6 Feb
7 Tingkat “Menguasi” Properti
Cipto Junaedy dalam bukunya : “Strategi Membeli Banyak Properti” (http://www.ciptojunaedy.com), membuat 7 tangga tingkat “penguasaan” properti, salah satu cara menuju financial freedom ala RTK.
Level 1 : hanya mampu punya 1 properti seumur-umur.
Level 2 : memilki banyak properti.. dua, tiga, empat,…banyak
Level 3 : beli banyak properti tanpa keluar uang (bukan pake uang mertua, bukan karena punya isteri/suami kaya, bukan pake uang bank)
Level 4 : beli banyak properti tanpa keluar uang, malah dapet uang
Level 5 : beli banyak properti tanpa keluar uang, malah dapat uang, tanpa utang (bayar kontan)
Level 6 : beli banyak properti tanpa keluar uang, malah dapet uang, tanpa utang (bayar kontan), tanpa nunggu harga miring (berapa aja bayar).
Level 7 : beli banyak properti tanpa keluar uang, malah dapet uang, tanpa utang (bayar kontan), tanpa nunggu harga miring (berapa aja bayar), tanpa menyakiti orang lain shg bisa tidur tenang, pikiran damai.
Anda termasuk yang mana ?
4 Feb
Quadran Baru : Orang Bodoh versus Orang Cerdas.
RTK (Robert T Kiyosaki) dalam buknya “Cash-flow Quadran” membagi pendapatan orang (cash-flow) berdasarkan curahan waktu. Pendapatan aktif, adalah pendapatan yang besarnya merupakan fungsi waktu. Semakin besar curahan waktu, semakin besar (potensi) pendapatan yang diperoleh. Pendapatan pasif adalah pendapatan yang besarnya tidak terkait dengan waktu yang dicurahkan, karena pake waktu orang lain (other people time).
Cipto Junaedi dalam bukunya “Strategi Memiliki Banyak Properti Tanpa Uang Tanpa KPR”, membagi orang dikaitkan dengan pendapatan (pasif dan aktif) digabung dengan perlindungan terhadap resiko.
Orang cerdas-1 : orang yang punya pendapatan pasif (punya bisnis dan punya investasi dalam suatu sistem) dan juga mengunci resiko.
Orang cerdas-2 : orang yang punya pendapatan aktif (pekerja dan pekerja mandiri, versi RTK) dan juga mengunci resiko, sehingga dia aman, bisa tidur tenang.
Orang bodoh-3 : (maksudnya orang bodoh pada kuadran ke-3) orang yang punya pendapatan pasif, tetapi tidak melindungi dirinya terhadap segala resiko. Orang ini tidak mengunci resiko.
Orangbodoh-4 : orang yang punya pendapatan aktif, tetapi tidak mengunci resiko.
Bahkan, menurut yang menciptakan quadran ini, ternyata dalam hal investasi properti ada orang bodoh-5, yang jelas-jelas gak bisa terlihat dalam quadran baru ini, yaitu yang membayar properti dari hasil bisnis yang modalnya dari utang bank yang diperoleh dengan cara menggoreng rekening.
Termasuk yang mana Anda ?
1 Feb
Bisnis dan Investasi : Sengon dan Jabon
Siang teman-teman. Selamat beraktivitas. Menarik posting Bung Rustam di milst Antime (IPB Angkatan 1974), soal aktivitas setelah pensiun, termasuk having a business. Ini tadinya saya posting di milist tersebut, tapi karena kepanjangan saya pindahkan ke sini.
Diskusi mengenai peluang bisnis Sengon dan Jabon bergulir di milist. Bahan sudah cukup banyak. Pertanyaannya, how to realise this business ? Merubah wacana menjadi real business. Apakah kita-kita yang sudah menjelang pensiun ini bisa sukses menyambung hidup dengan usaha sendiri. Menjalankan bisnis atau memiliki bisnis ?
Menjalankan bisnis dan memiliki bisnis adalah dua hal yg berbeda. Menjalankan bisnis setelah pensiun (konsep pensiunnya juga perlu disepakati. Pensiun sebagai pekerja atau benar-benar bebas kerja karena financial freedom) bukan hal yg mudah. Apalagi jika pengalaman menjalankan bisnis minim. Benar, kita sudah kerja 30th. Tapikan sebagai pekerja. Bukan sebagai pebisnis. Pengalaman bisnis mungkin blom ada. (Teman-teman yg selama ini berkecimpung di sektor swasta mungkin lebih banyak instink bisnis dan juga pengalaman).
