Setelah Lulus SMP

Tulisan ini saya tujukan buat temen2 yang gak pernah ketemu setelah lulus SMP. Tahun 70 lulus SMP, melanjutkan ke SMA. Waktu itu saya sama sekali gak tau mau sekolah apa dimana. Di Depok belum ada SLTA. Pilihannnya ke Bogor, jauh banget dan sarana transportasi masih susah. Terdekat ke Pasar Minggu. Ada beberapa pilihan. Teman-teman saya paling banyak pilih SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di Tanjung Barat, atau SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) yang baru dibuka di Jln Ragunan Pasar Minggu, dekat kantor Departemen Pertanian, dekat Kecamatan Pasar Minggu. Ada juga STM Bunda Kandung, waktu itu masih di depan statiun kereta api Pasar Minggu. Dan SMA Negeri Filial XI, kemudian dikenal dengan SMA Negeri 28 Jkt, di Tanjung Barat (yang kemudian pindah ke Jln Raya Ragunan., di sekitar Kompeks Perumahan KarangPola.

Ada suami adik sepupu ibu saya yang guru di SMA tersebut. Kemudian saya didaftar dan diterima. Saya satu-satunya lulusan SMP Muh Depok yang daftar dan diterima di SMA tersebut. Pada waktu orientasi saya mulanya tinggal di rumah sepupu ibu saya. Tetapi ternyata karena sekolahnya di Jl. Ragunan sudah bisa ditempati maka kemudian semua aktivitas dipindah ke Ragunan. dari tanjung Barat gak ada kendaraan ke Ragunan. Saya jadi bingung juga. Karena bapak saya cuma punya sepeda, maka sepeda itu saya pake selama masa orientasi sekolah.

Selama masa kelas 1 SMA saya naek kereta api pulang dan pergi sekolah. dari rumah ke statiun Pondok Cina jalan kaki. Naek kereta api kedua dari Bogor yang nyampur sama keranjang sayuran, buahan dan kadang-kadang ayam dan kambing. Sampe di statiun Pasar Minggu kira-kira setengah tujuh, lalu jalan kaki kiran-kira 15 menit menuju sekolah. Pulangnya sering juga ikut truk tentara sampe asrama Yon Zipur 7 karena kereta api kan jadwalnya jarang, kadang jam 2 atau jam 3 dari Pasar Minggu. Waktu kelas 2 masuknya siang, saya naek sepeda karena kendaraan umum cuma ada oplet dari statiun LA. Pagi hari saya bantu-bantu bapak di pasar, siang dan sore hari sekolah. Waktu kelas 3 karena sudah masuk pagi lagi suka naek kereta, kadang ikut truk tentara yang mau apel pagi. Makanya waktu itu, karena badan saya paling tinggi, sama bapak-bapak yang truknya sering ditumpangi saya dikenal sebagai kepala anak kampung. Sementara temen-temen saya yang tinggal di asrama dikenal sebagai anak kolong.

Lulus SMA, saya juga gak tau mo sekolah kemana. Waktu itu ada Pengumuman dari IPB bahwa utk pendaftaran dI IPB cukup kirim wesel pos Rp. 1.500 dan alamat yang jelas saya dapat formulir pendaftaran. Test di kampus Baranangsiang, soal testnya rasanya susah-susah banget. Tapi alhamdulillah diterima. Dari SMA 28, termasuk saya ada 4 orang yang diterima. Saya, Yushar, Agus Sutjedo yang pindah ke SMA28 waktu Kelas2, dan A. Hernowo. (Uniknya, keempat-empatnya sempat tinggal kelas pada tahun pertama, dan memilih Jurusan Mekanisasi Pertanian, tapi semua lulus sebagai Sarjana). Saya gak ceritrain bagaimana waktu mahasiswa. Pada waktu Ujian Komprehensif saya benar-benar mendapat kemudahan. Bayangkan temen2 lain bisa sampe 2 atau 3 jam digojlok. Saya, kurang dari satu jam sudah dinyatakan lulus. 

