Menyambut Mu’tamar ke-46, Satu Abad Muhammadiyah

7 Tingkat “Menguasi” Properti

Cipto Junaedy dalam bukunya : “Strategi Membeli Banyak Properti” (http://www.ciptojunaedy.com), membuat 7 tangga tingkat “penguasaan” properti, salah satu cara menuju financial freedom ala RTK.

Level 1 : hanya mampu punya 1 properti seumur-umur.
Level 2 : memilki banyak properti.. dua, tiga, empat,…banyak
Level 3 : beli banyak properti tanpa keluar uang (bukan pake uang mertua, bukan karena punya isteri/suami kaya, bukan pake uang bank)
Level 4 : beli banyak properti tanpa keluar uang, malah dapet uang
Level 5 : beli banyak properti tanpa keluar uang, malah dapat uang, tanpa utang (bayar kontan)
Level 6 : beli banyak properti tanpa keluar uang, malah dapet uang, tanpa utang (bayar kontan), tanpa nunggu harga miring (berapa aja bayar).
Level 7 : beli banyak properti tanpa keluar uang, malah dapet uang, tanpa utang (bayar kontan), tanpa nunggu harga miring (berapa aja bayar), tanpa menyakiti orang lain shg bisa tidur tenang, pikiran damai.

Anda termasuk yang mana ?

Quadran Baru : Orang Bodoh versus Orang Cerdas.

RTK (Robert T Kiyosaki) dalam buknya “Cash-flow Quadran” membagi pendapatan orang (cash-flow) berdasarkan curahan waktu. Pendapatan aktif, adalah pendapatan yang besarnya merupakan fungsi waktu. Semakin besar curahan waktu, semakin besar (potensi) pendapatan yang diperoleh.  Pendapatan pasif adalah pendapatan yang besarnya tidak terkait dengan waktu yang dicurahkan, karena pake waktu orang lain (other people time).

Cipto Junaedi dalam bukunya  “Strategi Memiliki Banyak Properti Tanpa Uang Tanpa KPR”, membagi orang dikaitkan dengan pendapatan (pasif dan aktif)  digabung dengan perlindungan terhadap resiko.

Orang cerdas-1 : orang yang punya pendapatan pasif (punya bisnis dan punya investasi dalam suatu sistem) dan juga mengunci resiko.

Orang cerdas-2 : orang yang punya pendapatan aktif (pekerja dan pekerja mandiri, versi RTK) dan juga mengunci resiko, sehingga dia aman, bisa tidur tenang.

Orang bodoh-3 : (maksudnya orang bodoh pada kuadran ke-3) orang yang punya pendapatan pasif, tetapi tidak melindungi dirinya terhadap segala resiko. Orang ini tidak mengunci resiko.

Orangbodoh-4 : orang yang punya pendapatan aktif, tetapi tidak mengunci resiko.

Bahkan, menurut yang menciptakan quadran ini, ternyata dalam hal investasi properti ada orang bodoh-5, yang jelas-jelas gak bisa terlihat dalam quadran baru ini, yaitu yang membayar properti dari hasil bisnis yang modalnya dari utang bank yang diperoleh dengan cara menggoreng rekening.

Termasuk yang mana Anda ?

Punya Banyak Duit, Punya Banyak Waktu : Mau ?

Waktu itu uang. Time is money. What does it mean ? Kalo ente banyak punya waktu dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, ente akan punya banyak duit ?

Siapa yang bisa menjelaskan preposisi di atas ? Yang saya tau, saat ini kita menukarkan waktu kita, yang cuman 24 jam sehari dengan uang yang gak seberapa. Gak cukup buat menikmati hidup, dengan gaya minimalis. Coba aja plototin UMR yang dipatok. Coba juga simak, daftar Gaji PNS. Setau saya Gaji Pokok Golongan IV/d, Pembina Utama Madya, sebulannya Rp. 3.180 rb-an. Tunjangan isteri 10%. Tunjangan anak, gak lagi dapet karena dgn Pangkat segini, anak-anaknya udah pada gede.

Saya prihatin sama Marva, cucu kami karena “nyak-babe“nya sering pulang terlalu larut. Sebuah kemewahan bisa pulang habis magrib. Terus, apa hasilnya memadai ? Kalo ukuran kakeknya, itu sudah two-fold. Tapi karena mereka baru Qt-1 (Quarter pertama dalam siklus kerja), tentu butuh lebih banyak.

