Pengusaha Rongsok Terpojok

(Catatan : Hanya untuk mengingatkan agar selalu cermat dalam berusaha. Tulisan ini diambil dari http://www.majalah-pip.com/majalah2008/). Semoga bermanfaat…..

Usaha jual beli barang bekas atau rongsokan lesu. Harganya anjlok, seiring jebloknya nilai tukar dolar AS. Kini, banyak pemilik lapak barang bekas menutup usahanya. Nasib wong cilik pun kembali tercekik.
Krisis ekonomi 1998 lalu sebenarnya telah memacu masyarakat kita lebih kreatif dan inovatif. Buktinya, bermunculan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah. Mereka berkutat di semua lini termasuk menekuni bisnis barang bekas atau rongsokan. Mereka tak memandang bau, kotor atau jorok, terpen­ting menghasilkan uang. Tua, muda, pria dan wanita, pemilik modal skala besar, menengah, cupet maupun mo­dal dengkul, dapat tertampung

Kondisi tersebut membuktikan bahwa sektor ini cukup familier dan terbuka. Dapat menolong yang sedang terhimpit persoalan ekonomi. Bisa juga dijadikan sandaran hidup bagi yang gagal memperoleh pekerjaan di sektor formal. Tak keliru jika sektor tersebut dianggap ikut berkontribusi sebagai salah satu ka­tup pengaman sosial.

Di Jakarta, jumlah pemulung yang memburu barang bekas diperkirakan mencapai 500.000 orang. Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) mencatat, jumlah pemulung pada 2004 saja ditaksir sekitar 400.000 orang. Kiprah mereka sanggup memilah sekitar 40% dari sekitar 6.500 ton sampah yang di buang warga ibu kota setiap hari. Contoh lain, beberapa waktu lalu seperti pernah dilansir sebuah media, sekitar 7.000 petani Karawang yang gagal panen, memutuskan banting stir menjadi pemulung.

Belum lagi di wilayah penyangga Ibu Kota RI, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Juga, di kota-kota besar lain di Indonesia, kegiatan pemulung tidak sulit dipantau. Bahkan, di Surabaya seperti dikutip Surya Online, ada perkampungan pemulung berpenduduk sekitar 3.000 jiwa atau sekitar 500 KK yang sudah dihuni hingga generasi ketiga, berlokasi di Jalan Dukuh Kupang, Gang Mataram, Surabaya.

Sayang, krisis ekonomi global telah mengusik aktivitas mereka. Hasil berbagai jenis barang bekas, seperti ember plastik, kardus, aluminium, aki bekas, besi tua, tembaga, ku­ningan, kertas putih, kertas koran be­kas, botol plastik, serta gelas air mi­num dalam kemasan, harganya turun dratis.

Pemantauan PIP mendapatkan fakta, sejumlah pengumpul barang bekas di Bekasi dan Cakung, Jakarta Timur, telah menghentikan kegiatannya untuk sementara waktu sembari menanti harga membaik. Sebagian pemulung, bahkan memilih pulang kampung karena penghasilannya melorot tajam.

Anjloknya harga barang bekas yang menghentikan aktivitas ba­nyak pemulung dan pengepul yang kian mengancam naiknya jumlah angka pengangguran. Padahal, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007 mencatat, jumlah penganggur­an secara nasional mencapai 10,55 juta jiwa, atau 9,75% dari total penduduk 220 juta jiwa.

Jumlah penduduk miskin pun dipastikan membengkak. Jika BPS kini mencatat penduduk miskin mencapai 35 juta jiwa. Paling tidak, akan setara lagi dengan tahun lalu, yakni 37,3 juta jiwa.

Atasi Penganguran

Menyandang status pengangguran memang tidak nyaman dan cenderung terhina, bagi siapapun dan di mana saja di muka bumi ini. Sayangnya, untuk memperoleh pekerjaan sangat sulit. Maka itu, kerja serabutan tidak kuasa ditolak, termasuk menjadi pemulung barang bekas. Yang penting, keluarga bisa makan dan dapur tetap ngebul.

Satum, contohnya, sejak terkena PHK dari pabrik di kawasan industri di Jakarta Utara, mangaku berat menjaga kelangsungan hidupnya. Kendati hanya sekadar menyediakan makanan bergizi minimal.

Apalagi saat pesangon Rp 10 juta hasil mengabdi selama 15 tahun, habis untuk menutupi utang dan biaya sekolah. Termasuk modal dagang sayuran istrinya yang ternyata tak berbakat dagang dan miskin penga­laman. Pria asal Cirebon ini mengaku cukup kelimpungan menghidupi istri dan empat anaknya. Akhirnya pria 42 tahun ini memutuskan menjadi pemulung.

Pengalaman serupa juga dialami Sumidi. Warga Tegal, Jawa Tengah, ini mengaku hanya bermodalkan semangat tinggi untuk menjadi pemulung. Bahkan, rengekan istri yang mengajak pulang kampung tak digubris. Mantan karyawan bengkel mobil ini terus mencari solusi. Meski memiliki keahlian otak-atik mesin mobil, bukan membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan. Kalau ada yang mau menampung tenaganya, terkadang upah tidak sepadan de­ngan keahliannya.

Berkat keterbiasaan berhemat memburu barang-barang bekas, Sumidi mampu menyisihkan penghasilannya. Belum genap dua tahun, posisi pun berubah dari pemulung menjadi pengepul alias juragan barang bekas. Dengan bermodalkan sekitar Rp 50 juta, Sumidi membuka lapak pengumpul di Teluk Pucung, Bekasi.

Korban PHK lain yang juga ber­alih menjadi memulung adalah Suarja. ia mengaku hanya setahun memungut. Selanjutnya, pria asal Garut, Jawa Barat, ini memilih membeli barang bekas dari rumah ke rumah. Seperti pelaku lainnya, mantan karyawan pabrik Baja di kawasan Cakung ini juga membuka lapak. Modal yang disediakan pria berbadan gempal ini sekitar Rp 35 juta. Untuk menyewa tanah seluas 200 meter persegi berikut rumah petak, membeli lima becak gerobak, kendaraan bekas tahun 1980-an dan modal kerja.

Akhirnya, kreativitas Satum, Su­midi dan Suarja mampu mengatasi masalah kelangsungan hidup di belantara kota besar. Berkat sikap dan mentalnya yang tak lekas putus asa, mereka berhasil menemukan solusi mengatasi kesulitan hidup.

Mereka hanya segelintir contoh dari ribuan bahkan jutaan penduduk negeri ini, yang sejenak berhasil mengatasi keruwetan ekonomi keluarga, dengan menggeluti pekerjaan di sektor informal, pasca krisis 10 tahun silam.

Sekarang, para pemulung barang bekas kembali menelan pil pahit. Hasil keuntungan yang diperoleh dengan susah payah itu harus pupus dalam sekejap. Para juragan barang bekas mengaku merugi hingga puluh­an juta rupiah, karena merosotnya harga barang bekas, sejak pertengahan September 2008. Di sebuah sudut kampung di pinggiran Jakarta, lapak milik Jaja telah sepi dari aktivitas. Sebagian besar anak buahnya pulang kampung

About these ads

Tentang muchdie

Blog ini merekam pemikiran, ucapan dan tindakan saya di berbagai aktivitas; sebagai pekerja, pemilik pekerjaan & profesi, pemilik bisnis dan investor serta sebagai saya sendiri.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s