Dua hal saya ingin coba korelasikan, yaitu antara siklus kerja dengan cashflow quadrant (Robert T Kiyosaki). Ada yg membagi siklus kerja jadi 4 quarter (Qt), seperempatan. Perempat pertama Qt-1: usia 25-35 tahun; Perempat kedua Qt-2: lebih dari 35-45 tahun; Perempat ketiga Qt-3: lebih dari 45-55 tahun ;Perempat terakhir Qt-4: lebih dari 55-65 tahun. Banyak orang dipensiunkan di usia 56 tahun. Ada sebagian kecil yang pensiun umur 65 tahun. Benar kata Rustam, kita sudah hampir memasuki Qt-4. Kebanyakan dari kita juga akan dipensiunkan di umur 56th. Masalahnya, dimana posisi kita dalam cashflow quadrant?
RTK membagi sumber penghasilan menjadi 4 quadrant (Qd), yg agak beda dengan cara quarter siklus pekerja didefinisikan. RTK membaginya atas dasar curahan waktu dan uang (dua sumberdaya yang jadi tujuan banyak orang, dimana konsep kaya diperkenalkan. Orang kaya = orang yang banyak punya uang dan juga waktu. Punya uang tapi gak punya waktu, itu bukan orang kaya. Apalagi gak punya uang gak punya waktu). Pertama, Qd-1: pekerja, kita bekerja untuk orang lain, apakah private atau publik dan mendapat upah. Kedua, Qd-2: kita bekerja utk diri sendiri, self-employee. Kita punya penghasilan kalo kita menjalankan usaha ini. Artinya, income merupakan fungsi waktu. Profesional job katanya masuk Qd-2. Ketiga, Qd-3: pemilik bisnis, business-owner. Kita yg memiliki dan mengendalikan bisnis. Waktu dan uang bisa pake OPT (Other people time)/OPM (Other people money). Pd Qd-3 ini semboyannya, adalah bagaiman bisnisnya tetap jalan, walaupun pemiliknya jalan-jalan. Terakhir, Qd-4: investor, yg menanam uangnya (sumberdaya lain) pada “proyek” yg luar biasa menguntungkan. Kata RTK, investasi yang potensial ada di bisnis, property dan asset-paper. Investasi juga tetap harus hati2, karena pastinya uang keluar saat ini dan nilainya pasti, sementara penghasilannya di masa mendatang dan tidak pasti.
Pertanyaannya apakah kalo kita sudah Qt-3 atau Qt-4 bisa berhasil di Qd-3 ? Atawa apakah selalu harus dimulai dari Qd-1 saat kita berada di Qt-1 ? Jika kita berada di Qt-1, bisakah langsung ke Qd-2, Qd-3 atau Qd4 ?
20 Jan
Sekilas tentang Prodi MM-Uhamka
Informasi singkat tentang Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka) dapat dilihat pada http://mmuhamka.wordpress.com. Informasi lebih detil dapat menghubungi saya di Kampus Matraman, Telp. 021-819-8528 atau 021-819-8529.
Visi-Misi dan Mata Kuliah
Pendaftaran dan Biaya Kuliah
15 Jan
Alhamdulillah, Rumah Bapak Selesai…
Sejak Ibu (mertua) meninggal 2 Agustus 2009, kami semua prihatin dengan rumah Bapak (mertua) yang udah bangunannya banyak yang rapuh. Maklum sudah lama banget dibangunnya. Juga tata-letak yang terlalu banyak “depan-nya”. Dapur dan kamar mandinya besar dan gak karuan. Kamar tidur masih ada 5, kamar mandi ada 3. Padahal, sekarang Bapak tinggal berdua dengan adik yang terkecil. Dulu sih iya.. setidaknya ada 5 atau enam orang yang tinggal.
Dalam kesempatan kumpul-kumpul ada terlontar ide untuk “memperkecil” rumah Bapak. Mengingat, tanah-tanah Bapak sebenarnya sudah dialokasikan untuk anak-anaknya. Yang jadi soal adalah dana untuk penataan sumbernya dari mana ? Waktu itu Bapak mengatakan bahwa beliau bersedia “mengeluarkan” 130 meter persegi untuk menata rumahnya.