Bukan rupiahnya yang jadi concern saya. Waktu yang dicurahkan luar biasa besar korbanannya terhadap kebutuhan yang lain. Artinya, dengan tingkat keberuntungan yang cukup tinggi, daya tawar waktu yang kita miliki sangat terbatas. Lantas, masihkah relevan time = money, kalo time-nya banyak, money-nya cuman segitu ?

We need both money and time.  Kita butuh uang dan juga waktu. Menukarkan waktu dengan uang di Qd-1 sangat tidak memadai. Tak akan pernah. (Ini sama sekali bukan tidak bersyukur atas rezeki yang dilimpahkan oleh Sang Maha Memberi).

Kalo kita bekerja untuk uang. Hasilnya segitu. Hasilnya akan linier dengan waktu yang kita curahkan. Slope-nya akan tergantung pada banyak hal. Beberapa diantaranya : ketrampilan, kompetensi dan di lingkungan mana kita berada. Makanya ada yang menyarankan biarkan uang bekerja untuk kita. Gimana caranya ? Lha uang siapa yang disuruh kerja ?

Ini maksudnya, mari kita membangun asset. Asset dalam konteks ini adalah harta yang menghasilkan uang. Asset ini bisa bisnis, bisa property, bisa paper asset. Ada juga yang menambahkan, jaringan sebagai intangible asset. Oke-oke aja. Intinya, gimana caranya punya asset ?

Dengan asset, kita mestinya akan banyak punya waktu. Syukur-syukur uang.  Punya banyak waktu dan juga uang, siapa mau ?

Bisnis dan Investasi : Sengon dan Jabon

Siang teman-teman. Selamat beraktivitas. Menarik posting Bung Rustam di milst Antime (IPB Angkatan 1974), soal aktivitas setelah pensiun, termasuk having a business. Ini tadinya saya posting di milist tersebut, tapi karena kepanjangan saya pindahkan ke sini.

Diskusi mengenai peluang bisnis Sengon dan Jabon bergulir di milist. Bahan sudah cukup banyak.  Pertanyaannya, how to realise this business ? Merubah wacana menjadi real business. Apakah kita-kita yang sudah menjelang pensiun ini bisa sukses menyambung hidup dengan usaha sendiri. Menjalankan bisnis atau memiliki bisnis ?

Menjalankan bisnis dan memiliki bisnis adalah dua hal yg berbeda. Menjalankan bisnis setelah pensiun (konsep pensiunnya juga perlu disepakati. Pensiun sebagai pekerja atau benar-benar bebas kerja karena financial freedom) bukan hal yg mudah. Apalagi jika pengalaman menjalankan bisnis minim. Benar, kita sudah kerja 30th. Tapikan sebagai pekerja. Bukan sebagai pebisnis. Pengalaman bisnis mungkin blom ada. (Teman-teman yg selama ini berkecimpung di sektor swasta mungkin lebih banyak instink bisnis dan juga pengalaman).

Dua hal saya ingin coba korelasikan, yaitu antara siklus kerja dengan cashflow quadrant (Robert T Kiyosaki). Ada yg membagi siklus kerja jadi 4 quarter (Qt), seperempatan. Perempat pertama Qt-1: usia 25-35 tahun; Perempat kedua Qt-2: lebih dari 35-45 tahun; Perempat ketiga Qt-3:  lebih dari 45-55 tahun ;Perempat terakhir Qt-4: lebih dari 55-65 tahun. Banyak orang dipensiunkan di usia 56 tahun. Ada sebagian kecil yang pensiun umur 65 tahun. Benar kata Rustam, kita sudah hampir memasuki Qt-4. Kebanyakan dari kita juga akan dipensiunkan di umur 56th. Masalahnya, dimana posisi kita dalam cashflow quadrant?

