Inovasi, Ya Entrepreneur

(Tulisan ini mestinya saya up-loaded kemaren, tapi apa boleh buat baru bisa sekarang)… 

Dalam sambutannya pada upacara bendera 17 Agustus 2008 di lapangan upacara Gedung BPPT, salah satu hal yang dikemukakan oleh Inspektur Upacara, Meneg Ristek, Kusmayanto Kadiman adalah soal sudah dipahaminya inovasi sebagai penggerak perekonomian. Bahkan, menurut beliau, Bapak Presiden mengarahkan agar inovasi bisa diwujudkan dalam segala aspek kehidupan, terutama di 6 bidang prioritas pada program peningkatan kemampuan iptek seperti tertuang dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) 2004-2009. Dan emang, tema Harteknas (Hari Kebangkitan Teknologi Nasional) tahun ini adalah Inovasi untuk Memberdayakan Industri.  

 

Rasanya ada sesuatu yang mesti jelas soal inovasi ini, karena saya merasa ada kerancuan disana-sini. Secara common sense, coba lihat dah berbagai kamus juga Wikipedia, inovasi dipahami sebagai sesuatu yang baru (asalnya kan bahasa Latin yang artinya baru), yang merupakan hasil yang kreatif penemunya. Soal definisi, siapa aja boleh memberikan definisi sesuai apa yang dipahaminya. Termasuk soal inovasi ini. Tapi mestinya ada definisi yang “legal”.

 

Kalo merujuk pada UU 18/2002 tentang Sistem Nasional Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, ada disitu definisi dan pemahaman tentang inovasi. Ini sebenarnya juga terkait dengan rangkaian kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan dalam menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan penelitian menghasilkan ilmu pengetahuan, sedangkan kegiatan pengembangan dan perekayasaan menghasilkan teknologi. Ilmu pengetahuan harus disebarluaskan melalui publikasi, sedangkan teknologi perlu diterapkan ke dalam proses produksi/operasi. Mengingat adanya “technological externalities” maka hak kekayaan intelektual atas hasil-hasil pengembangan dan perekayasaan perlu dilindungi melalui pemberian patent; hak exclusive bagi suatu invensi. Hasil dari lembaga litbangyasa (penelitian, pengembangan dan perekayasaan) adalah iptek. IPnya harus dibuka untuk orang banyak (publikasi). TEKnya yang merupakan invensi, yang  boleh diartikan sebagai temuan yang kreatif yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan bangsa (Saudara-saudara sekalian…), harus dilindungan HKI-nya. Jadi kayaknya, secara filosofi, di satu sisi lembaga kerekayasaan seperti BPPT hasilnya memang hanya berupa “certified protoype” yang sudah dipatenkan, seperti pernah dinyatakan oleh alm Prof Said D Jenie, yang waktu itu menjabat sebagai Kepala BPPT (walau kemudian ada pertanyaan tentang P yang satunya lagi tugas siapa ?, waktu itu jawabnya ya tugas dunia usaha; tugasnya industri).

 

Penerapan teknologi oleh industri atau instansi lain terkait dengan pemahaman tentang inovasi dan difusi. Kalau suatu invensi diterapkan diindustri untuk tujuan-tujuan komersial, itu yang kemudian dipahami sebagai inovasi. Masalahnya, kajian-kajian tentang bagaimana invensi diubah menjadi inovasi menunjukkan bahwa tidak semua invensi bisa diubah menjadi inovasi. Tidak semua patent ada yang dibeli lisensinya oleh perusahaan untuk dioperasikan dalam sistem produksi. Juga ditemukan adanya variasi waktu yang sangat beragam ketika invensi berubah menjadi inovasi. Katanya variasinya antara 3 tahun sampai 25 tahun. Mungkin ini juga terkait dengan kepentingan bisnis tertentu (Kalo kita amati di sektor ICT  Information and Communication technology— daur-hidup suatu produk begitu pendeknya.

 

Kalangan litbang rasanya juga tidak mudah  untuk melakukan inovasi dalam pemahaman seperti dimaksud, karena mereka sering lebih berat ke sisi-supply. Dan sejatinya tidak pernah disiapkan kearah sana. BPPT dengan tugasnya sebagai penerap teknologi harusnya terlibat lebih intens dalam proses inovasi. Tentu saja BPPT perlu bergandengan tangan dengan dunia usaha.; dengan entrepreneur yang sudah makan asam-garam dunia komersial (maksute entrepreneur sudah pengalaman menghasilkan nilai tambah melalui proses produksi/operasi dan pemasaran; istilah Pak Ciputra : entrepreneur berpengalaman merubah sampah menjadi emas); karena inovasi itu sendiri mensyaratkan adanya aspek komersial.

 

Jadi, kalau kita ingin inovasi dimanfaatkan untuk memberdayakan industri (kayaknya disini masih ada yang rancu karena kalau suatu invensi sudah dimanfaatkan oleh dunia usaha, dianya sudah jadi inovasi kan), invensinya harus punya nilai (komersial) yang tinggi, yang bisa segera diubah menjadi inovasi. Nilai bagi konsumen yang memanfaatkannya dan nilai tambah bagi yang terlibat dalam proses produksinya; bagi orang yang terlibat, baik sebagai pekerja, manajer ataupun pengusaha dan pemilik modal; juga bagi pemerintah yang menikmati pajaknya. Makanya, kemudian, yang bisa dengan mudah melakukan inovasi ya entrepreneur; ya pengusaha. Bagi entreprenuer, seperti tegaskan oleh Gde Prama (yang bekerja di Jakarta, tapi tinggal di Bali) dalam sebuah judul bukunya, Inovasi atau Mati. Itu sebuah pilihan. Kalo nggak bisa melakukan inovasi, ya sudah mati saja. Sehingga, entrepreneur itu bukan hanya cuma dia yang bisa, tetapi dia memang harus melakukan inovasi. Kalo gak ya sudah, tamat; wasalam gitu.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s