Sebagai gambaran waktu itu nilai transaksi di sekitar baru 1200rb/meter persegi. Ada penawaran di jalan utama, sejajar dgn rumah Bapak, sekitar satu setengah (Rp. 1,5juta/m2), tapi belom terjadi transaksi.
Setelah dihitung-hitung dgn segala macam biaya, Bapak setuju nilai bersihnya Rp.130 juta. Uangnya, sudah deal. Tersedia. Yang jadi soal kemudian, siapa yang akan menangani proses renovasi besar ini. Kan perlu dirancang agar uang tersedia, cukup. Bahkan pesan Bapak kalau bisa masih ada tersisa untuk biaya surat-surat dan kamar untuk dikontrakkan. Bener juga sih, masak rumahnya bagus, tiap hari pusing karena nggak ada pendapatan.
Isteri saya anak kedua, yang kemudian jadi yang tertua karena Abangnya sudah meninggal. Anak ketiga Bapak, laki-laki, tidak sanggup mengelola uang ini menjadi bangunan. Dengan niat terbaik, saya mensupport isteri saya untuk mewujudkan keinginan Bapak. Sedikit-banyak ada juga pengalaman mengelola konstruksi untuk rumah-rumah sederhana. Dengan prinsip memanfaatkan bahan-bahan yang masih layak, genteng dan kayu, mulailah disusun persiapan. Bahan-bahan deal dengan Lukman di Toko Material KKS. Tenaga didatangkan dari Cirebon.
Seminggu setelah Idul Fitri datang dua orang tenaga dari Cirebon tadi. Anak beranak, Iman dan Pak Naming. Saya diskusikan rencana dan prinsip dalam membangun tadi. Gunakan material yang masih layak. Setelah rancangan disepakati, upah juga disepakati dengan sistem harian, mulailah digali fondasi untuk ruang-ruang yang baru. Sementara pembongkaran dilakukan secara bertahap.
Sungguh mudah sekali proses ini. Saya tidak perlu setiap saat melakukan pengawasan. Material tinggal ambil di toko material. Kami sudah saling percaya satu dengan lainnya. Alhamdulillah, 13 minggu proses ini selesai. Rumah tinggal dengan 2 kamar tidur (untuk Bapak dan Dede, masing-masing), kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu dan beranda. Kurang lebih 100 meter persegi luasnya (saya males ngitung, tapi yang pasti keramiknya habis 100 m2). Di bagian belakang ada gudang dan rumah pompa yang di atasnya ada 2 tanki air. Sementara itu, satu pintu kontrakan berukuran 3 x 9 meter juga sudah siap (cuma 2 hari setelah selesai, langsung tersewa bulanan Rp. 500 rb per bulan).
Untuk semua proses renovasi ini, dibutuhkan dana sekitar 110 juta Rupiah (termasuk biaya menyambung aliran listrik yang prosesnya ternyata butuh waktu sebulanan). Ini sudah saya laporkan secara tertulis dan juga dalam kumpul-kumpul keluarga di rumah Bapak.







Jemaah datang dari sekitar Kukusan, Beji, Pondok Cina. Ada juga yang datang dari Sukmajaya dan Pancoran Mas. Bahkan dari Ciganjur-Jagakarsa. Umumnya, mereka adalah warga Muhammadiyah atau yang bersimpati pada gerakan Muhammadiyah. Jumlah jemaah yang hadir setiap Ahad pagi relatif konsisten. Seperti biasa, jemaah Ibu-ibu selalu lebih banyak dibanding jemaah Bapak-bapak.
Nara sumber adalah para da’i dan tokoh Muhammadiyah di tingkat pusat, baik yang ada di jakarta, ataupun tidak jarang langsung datang dari Yogya. Ini semua berkat jaringan silaturahmi yang intens Pak Djamal dengan para tokoh dan nara sumber. Dari UHAMKA (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka) ada dua tokoh penting yang selalu jadi nara sumber yaitu Prof. Dr. Qomari Anwar MA, mantan Rekor Uhamka dua periode berturut-turut dan Dr. Abd. Fatah Wibisono, MA yg masih menjabat sebagai Wakil Rektor-III Uhamka. Ada juga dari STIE Ahmad Dahlan dan dari UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Tentu, mereka semua atas kapasitas pribadi selaku warga Muhammadiyah.

Komentar Terakhir