RTK membagi sumber penghasilan menjadi 4 quadrant (Qd), yg agak beda dengan cara quarter siklus pekerja didefinisikan. RTK membaginya atas dasar curahan waktu dan uang (dua sumberdaya yang jadi tujuan banyak orang, dimana konsep kaya diperkenalkan. Orang kaya = orang yang banyak punya uang dan juga waktu. Punya uang tapi gak punya waktu, itu bukan orang kaya. Apalagi gak punya uang gak punya waktu). Pertama, Qd-1: pekerja, kita bekerja untuk orang lain, apakah private atau publik dan mendapat upah. Kedua, Qd-2: kita bekerja utk diri sendiri, self-employee. Kita punya penghasilan kalo kita menjalankan usaha ini. Artinya, income merupakan fungsi waktu. Profesional job katanya masuk Qd-2. Ketiga, Qd-3: pemilik bisnis, business-owner. Kita yg memiliki dan mengendalikan bisnis. Waktu dan uang bisa pake OPT (Other people time)/OPM (Other people money). Pd Qd-3 ini semboyannya, adalah bagaiman bisnisnya tetap jalan, walaupun pemiliknya jalan-jalan. Terakhir, Qd-4: investor, yg menanam uangnya (sumberdaya lain) pada “proyek” yg luar biasa menguntungkan. Kata RTK, investasi yang potensial ada di bisnis, property dan asset-paper. Investasi juga tetap harus hati2, karena pastinya uang keluar saat ini dan nilainya pasti, sementara penghasilannya di masa mendatang dan tidak pasti.

Pertanyaannya apakah kalo kita sudah Qt-3 atau Qt-4 bisa berhasil di Qd-3 ? Atawa apakah selalu harus dimulai dari Qd-1 saat kita berada di Qt-1 ? Jika kita berada di Qt-1, bisakah langsung ke Qd-2, Qd-3 atau Qd4 ?

 
Kebanyakan kita merasa lebih nyaman ada di Qd-1. Saya bahkan nggak cukup punya keberanian untuk pindah ke Qd-3, walaupun sudah Qt-3. Terus terang menjelang Qt-4, saya masih cenderung bertahan di Qd-1 atau memperpanjang periode di Qd-1 walaupun menjelang Qt-4. Kata kuncinya, mind-set, pola pikir. Cari aman. Tentu tidak mudah merubah pola pikir ini, dari pekerja (yg tiap bulan terima gaji, walaupun cuma segitu-gitu aja) menjadi pemilik bisnis (dengan segala resiko dan ketidakpastian dan kemungkinan return yang bisa lebih besar juga sangat mungkin kurang dari). Hanya mereka yang mempunyai sikap risk-taker, yang punya peluang untuk berhasil. Risk-avoider, ya gimana mungkin. Mencoba aja gak berani. Istilah pilkadanya, Siap kalah, Siap menang. Kebanyakan mereka yang Qd-1 walaupun sudah Qt-3 dan Qt-4 terutama mereka yang berasal dari sektor publik tidak cukup berani untuk mengambil resiko (sayang bel;om ada penelitian empirik yang saya baca tentang hal ini) dan agaknya, jam terbang juga penting. Kecenderungannya, mereka yang berasal dari sektor private lebih berani mengubah mind-set dari Qd-1 ke Qd-3.
Banyak kisah, (mudah-mudahan ini jadi motivasi) banyak anak muda yang masih berada di Qt-1 sudah sukses di Qt-3. Bisa dibaca di http://www.tda.com/.
 
Balik lagi kepertanyaan awal, apakah kita kita berada di akhir Qt-3 bahkan menjelang Qt-4 bisa sukses di Qt-3 ? Ada beberapa kisah sukses, tapi banyak yang gagal. Sayangnya, waktu untuk belajarnya tidak cukup. Temen-teman yang berkecimpung di sektor private, peluang untuk berada di Qd-4 mungkin lebih besar karena asset accumulationnya lebih besar. Tapi sepertinya gak ada jaminan, investasi kita bisa sukses. Hati-hati tentu saja penting. Who took My Money by RTK, keknya bisa dijadikan referensi bagi yang ada atau mau berada di Q-4.
 
Ada pengalaman yang saya baca. Ini kisah di Indonesia, di Jakarta. Dia termasuk berhasil membina multiple-source of income. Dia punya Qd-2, Qd-3 dan Qd-4. Mungkin saat ini dia sudah masuk Qt-3 (usia 45-55). Sehingga target mencapai financial freedom tercapai sebelum usia 50 tahun. Banyak juga anak muda hebat, yang mentargetkan financial freedom di usia 40 tahun.
 
Balik ke kita yang sudah Qt-3, menjelang Qt-4. Tawaran mas Kamto kelihatannya menarik. Mas Kamto sudah memutuskan untuk usaha Jabon dan mengundang kita di posisi Qd-4. Saya kira benar statement yang menyatakan, bukan bisnis apa yang akan kita tekuni menjelang pensiun. Tapi apa resource yang kita miliki untuk mengembangkan bisnis kita. Duit iya, jaringan keknya lebih menentukan. Gimana Bung Rustam ? Tertarik untuk gabung Mas Kamto sebagai Qd-4 atau mau buka usaha sendiri di Qd-3 ?

