Engineer dan Entrepreneur

Engineer (Enjinir atawa Insinyur) creates the newthings. Insinyur itu menciptakan sesuatu yang baru. Kegiatan enjinir (sekarang istilah yang sedang diformalkan menjadi jabatan fungsional, perekayasa) sebenarnya juga terkait ke depan dan kebelakang. Ke depan terkait dengan kegiatan penelitian dan pengembangan. Ke belakang terkait dengan kegiatan inovasi dan adopsi (kegiatan bisnis).

Kalo kegiatan penelitian (kegiatan mempelajari sesuatu yang sudah ada: deskriptif, asosiatif atau prediktif) hasilnya adalah scientific paper (karya tulis ilmiah) yang kemudian punya nilai kalo dipublikasikan. Pengembangan dan perekayasaan hasilnya disebut invensi yang bisa dalam bentuk prototype atau sesuatu yang bisa dipatenkan. Jadi hasilnya patent yang kemudian bisa dijual (lisensi). Kegiatan perekayasaan merupakan kegiatan yang multidisiplin. Kalo kemudian difokuskan pada kegiatan teknologi, maka ada aspek-aspek non-engineering yang juga terkait. Ada seni (art) ada ilmu (science), rekayasa (engineering), ada ekonomi (economics) dan yang tidak kalah penting adalah bisnis.

Kalo dilihat linier, pekerjaan engineer berhenti sampe certified prototyping. Insinyurnya punya patent (kalo diurus dan diberi) yang bisa dijual). Siapa yang mau beli ?

Entrepreneur adalah seseorang yang mengelola segala sumberdaya (termasuk teknologi) untuk menghasilkan nilai tambah yang bisa dinikmasti secara komersial melalui mekanisme pasar. Nilai tambah ini akan dinikmati oleh konsumen dan juga ada yang dinikmati oleh pemilik sumberdaya dan pemerintah.  Jadi bisa aja seorang insinyur melanjutkan ke tahapan berikut, tahapan komersialisasi patent-patentnya. Tahap ini disebut sebagai tahapan inovasi, yaitu bagaimana invensi bisa diubah menjadi bisnis. Entrepreneur tidak harus jadi insinyur karena dia bisa beli lisensi patent.  Kalo dilihat liner lagi, setelah inovasi ada adopsi (melalui proses difusi), yaitu suatu proses dimana produk, proses atau sistem yang sudah komersial tadi sudah menyebar ke masyarakat (baik konsumen ataupun produsen; barang akhir dinikmati konsumen; barang modal dibeli oleh produsen).

Kalo dipetakan dalam kuadran aliran kas-nya RTK (Robert T Kiyosaki), profesi insinyur bisa di kuadran-1 (pekerja) dan di kuadran-2 (pekerja mandiri) misalnya sebagai konsultan. Insinyur yang entrepreneur bisa merambah ke kuadran-3 (bisnis owner) atau kuadran-4 (investor).

Pak Ciputra dlm diskusi di BPPT kemarin agak mengagitasi, supaya para engineer jadi entrepreneur karena cuma entrepreneur ini yang bisa membangun kesejahteraan. (Katanya: ada korelasi positif yang signifikan antara jumlah entrepreneur dengan kesejahteraan suatu bangsa). Cuma, menerut beliau ada 3 syarat jadi entreprenuer; yaitu : (1) hrs jadi pencipta peluang (opportunity creator), bukan sekadar pencari peluang; (2) mempunyai jiwa inovator; (3) berani mengambil resiko yang sudah diperhitungkan (calculated risk taker).

Para insinyur,  para perekayasa,  apakah anda terusik dengan tantangan pak Ciputra ?

Catatan: Hari Rabu, 20 Agustus yanga akan datang beliau akan menyampaikan orasinya tentang Quantum Leap: Entrepreneur Changes Nations, dalam Penganugrahan Gelar Perekayasa Utama Kehormatan oleh BPPT.

Iklan

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s