Setelah lulus, saya sempat ikut beberapa proyek penelitian di Jurusan, karena waktu itu Pembimbing saya (alm) Prof Dr Ir Siswahi Soepardjo adalah ketua jurusan Mekanisasi Pertanian, sambil nunggu-nunggu panggilan kerja. Gak banyak surat lamaran yang saya kirimkan. Waktu itu masih tinggal di Bogor, di Asrama Wisma raya, Jl Juanda 46 Bogor, deket kebon raya, saya dapat panggilan untuk test di BPPT. Waktu itu sudah ada temen satu asrama (Aunur Rofiq) yang sudah diterima di BPPT. Ingat saya waktu itu dari IPB ada beberapa orang yang ikut test dari 21 orang yang test. Ada Sulaefi dan Ansari. Cuma saya dan sulaefi yang akhirnya diterima. Teman satu asrama saya, Ansari gak diterima (Beliau saya  sebut aja beliau karena sekarang menjabat sebagai Dirjen di Deperin).

Selanjutnya, memasuki dunia kerja berniat untuk bekerja dengan baik dan meniti karir sampai ke jenajng tertinggi. Tahun 1980 menikah. Tahun 1983 ada kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S-2. By accident saya dapat informasi dari rekan di unit lain yang sudah dapat bea-siswa bahwa masih ada beberapa yang tersedia. Kemudian saya cari informasinya dan dinyatakan Ok jika memang dalam waktu dekat sudah dapat Universitas tempat melanjutnya studi. Dengan seorang teman, Yanto Tatang Rahardja (sekarang di KNRT) kami ke Bogor. Alhamdulillah, Disrektur I Program Pascasarjana IPB adalah Dr. Kamarudin Abdullah, dosen saya di Mekanisasi Pertanian. Dentgan menunjukkan transkrip dan copy ijazah, saya langsunhg diterima sebagai mahasiswa Pascasarjana IPB untuk Bidang Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan. Gak taunya, seminggu kemudian kuliah langsung dimulai, pada proses administrasi belum apa-apa. Tapi, syukurlah semuanya lancar. Seingat saya peserta untuk kelas saya ada 12 orang, salah seorang diantaranya untuk program s-3. Saya orang pertama yang lulus, sehingga Prof Lufti Ibrahim waktu itu menegaskan bahwa saya orang pertama yang lulus dari angkatan saya, padahal masih banyak di angkatan sebelumnya yang belum apa-apa. Memang, program s-2 saya tempuh dalam waktu 2,5 tahun.

Setelah selesai s-2 di IPB saya kembali ke BPPT melapor kalau sekolah saya sudah selesai. Saya melapor ke Pak Wardiman (yang kemudian sempat menjadi Mendikbud) dan oleh pak Wardiman langsung diperintahkan untuk ikut Placement Test, kursus Bahasa Inggris. Waktu itu BPPT-Ristek ada Program OFP (Overseas Fellowship Program) yang mengirim mahasiswa Indonesia belajar di luar negeri. Karena B. Inggris saya agak payah, butuh waktu yang cukup lama untuk punya nilai TOEFL 550. Saya bahkan sempat kena hepatitis. Berangkat juga ke Amerika, setelah tertunda berkali-kali karena berbagai alasan. Saya diterima untuk menempuh Program Doktor di Texas AM University, disama ketemu dengan Nur mahmudi Ismail (adik kelas di IPB, sekarang Walikota Depok). Hanya dapat 1 tahun di Texas AM Univ, saya minta pulang ke Indonesia dengan alasan sakit. Itu tahun 1990.

Sama sekali tidak menyesal karena sekolah gagal. Awal 1993 ada tawaran dari AusAID untuk melanjutkan sekolah ke Australia. Sebelum ke Amerika sebenarnya saya pernah ikut test di AIDAB, dan dinyatakan lulus. Tapi saya lebih memilih berangkat ke Amerika dengan hasil seperti di atas. Isi formulir dan ikut test. Dinyatakan lulus tanpa harus kursus bahasa. Tapi saya minta juga ikut kursus di jakarta soalnya Bahasa Amerika beda sama Bahasa Australia. Bener-bener beda. Gak ada yang nangkep waktu guru Austalianya jelasin. Tapi, dengan ikut kursus 2,5 bulan, nilai IELTS saya naik cukup signifikan, yang kemudian saya diterima di University of Queensland. Awalnya, awrdnya adalah Master leading to PhD. Saya ambil program master selama 2 semester, kemudian transfer ke PhD. Saya dapat PostGraduate Diploma in Regional Development, dan menyelesaikan PhD in Economics dalam waktu 34 bulan.

Pulang ke Indonesia pas krismon….semua kan tau tahun 1997 dan terus berlanjut sampe tahun 2000.

Itu perjalanan sekolah saya setelah lulus SMP Muhammadiyah-1 Depok.

Tentang Eid

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s