Sekilas tentang Prodi MM-Uhamka

Informasi singkat tentang Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka) dapat dilihat pada http://mmuhamka.wordpress.com. Informasi lebih detil dapat menghubungi saya di Kampus Matraman, Telp. 021-819-8528 atau 021-819-8529.

Visi-Misi dan Mata Kuliah

Pendaftaran dan Biaya Kuliah

YOU OK GRANDPA ?

Marva, lengkapnya Marva Athaya Hattatilan. Cucu kami yang baru berumur 2 tahun 3 bulan, sangat dekat dengan saya. Bahkan sering lebih memilih sama saya ketimbang dengan mama dan papanya. Sering terucap, kalo papanya atau mamanya atau bahkan tantenya agak ngiri sama saya, kakeknya.

 Tanpa bermaksud membesar-besarkan kepercayaan yang tanpa dasar aqidah, emang waktu Marva pulang ke rumah mereka (yang jaraknya cuma beberapa puluh meter dari rumah kami) setelah seminggu menginap sepulang dari Rumah Sakit, dalam kerangjang bayi berumur sepuluh hari ada sarung yang biasa saya gunakan untuk sholat. Bahkan untuk selimut waktu tidur. Di banyak etnik dan suku, ada semacam kepercayaan (waktu sarung itu digunakan saya sudah kepikiran soal itu, walaupun saya gak percaya, makanya saya biarin aja sarung itu dipake) bahwa sarung itu sarana kedekatan antara seseorang yang memberikan sarung itu dengan orang yang menerimanya. (Saya nggak ngerasa memberikan. Sarung itu, begitu saja digunakan oleh neneknya Marva sebagai alas pada keranjang bayi. Ketika hal ini kita bicarakan, isteri saya juga punya perasaan seperti itu.Bahkan sempat komentar..).

Sejak berusia 4 bulan, Marva mulai dekat dengan saya. Karena mulai usia itu saya sering menggendongnya. Awalnya saya janji gak akan menggendongnya sampai dia berusia sekitar setahun karena takut gendong bayi.  Soalnya, sejak awal dia punya masalah. Pertama, tidak bisa menerima ASI langsung dari mamanya. Kedua, dia menderita semacam alergik terhadap susu sapi. Ketika berusia 2 bulan sempat terinspeksi salauran pencernakannya sehingga terjadi pendarahan. Solusinya, dia sudah harus menghindari hal-hal yang “hewani”. Dia harus mengkonsumsi “nabati”. Susu kedele bau dan rasanya gak umum harus dia nikmati. (Tentu kemudian jadi gak masalah). Sekarang, dia sedang tumbuh (emang badanya gak kelihatan gemuk, tapi cukup padat berisi, capek kalo dia lagi minta digendong) tapi ada lagi masalahnya. Giginya pada rusak, kayaknya dia punya masalah kalau mengunyah makanan. Makanan yang lunak sekalipun. Kadang kasihan ngeliatnya, sampe meringis-ringis. Padahal dia juga kepengen, kalo ngeliat orang-orang pada makan. Untungnya, mbak-nya telaten kalo nyuapi makan dengan jadwal yang teratur.

Kemaren sore, seperti sore-sore yang lain, dia datang ke rumah diantar sama mbaknya. Karena tiap sore, dia selalu minta main ke rumah kakek. Maklum, mama dan papanya sering pulangnya larut. Itulah kehidupan di ibu kota. Dia tau kalo kakeknya sudah ada di rumah, seperti biasanya.

Emang, sore ini Marva akan kami ajak menjenguk “new-born baby” di RS Graha Permata Ibu.

Karena saya masih ada hal mendesak yang sedang saya cari. Saya biasa-biasa aja ketika dia datang. Bahkan, cenderung membatasi gerakannya, karena berbagai berkas emang sedang berantakan. Dia pasti akan “celemekan“, tekan sana, tekan sini. Kadang maen lempar. Printer sering jadi sasaran. Berulangkali diingatkan tetep aja.

