperluas, jadi : “Gimana kalo puasa di luar negeri” ?

 

Tentu perlu lebih spesifik, luar negerinya dimana ? Kalo di Mekah, tentu saja jelas. Gimana kalo di negara non-muslim? Saya sempat menjalani 5 kali puasa dan 5 kali lebaran (idul fitri +  idul adha saya hitung satu paket, supaya kedengaran mirip Bang Toyib yang gak pulang-pulang) di Brisbane, Australia ketika saya masih jadi mahasiswa di Universitas Queensland (The University of Queensland).

 

Puasa dan lebaran pertama ketika masih sendirian (maksute masih belom bersama-sama keluarga).  Waktu itu saya tinggal di unit/apartment/lodge di Jln Dell (Dell-Road), deket kampus (yang kemudian saya tahu properti itu memang punya Uni. Pantesan sewanya murah). Room-mate saya, Muhamad Romli (skrg Prof. Dr.Ir. Muhamad Romli, dosen IPB) yang sudah tinggal duluan disitu. Saya yang gabung, dan rencananya Romli akan keluar kalau saya sudah bawa keluarga. Lodge itu cuma ada 4 unit, 3 diantaranya dihuni mahasiswa Indonesia (Illah – skrg Prof. Dr.Ir. Illah Sailah, dosen IPB– dan dua anaknya, suaminya sudah lebih dulu kembali ke Indonesia dan Lisa –juga Dosen IPB yang saya lupa nama belakangnya– dan Wiwin di unit yang satunya). Kebaikan Illah yang pinter masak membuat saya mudah menjalani puasa karena soal masak sudah beres.Saya dan Romli ikut makan dengan Illah. Sahur dan buka gak masalah. Puasanya juga gak masalah. Cuma memang belum terlalu banyak terlibat dengan komunitas, karena blom nyambung aja. Belum tahu mau taraweh dimana (Ternyata, kemudian saya tahu kalo shlat Taraweh dilaksanakan seminggu sekali di rumah-rumah).

 

Tahun kedua, keluarga sudah gabung. Kami sudah pindah ke Fred Schonell Drive, jalan utama menuju kampus dari kota Brisbane. Dua anak kami ikut puasa. Buat si sulung, Indra, puasa sudah gak masalah karena dia sudah kelas 8 dan sudah biasa puasa. Buat si kecil, Nissa, termasuk baru belajar puasa, walaupun sebelumnya juga sudah pernah  puasa  –puasa beduk.. Dia waktu itu sudah kelas 3 di SDN Iron-Side (Iron-side State Primary School). Buat anak-anak, ini puasa yang berat. Cukup berat kalo gak mau dibilang sangat berat. Tahun 1994 Ramadhan jatuh pada saat matahari masih di Selatan. Artinya, siang hari lebih panjang –sekitar 1 jam– dibanding di Jakarta. Puasa jadi lebih lama. Bangun sahur sama seperti di Jakarta, sekitar jam 3an dan buka puasa hampir jam 7an malam. Selain itu, suasananya sama sekali gak mendukung; bukan seperti suasana di Jakarta. Sekolah gak libur dan kebanyakan orang gak puasa. Warung dan toko, food-stall, tetep buka. Godaannya banyak. Selain itu, mungkin mereka juga harus menjawab  pertanyaan temen-temen sekolah kenapa harus berpuasa. 

 

Suasana yang juga gak ditemui ketika Ramadhan di Brisbane adalah suara adzan. Seingat saya ada 3 Mesjid di sekitar Brisbane, kota yang berpenduduk kurang dari 1 juta orang. Lokasinya jauh dari kampus. Di sekitar kampus gak ada Mesjid, yang terdekat di West-End jalannya harus ke kota dulu atau nyebrang sungai. Ada juga musholah kecil, di Hawken Drive yang mulanya hanya satu kamar untuk sekedar numpang solat karena kebaikan hati teman-teman yang nyewa rumah itu (kemudian, memang resmi jadi Musholah setelah pihak Uni membebaskan biaya sewanya dan dikelola oleh IISB, Indonesia Islamic Society of Brisbane). Kemudian, yang juga gak ditemui adalah suasana Sholat Taraweh. Komunitas muslim Indonesia, terdiri dari mahasiswa (dan beberapa warga muslim Indonesia), memang sedikit jumlahnya. Selain gak ada tempat, juga kesibukan akademis membuat Sholat Taraweh berjamaah hanya dilakukan saat week-end. Malam minggu aja. Tempatnya, setelah Musholah Hawken Drive jadi musholah, ya di Musholah itu. Jamaahnya juga cuma warga Indonesia. Tapi sering juga kita kumpul di rumah warga Indonesia, yang rumahnya cukup besar untuk menampung jamaah. Misalnya di rumah keluarga Iman Partoredjo, orang Indonesia yang sudah jadi PR (Permanent Resident), yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri. Paling kurang sekali selama Ramadhan kita taraweh di rumah beliau. Di rumah kami, setelah pindah ke Central Avenue No. 118, St.Lucia, selalu dijadikan tempat taraweh berjamaah. Acara sholat taraweh selalu dimulai dengan acara buka puasa bersama, termasuk makan malam. Masing-masing jamaah bawa makanan sendiri-sendiri, yang kalo dikumpulkan cukup banyak. Cukup untuk perbaikan gizi bagi yang bujangan.

 

Idul fitri ataupun idul adha sering jatuhnya bukan pada hari libur. Moslem community di sekitar kampus (dari Malaysia, Brunei, Iran dan negara-negara moslem lainnya) menyelenggarakan solat ied, pagi-pagi sekali. Jam 6 pagi dan jam 8 sudah selesai karena kegiatan rutin dimulai jam 9. Setelah solat ied anak-anak ke sekolah dan mahasiswa ke kampus. Kalo PhD student sih bisa ngatur sendiri waktunya. Siangnya, kadang kita kumpul di taman, makan-makan. Biasa, semuanya BYO –bring your own.

 

Setelah Ramadhan selesai, pengajian IISB biasanya menyelenggarakan Halal Bil Halal. Kadang diadakan seperti pengajian biasa, kadang undang penceramah, yang kebetulan sedang ada di Australia. Kadang juga undang pejabat  dari Konsulat yang ada di Sydney.

Meski suasananya tidak seperti di Jakarta, saya bisa bilang, Ramadhan di Brisbane tetap nikmat.

 

Selamat Berpuasa.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ramadhan di Brisbane, Australia.

  1. day... berkata:

    met puASA

    daun Sya’ban berguguran berganti kuntum-kuntum Ramadhan, yang menebar wangi keberkahan. sambut Ramadhan dengan ceria dan keihklasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s