Saya emang lagi konsentrasi cari berkas-berkas yang saya butuhkan. Dia ngomong aja. Kadang jelas, kadang dikuntel-kuntel. ” Hai kek, lagi apa ? Ini apa kek.. Maen mobilan boleh ya kek”.. Udah deh…banyak yang dia omongin. Dari panggil kakek, berubah jadi grandpa. Terus panggil neneknya juga  grandma.. Karena ngerasa ngak  saya layani… Dia komentar..”Grandpa..  yuu okey grandpa“? Akhirnya, saya kasihan juga. Ya udah pencarian berkas-berkas ditunda dulu..

Sesuai dengan rencana, kami kemudian berangkat ke RS yang jaraknya nggak sampe 1 km dari rumah…

Blog dan FB = show off ?

Selain Blog dan FB, masih banyak lagi sarana komunikasi on-line. Misalnya, ada twitter. Ada juga Tagged. Tiap saat muncul yang baru.

Bahwa sarana ini penting dan bermanfaat, rasanya sulit untuk dibantah. Tentu saja dampak negatifnya juga ada.

Ada yang bilang, blog dan FB cuma sarana show-off.  (Bahasa Betawinya..”ngedir”). Katanya, banyak aspek negatif yang kemudian muncul. Satu yang sering disebut adalah sebagai sarana “perselingkuhan”. (Mau selingkuh, dimana juga bisa).  Apa ada bukti ? Bukti seperti apa ?  Ini tentu perlu penjelasan yang runtut. Sayang, saya belum bisa mendeskripsikannya dengan jelas, karena yang bilang show-off bukan saya.

Kalo saya, nulis di FB lebih sering karena ingin menuangkan uneg-uneg. Ada juga yang saya maksud untuk mendokumentasikan sesuatu. Karena mau jujur dengan diri sendiri, kadang semuanya dibuka. Ini mungkin yang dimaksud show-off. Ya udah deh, silahkan saja untuk menginterpretasikan sendiri.  Emang sih kadang kita baca juga tulisan atau status di FB yang kesannya seperti show-off. Emang kalo dia lagi show-off kenapa ?  Mungkin dia emang perlu mengekspresikan dirinya. Siapapun dia itu.

Kalo menurut anda sendiri gimana ?

SIAP = Studi Islam Ahad Pagi

Studi Islam Ahad Pagi, yang diselenggarakan oleh PRM Kukusan sudah hampir menyelesaikan putaran kesepuluh, 31 Januari 2010 yang akan datang. Kegiatan ini digagas oleh sejumlah anak muda yang dibimbing oleh Drs. H. Djamaludin Achmad, mantan aktivitis IMM dan IPM di Yogya, ketika masih remaja dan mahasiswa. Mulanya, sejumlah anak muda dibimbing untuk mengikuti kegiatan kajian Islam di RSI-Cempaka Putih, dimana Pak Djamal adalah Direktur Binroh dan SDM. Didukung oleh PRM dan PRA, kegiatan SIAP kemudian dilaksanakan di Mesjid Al-Mujahidin, Jln. KH Ahmad Dahlan Kukusan. Tentu masih didukung oleh RSI-Jakarta.

Menjelang berakhirnya putaran kesepuluh, tiap putaran sekitar 3 bulan setengah atau 14 minggu, jemaah secara konsisten mengikuti kegiatan ini, yang dilaksanakan mulai 06.00 sampai 07.30 WIB.

Jemaah datang dari sekitar Kukusan, Beji, Pondok Cina. Ada juga yang datang dari Sukmajaya dan Pancoran Mas. Bahkan dari Ciganjur-Jagakarsa. Umumnya, mereka adalah warga Muhammadiyah atau yang bersimpati pada gerakan Muhammadiyah. Jumlah jemaah yang hadir setiap Ahad pagi relatif konsisten. Seperti biasa, jemaah Ibu-ibu selalu lebih banyak dibanding jemaah Bapak-bapak.

Nara sumber adalah para da’i dan tokoh Muhammadiyah di tingkat pusat, baik yang ada di jakarta, ataupun tidak jarang langsung datang dari Yogya. Ini semua berkat jaringan silaturahmi yang intens Pak Djamal dengan para tokoh dan nara sumber. Dari UHAMKA (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka) ada dua tokoh penting yang selalu jadi nara sumber yaitu Prof. Dr. Qomari Anwar MA, mantan Rekor Uhamka dua periode berturut-turut dan Dr. Abd. Fatah Wibisono, MA yg masih menjabat sebagai Wakil Rektor-III Uhamka.  Ada juga dari STIE Ahmad Dahlan dan dari UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Tentu, mereka semua atas kapasitas pribadi selaku warga Muhammadiyah.

Secara lengkap, khusus untuk putaran ke-10, jadual narasumber bisa dilihat di panel kiri.

InsyaAllah, putaran ke-XI tetap akan bergulir. Salut untuk penyelenggara….Fastabiqul Khairaat..

Alhamdulillah, Rumah Bapak Selesai…

Rumah Bapak : Tampak Depan

Sejak Ibu (mertua) meninggal 2 Agustus 2009, kami semua prihatin dengan rumah Bapak (mertua) yang udah bangunannya banyak yang rapuh. Maklum sudah lama banget dibangunnya. Juga tata-letak yang terlalu banyak “depan-nya”. Dapur dan kamar mandinya besar dan gak karuan. Kamar tidur masih ada 5, kamar mandi ada 3. Padahal, sekarang Bapak tinggal berdua dengan adik yang terkecil. Dulu sih iya.. setidaknya ada 5 atau enam orang yang tinggal.

Dalam kesempatan kumpul-kumpul ada terlontar ide untuk “memperkecil” rumah Bapak. Mengingat, tanah-tanah Bapak sebenarnya sudah dialokasikan untuk anak-anaknya. Yang jadi soal adalah dana untuk penataan sumbernya dari mana ? Waktu itu Bapak mengatakan bahwa beliau bersedia “mengeluarkan” 130 meter persegi untuk menata rumahnya.

Sebagai gambaran waktu itu nilai transaksi di sekitar baru 1200rb/meter persegi. Ada penawaran di jalan utama, sejajar dgn rumah Bapak, sekitar satu setengah (Rp. 1,5juta/m2), tapi belom terjadi transaksi.

Setelah dihitung-hitung dgn segala macam biaya, Bapak setuju nilai bersihnya Rp.130 juta.  Uangnya, sudah deal. Tersedia. Yang jadi soal kemudian, siapa yang akan menangani proses renovasi besar ini. Kan perlu dirancang agar uang tersedia, cukup. Bahkan pesan Bapak kalau bisa masih ada tersisa untuk biaya surat-surat dan kamar untuk dikontrakkan. Bener juga sih, masak rumahnya bagus, tiap hari pusing karena nggak ada pendapatan.

Isteri saya anak kedua, yang kemudian jadi yang tertua karena Abangnya sudah meninggal. Anak ketiga Bapak, laki-laki, tidak sanggup mengelola uang ini menjadi bangunan. Dengan niat terbaik, saya mensupport isteri saya untuk mewujudkan keinginan Bapak. Sedikit-banyak ada juga pengalaman mengelola konstruksi untuk rumah-rumah sederhana. Dengan prinsip memanfaatkan bahan-bahan yang masih layak, genteng dan kayu, mulailah disusun persiapan. Bahan-bahan deal dengan Lukman di Toko Material KKS. Tenaga didatangkan dari Cirebon.

Seminggu setelah Idul Fitri datang dua orang tenaga dari Cirebon tadi. Anak beranak, Iman dan Pak Naming. Saya diskusikan rencana dan prinsip dalam membangun tadi. Gunakan material yang masih layak. Setelah rancangan disepakati, upah juga disepakati dengan sistem harian, mulailah digali fondasi untuk ruang-ruang yang baru. Sementara pembongkaran dilakukan secara bertahap.

Sungguh mudah sekali proses ini. Saya tidak perlu setiap saat melakukan pengawasan. Material tinggal ambil di toko material. Kami sudah saling percaya satu dengan lainnya. Alhamdulillah, 13 minggu proses ini selesai. Rumah tinggal dengan 2 kamar tidur (untuk Bapak dan Dede, masing-masing), kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu dan beranda. Kurang lebih 100 meter persegi luasnya (saya males ngitung, tapi yang pasti keramiknya habis 100 m2). Di bagian belakang ada gudang dan rumah pompa yang di atasnya ada 2 tanki air. Sementara itu, satu pintu kontrakan berukuran 3 x 9 meter juga sudah siap (cuma 2 hari setelah selesai, langsung tersewa bulanan Rp. 500 rb per bulan).

Untuk semua proses renovasi ini, dibutuhkan dana sekitar 110 juta Rupiah (termasuk biaya menyambung aliran listrik yang prosesnya ternyata butuh waktu sebulanan). Ini sudah saya laporkan secara tertulis dan juga dalam kumpul-kumpul keluarga di rumah Bapak.

Rumah Bapak : Tampak Belakang